Teori klasik menyebutkan pedagang keturunan Arab yang membawa Islam ke Nusantara. Versi lain menyebut justru pedagang Tionghoa yang menyebarkan Islam
Beberapa teori menyangkut hadirnya Islam di Kepulauan Nusantara dikemukakan para pakar sejarah. Ada dua teori klasik yang utama ihwal penyebaran Islam di Nusantara. Pertama, dikemukakan oleh Niemann dan de Holander yang menyebutkan kalau Islam dibawa oleh pedagang Timur Tengah. Kedua, adalah teori pedagang Gujarat yang diusung oleh Pijnapel dan kemudian diteliti lanjut oleh Snouck Hurgronje, Vlekke, dan Schrieke.
Agaknya teori-teori klasik itu menyandarkan validitasnya pada laporan perjalanan yang ditulis Marcopolo yang menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi, yang ketika singgah di Aceh tahun 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi′i.
Adapun peninggalan tertua kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satunya adalah makam Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis tahun 475 H/1082 M, yaitu zaman Singasari. Diperkirakan makam ini bukan penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
M.C. Ricklefs memiliki serangkaian intepretasi yang meragukan kesahihan teori klasik itu. Semisal dalam kasus batu nisan di Gresik ia menyebut tentang kemungkinan batu nisan itu hanya pemberat kapal atau mungkin batu nisan yang dipindahkan setelah muslimah itu meninggal. Dan batu itu tidak memberikan kejelasan apa-apa mengenai mapannya agama Islam di tengah-tengah penduduk Indonesia.
Sampai dengan awal abad ke-14 M, Islamisasi secara besar-besaran belum terjadi di Nusantara. Baru pada pertengahan abad ke-14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti.
Kekuatan politik itu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, dan Ternate. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu/Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Sunda.
Menarik juga mengamati kisah-kisah pengislaman Nusantara yang dapat ditemui dalam historiografi tradisional. Hikayat Raja-Raja Pasai menceritakan bagaimana Islam masuk ke Samudra dan juga tentang batu nisan Malik as-Salih bertarikh 1297 M.
Dalam hikayat ini diceritakan tentang Khalifah Mekah yang mendengar adanya Samudra dan memutuskan mengirimkan sebuah kapal ke sana memenuhi ramalan Nabi Muhammad bahwa suatu saat akan ada sebuah kota besar di timur yang bernama Samudra, yang akan menghasilkan banyak orang suci. Hikayat itu dipenuhi cerita tentang proses penganutan Islam oleh raja Samudra: Marah Silau (atau Silu), bermimpi bahwa Nabi menampakkan diri padanya dan sekonyong meludah ke dalam mulutnya untuk mengalihkan pengetahuan Islam serta sekaligus menggelarinya Sultan Malik as-Salih.
Cerita yang kurang lebih sama juga ditemui dalam Sejarah Melayu. Historiografi ini mengisahkan tentang pengislaman Raja Malaka. Sebagaimana Malik as-Salih yang bertemu Nabi di dalam mimpinya, demikian pula dengan Raja Malaka. Dalam pada itu, Nabi mengajarkan kepadanya cara mengucapkan dua kalimat syahadat.
Hal yang unik justru terjadi pada kitab Babad Tanah Jawi. Jika dalam dua naskah Melayu di atas Islamisasi selalu ditandai dengan adanya simbol-simbol formal dari perubahan agama seperti mengucapkan dua kalimat syahadat dan penggunaan nama Arab maka cerita pengislaman Jawa yang dituturkan melalui Babad Tanah Jawi memberikan kesan suatu proses asimilasi yang sedang berlangsung di Jawa.
Naskah Babad Tanah Jawi menuturkan tentang Islamisasi tanah Jawa yang dilakukan oleh sembilan wali (wali sanga). Di sini pengislaman secara formal tak tampak, namun garis genealogis yang mengacu pada Arab (baca: Timur Tengah) tetap menjadi alur utama kisah di dalamnya.
Dari keseluruhan historiografi tradisional ada satu benang merah yang saling menghubungkan perihal penyebaran agama Islam di Nusantara: berasal dari Arab. Besar kemungkinan hal ini dilakukan agar ada semacam legitimasi ideologis bagi agama Islam untuk masuk ke Nusantara. Di lain pihak, hal ini juga menimbulkan bias bahwa seakan-akan Islam akan lebih sahih jika dibawa dari Arab, bukan dari wilayah lainnya.
Kembali kepada persoalan diskursus teori klasik kedatangan Islam, amat dimungkinkan jika teoritisi sejarah Islam juga melihat kenyataan yang dicatat di dalam naskah-naskah kuno itu sebagai dasar menjadikan pedagang Timur Tengah sebagai pembawa Islam ke Nusantara.
Juga perlu dicatat kiranya tentang dua dokumen lain yang bisa menghantarkan pada substansi Islamisasi di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa. Kedua naskah itu berisi tentang ajaran-ajaran Islam seperti yang diberikan di Jawa pada abad XVI. Salah satu naskah yang berisi tentang pertimbangan-pertimbangan terhadap hal-hal yang diperdebatkan, kemudian naskah dinisbahkan oleh G.W.J. Drewes kepada seorang ulama yang bernama Syekh Bari.
Naskah kedua berisi tentang primbon yang berisi tuntunan menjalankan agama Islam yang dibuat beberapa murid ulama terkenal. Kedua naskah itu bersifat ortodoks dan mistik, sekaligus mencerminkan mistisisme Islam dan tasawuf yang berkembang saat itu. Dan kelak Islam di Indonesia dipenuhi bid’ah dan khurafat yang pada masa selanjutnya mendorong munculnya gerakan pembaharuan sepanjang abad XIX dan XX.
Dalam historiografi Indonesia, teori klasik penyebaran Islam menjadi satu monoversi yang sulit dibantah. Hal itu bercampur aduk dengan bias politik kekuasaan Orde Baru yang mengintervensi penulisan sejarah. Semisal, kasus pelarangan buku Slamet Muljana yang pernah mengajukan versi bahwa Tionghoa adalah penyebar Islam.
Menurut Muljana, Islam Nusantara, dan di Jawa khususnya, bukanlah Islam “murni” dari Arab, melainkan Islam campuran yang memiliki banyak varian. Dalam bukunya, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara Muljana menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tak lain dari Gan Si Cang. Sedangkan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, menurut Muljana, adalah Toh A Bo, putra dari Tung Ka Lo, alias Sultan Trenggana.
Pelarangan versi Slamet Muljana oleh pemerintah Orde Baru didasari pengkaitan Cina dalam peristiwa Gestok 1965. Semua hal yang berbau Tionghoa dilarang saat itu, sehingga “haram” hukumnya mengaitkan Tionghoa ke dalam sejarah Islam Nusantara.
Sumanto Al Qurtuby dalam bukunya Arus Cina Islam Jawa juga menggugat teori klasik penyebaran Islam. Sumanto menemukan fakta bahwa nama tokoh yang menjadi agen sejarah Islam merupakan transliterasi dari nama Cina ke nama Jawa. Semisal dalam nama Bong Ping Nang misalnya, kemudian terkenal dengan nama Bonang.
Raden Fatah yang punya julukan pangeran Jin Bun, dalam bahasa Cina berarti “yang gagah”. Raden Sahid (nama lain Sunan Kalijaga) berasal dari kata “sa-it” (sa = 3, dan it = 1; maksudnya 31) sebagai peringatan waktu kelahirannya di masa ayahnya berusia 31 tahun. Tentu buku yang ditulis Sumanto tidak dilarang, karena buku ini terbit setelah Orde Baru tumbang. Namun sejauh mana masyarakat menerima versi ini, belum kelihatan secara jelas.(*)
historia.id
Seruan Jihad 22 Oktober 1945 dilakukan oleh PBNU yang waktu itu kantornya masih ada di Surabaya. Tokoh utama dari seruan ini tak lain adalah KH Hasyim Asy’ari. Jadi seruan itu sekupnya masih seputaran Jawa dan Madura yang intinya satu yakni umat Islam pada radius sekitar 90 km punya kewajiban ‘ain untuk melawan penjajah. Dan disitu disebutkan tidak hanya laki-laki, tetapi semua yang hidup baik laki-laki, perempuan, tua muda dan anak-anak.
Mengapa seruan jihad itu muncul? Karena tiba-tiba pasukan Belanda membonceng sekutu. Sebenarnya sekutu ke Indonesia bukan untuk urusan menjajah tetapi untuk urusan penyelesaian perang dengan Jepang, karena setelah tanggal 15 Agustus, Jepang sudah mnyerah dan artinya perang dunia telah selesai.
Cuman pintarnya Belanda, karena wajahnya sama, sama-sama berwajah eropa ikut datang ke Surabaya. Menurut cerita orang di Surabaya, orang Surabaya tidak bisa membedakan mana sekutu dan mana belanda, pokoke semua londo, ono londo amerika, londo inggris, pokoe semuanya Belanda. Dan ternyata belanda lebih tau jalan, karena Belanda lebih lama di Indonesia.
Di tengah kekacauan yang tidak jelas itu, saya waktu melakukan penelitian Resolusi Jihad bertanya-tanya. Setidaknya ada tiga pertanyaan mendasar. Kira-kira pada waktu itu, dalam tempo dua hari, kok bisa orang-orang berkumpul padahal waktu itu belum ada sms. Jadi yang dipertanyakan, kok bisa dua hari semua bisa kumpul di Surabaya, itu smsnya apa? Itu Sampai hari ini gak ada yang bisa jawab, sementara untuk urusan pengajian ahad wage-nan seperti ini, kita ini di sms-nya udah dari setengah bulan, itu aja kadang datangnya telat. Itu yang pertama.
Kedua yang sempat menjadi pertanyaan penelitian adalah seberapa kuat pengaruh PBNU waktu itu, sehingga ketika mau keluarkan seruan jihad. Bukan seruan shodaqoh tapi seruan mati. Seruan mati kenapa? Karena tentara sendiri sudah takut. Mereka ini sudah dididik oleh Jepang menggunakan senjata. Mereka tahu, Jepang saja senjatanya kalah.. Makanya para tentara ini sudah tahu pasti akan kalah kalau lawan sekutu. Seberapa kuat pengaruh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari waktu itu sehingga seruan perang dalam situasi yang sangat tidak mungkin kok bisa dipatuhi oleh semua orang dan mampu menggerakan semangat perang di Surabaya?
Ketiga adalah penelitian tentang bagaimana ketika perang itu berbicara bangsa namanya Indonesia, sementara gagasan nasionalisme dan kebangsaan itu yang pertama kali mendorong ada di Indonesia adalah alumni-alumni sekolahan belanda. Alumni-alumni sekolahan belanda waktu di belanda itu mendapatkan pembelajaran membangun bangsa. Sehingga kemudian nalar kebangsaan itu muncul di Indonesia. Bagaimana asal muasalnya ini, orang kita ini (para santri-red) yang dari Maa tasyabbaha bii qaumin fahuwa minhum bahkan sampai sing mambu londo itu celana aja gak mau, pake sandal dari kayu gak mau, masih ndak mau pake tali, pake pentul satu. Tapi kenapa ketika berbicara tentang bangsa yang dikomandoi oleh alumni-alumni Sekolah Belanda tapi kok kemudian santri dengan serta merta menjadi pendukung dari gagasan kebangsaan yang dimunculkan oleh orang-orang yang dididik oleh Belanda? Tiga hal ini yang waktu itu menjadi sorotan pertanyaan.
Jawaban pertama, kenapa bisa dalam waktu yang singkat semuanya bisa berkumpul di Surabaya. Dari beberapa sumber semuanya mimpi sama, disuruh datang KH. Hasyim ke Surabaya. Smsnya itu ya mimpi. Dari beberapa saksi ini menjelaskan bahwa ada mimpi disuwun sama KH Hasyim datang ke Surabaya. Dan ketika mimpi KH Hasyim, tidak ada yang bertanya ini jelmaan setan apa ndak, gak ada yang nanya. Jadi ketika mimpi KH Hasyim, itu orang gak nanya ini Yai Hasyim asli apa palsu. Beda dengan kalo sampean tak kasih mimpi saya, wah ini muwafiq pantes gini gini niku mesti hehe.
Semua orang tau kalo Mbah Hasyim itu punya kebiasaan setiap malam tidak tidur, tapi sholat hajat dua rakaat. Rakaat pertama dengan membaca 41X surat at-Taubah setelah al-Fatihah dan rokaat kedua 41X Surat Al Kahfi. Makna dari Hadrotussyaikh adalah status bagi orang yang mampu menguasai kutubussittah dan ilmu rijalul hadits. Orang Indonesia ada dua yang satu perempuan namanya Syaikhoh Fatimah al-Fadilah.
Mbah Hasyim ini dikenal sebagai orang yang pernah melakukan laku batin dan satu-satunya muridnya Syaikhona Kholil Bangkalan yang berhasil cuman Yai hasyim. Semua yang mondok di pondok bangkalan tau bahwa Kiai Hasyim itu gak pernah ngaji, tapi pinter. Jadi orang yang pernah nyantri bersama Mbah Hasyim di Bangkalan itu semuanya tau kalau mbah Hasyim itu tidak pernah ngaji, tapi pintar. Karena Mbah Kholil kalau Mbah Hasyim mau ngaji selalu Mbah Kholil ada alasan. “Syim, itu nyaimu kayaknya belum mandi, tulung timbakke,” setelah selesai nimba, Mbah Hasyim mau ngaji tapi Mbah Kholil cuma bilang wallahu a’alam bishowab. Itu semua tau cerita itu, nah terus kalo mbah hasyim mau ngaji “syim, nyaimu mau masak tapi gak punya kayu, tolong ambilin kayu” setelah selesai ngambil kayu, baru mau ngaji wallahu a’lam bisshowab. Semua orang itu percaya betul bahwa Mbah Hasyim itu mampu menguasai hal-hal yang tidak masuk akal, pernah tiga tahun dari hulu sungai brantas sampai hilir, itu mengkhatamkan al-Qur’an.
Kedua, adalah bagaimana seruan Resolusi Jihad ini bisa begitu berpengaruh menggerakkan sekian banyak orang, seberapa kuat jumlahnya pengaruh Mbah Hasyim? Ya itu tadi, salah satunya ya ada dipoint yang pertama tadi. Mbah Hasyim Asy’ari orang yang sangat kuat powernya waktu itu. Powernya sangat kuat dari sisi laki-laki dan sisi perempuan kuatnya luar biasa. Mbah Hasyim orang yang punya power yang sangat kuat, tapi yang keangkat (ngangkat) kealimannya, dan beberapa guru beliau malah belajar hadist kepada beliau. Jadi Mbah Hasyim ini punya pengaruh yang sangat kuat. Setiap saya tanya bagaimana pengaruh Mbah Hasyim waktu itu? orang melihat Mbah Hasyim aja gak ada yang berani.
Diceritakan zaman segitu, Mbah Hasyim kalau sudah berjalan, orang gak ada yang berani ngomong, gak ada yang berani, dan Mbah Hasyim punya penderek yang memang sangat ditakuti orang namanya Mbah Rosyidi.
*Ini merupakan transkrip ceramah Gus Muwafiq di Acara Majelis Ahad Wage PWNU DIY, Ahad, 5 November 2017.
Mengapa seruan jihad itu muncul? Karena tiba-tiba pasukan Belanda membonceng sekutu. Sebenarnya sekutu ke Indonesia bukan untuk urusan menjajah tetapi untuk urusan penyelesaian perang dengan Jepang, karena setelah tanggal 15 Agustus, Jepang sudah mnyerah dan artinya perang dunia telah selesai.
Cuman pintarnya Belanda, karena wajahnya sama, sama-sama berwajah eropa ikut datang ke Surabaya. Menurut cerita orang di Surabaya, orang Surabaya tidak bisa membedakan mana sekutu dan mana belanda, pokoke semua londo, ono londo amerika, londo inggris, pokoe semuanya Belanda. Dan ternyata belanda lebih tau jalan, karena Belanda lebih lama di Indonesia.
Di tengah kekacauan yang tidak jelas itu, saya waktu melakukan penelitian Resolusi Jihad bertanya-tanya. Setidaknya ada tiga pertanyaan mendasar. Kira-kira pada waktu itu, dalam tempo dua hari, kok bisa orang-orang berkumpul padahal waktu itu belum ada sms. Jadi yang dipertanyakan, kok bisa dua hari semua bisa kumpul di Surabaya, itu smsnya apa? Itu Sampai hari ini gak ada yang bisa jawab, sementara untuk urusan pengajian ahad wage-nan seperti ini, kita ini di sms-nya udah dari setengah bulan, itu aja kadang datangnya telat. Itu yang pertama.
Kedua yang sempat menjadi pertanyaan penelitian adalah seberapa kuat pengaruh PBNU waktu itu, sehingga ketika mau keluarkan seruan jihad. Bukan seruan shodaqoh tapi seruan mati. Seruan mati kenapa? Karena tentara sendiri sudah takut. Mereka ini sudah dididik oleh Jepang menggunakan senjata. Mereka tahu, Jepang saja senjatanya kalah.. Makanya para tentara ini sudah tahu pasti akan kalah kalau lawan sekutu. Seberapa kuat pengaruh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari waktu itu sehingga seruan perang dalam situasi yang sangat tidak mungkin kok bisa dipatuhi oleh semua orang dan mampu menggerakan semangat perang di Surabaya?
Ketiga adalah penelitian tentang bagaimana ketika perang itu berbicara bangsa namanya Indonesia, sementara gagasan nasionalisme dan kebangsaan itu yang pertama kali mendorong ada di Indonesia adalah alumni-alumni sekolahan belanda. Alumni-alumni sekolahan belanda waktu di belanda itu mendapatkan pembelajaran membangun bangsa. Sehingga kemudian nalar kebangsaan itu muncul di Indonesia. Bagaimana asal muasalnya ini, orang kita ini (para santri-red) yang dari Maa tasyabbaha bii qaumin fahuwa minhum bahkan sampai sing mambu londo itu celana aja gak mau, pake sandal dari kayu gak mau, masih ndak mau pake tali, pake pentul satu. Tapi kenapa ketika berbicara tentang bangsa yang dikomandoi oleh alumni-alumni Sekolah Belanda tapi kok kemudian santri dengan serta merta menjadi pendukung dari gagasan kebangsaan yang dimunculkan oleh orang-orang yang dididik oleh Belanda? Tiga hal ini yang waktu itu menjadi sorotan pertanyaan.
Jawaban pertama, kenapa bisa dalam waktu yang singkat semuanya bisa berkumpul di Surabaya. Dari beberapa sumber semuanya mimpi sama, disuruh datang KH. Hasyim ke Surabaya. Smsnya itu ya mimpi. Dari beberapa saksi ini menjelaskan bahwa ada mimpi disuwun sama KH Hasyim datang ke Surabaya. Dan ketika mimpi KH Hasyim, tidak ada yang bertanya ini jelmaan setan apa ndak, gak ada yang nanya. Jadi ketika mimpi KH Hasyim, itu orang gak nanya ini Yai Hasyim asli apa palsu. Beda dengan kalo sampean tak kasih mimpi saya, wah ini muwafiq pantes gini gini niku mesti hehe.
Semua orang tau kalo Mbah Hasyim itu punya kebiasaan setiap malam tidak tidur, tapi sholat hajat dua rakaat. Rakaat pertama dengan membaca 41X surat at-Taubah setelah al-Fatihah dan rokaat kedua 41X Surat Al Kahfi. Makna dari Hadrotussyaikh adalah status bagi orang yang mampu menguasai kutubussittah dan ilmu rijalul hadits. Orang Indonesia ada dua yang satu perempuan namanya Syaikhoh Fatimah al-Fadilah.
Mbah Hasyim ini dikenal sebagai orang yang pernah melakukan laku batin dan satu-satunya muridnya Syaikhona Kholil Bangkalan yang berhasil cuman Yai hasyim. Semua yang mondok di pondok bangkalan tau bahwa Kiai Hasyim itu gak pernah ngaji, tapi pinter. Jadi orang yang pernah nyantri bersama Mbah Hasyim di Bangkalan itu semuanya tau kalau mbah Hasyim itu tidak pernah ngaji, tapi pintar. Karena Mbah Kholil kalau Mbah Hasyim mau ngaji selalu Mbah Kholil ada alasan. “Syim, itu nyaimu kayaknya belum mandi, tulung timbakke,” setelah selesai nimba, Mbah Hasyim mau ngaji tapi Mbah Kholil cuma bilang wallahu a’alam bishowab. Itu semua tau cerita itu, nah terus kalo mbah hasyim mau ngaji “syim, nyaimu mau masak tapi gak punya kayu, tolong ambilin kayu” setelah selesai ngambil kayu, baru mau ngaji wallahu a’lam bisshowab. Semua orang itu percaya betul bahwa Mbah Hasyim itu mampu menguasai hal-hal yang tidak masuk akal, pernah tiga tahun dari hulu sungai brantas sampai hilir, itu mengkhatamkan al-Qur’an.
Kedua, adalah bagaimana seruan Resolusi Jihad ini bisa begitu berpengaruh menggerakkan sekian banyak orang, seberapa kuat jumlahnya pengaruh Mbah Hasyim? Ya itu tadi, salah satunya ya ada dipoint yang pertama tadi. Mbah Hasyim Asy’ari orang yang sangat kuat powernya waktu itu. Powernya sangat kuat dari sisi laki-laki dan sisi perempuan kuatnya luar biasa. Mbah Hasyim orang yang punya power yang sangat kuat, tapi yang keangkat (ngangkat) kealimannya, dan beberapa guru beliau malah belajar hadist kepada beliau. Jadi Mbah Hasyim ini punya pengaruh yang sangat kuat. Setiap saya tanya bagaimana pengaruh Mbah Hasyim waktu itu? orang melihat Mbah Hasyim aja gak ada yang berani.
Diceritakan zaman segitu, Mbah Hasyim kalau sudah berjalan, orang gak ada yang berani ngomong, gak ada yang berani, dan Mbah Hasyim punya penderek yang memang sangat ditakuti orang namanya Mbah Rosyidi.
*Ini merupakan transkrip ceramah Gus Muwafiq di Acara Majelis Ahad Wage PWNU DIY, Ahad, 5 November 2017.
Penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara ditandai dengan berdirinya kesultanan Islam di kawasan ini. Sejarah perkembangan kesultanan Islam di Asia Tenggara tidak lepas dari kepentingan perdagangan dan syiar agama yang dibawa oleh para saudagar dan ulama muslim dari Asia Barat, sejak abad ke 13 Masehi.
Jejak-jejak Islam di Asia Tenggara diawali pada abad ke-13. Islam menyebar ke berbagai wilayah di Asia Tenggara tidak secara bersamaan tetapi melalui rangkaian sejarah yang panjang. Kala itu Kerajaan-kerajaan dan wilayah ini berada dalam situasi politik dan kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Namun masuknya Islam memberi pengaruh yang sangat besar, bahkan hingga hari ini.
> ABAD KE 13 MASEHI
Kesultanan Samudera Pasai
Berdirilah Kesultanan Samudera Pasai, kesultanan Islam pertama di Nusantara yang berlangsung pada abad ke 13-15. Terletak di Aceh Utara, sebagai jalur laut dan perdagangan yang strategis di kawasan Nusantara.
Para pedagang muslim asal Arab, Cina dan India memasuki daerah ini untuk berdagang dan menyebar-kan Islam. Kesultanan Samudera Pasai mendapat sumber penghasil-an yang besar dari pajak bandara laut dan perdagangan. Namun pada 1521 Masehi, ditaklukkan Portugis.
Jejak Kesultanan Samudera Pasai dapat diketahui antara lain dengan ditemukannya uang dirham emas dengan tulisan nama salah satu Sultan yang memerintah kala itu.
Kesultanan Sulu
Pada 1380 M, Karim ul-Makdum seorang ulama keturunan Arab, menyebarkan Islam di Kepulauan Sulu. Dilanjutkan Raja Bagindo dari Minangkabau pada 1390, menyebarkan Islam di wilayah ini. Raja Bagindo telah mengislamkan masyarakat Sulu sampai ke Pulau Sibutu.
Sekitar 1450 M, seorang Arab dari Johor, Sharif ul-Hashim Syed Abu Bakr tiba di Sulu menikahi Paramisuli, putri Raja Bagindo. Setelah Raja tiada, Abu Bakr melanjutkan dakwah di wilayah ini.
Pada 1457, ia memgumumkan berdirinya Kesultanan Sulu dengan gelar Paduka Maulana Mahasari Sharif Sultan Hashim Abu Bakr. Gelar 'Paduka', gelar lokal yang berarti tuan sedangkan Mahasari berarti Yang Dipertuan. Pada 1703, Kesultanan Brunei menghadiahkan Kesultanan Sulu wilayah bagian timur Sabah sebagai balas jasa atas bantuan mereka menumpas pemberontak di Brunei.
Kala itu, Kesultanan Sulu menghadiahkan Pulau Palawan kepada Sultan Qudarat dari Kesultanan Maguindanao sebagai hadiah perkawinan Sultan Qudarat dengan puteri Sulu dan juga sebagai hadiah persekutuan Maguindanao dengan Sulu. Namun kemudian, Sultan Qudarat menyerahkan Palawan kepada Spanyol.
> ABAD KE 14 MASEHI
Kesultanan Malaka
Letak Kesultanan ini berada di Semenanjung Malaka. Islam di Malaka berasal dari Kesultanan Samudera Pasai. Pendiri Kesultan-an Malaka adalah Paramesywara, seorang pangeran dari Sriwijaya. Ia menikahi putri Sultan Samudera Pasai dan masuk Islam. Kesultanan ini mencapai kejayaan di era Sultan Muzaffar Syah, 1445-1459.
Portugis menaklukkan Malaka pada 1511 Masehi. Peninggalan Kesultanan Malaka berupa koin mata uang dari akhir abad ke-15 dan benteng A'Farmosa, sebagai bukti ditaklukkannya Malaka oleh pasukan Portugis.
Kesultanan Brunei Darussalam
Kesultanan Brunei Darussalam adalah kesultanan Islam yang ada di Kalimantan bagian utara. Awal masuknya Islam ke Brunei dibawa oleh saudagar asal Cina pada 977 Masehi. Setelah Raja Awang Alak Betatar masuk Islam, ia merubah kerajaan itu menjadi kesultanan (1406-1408). Kata 'Darussalam' disematkan pada kata 'Brunei' di abad ke-15 untuk menegaskan Islam sebagai agama negara.
Kesultanan ini menjadi pusat penyebaran Islam sekaligus perdagangan di wilayah Melayu kala Malaka jatuh ke tangan Portugis. Kesultanan Brunei Darussalam dikuasai Inggris pada 1888 M, dimasa Sultan Hasyim Jalilu Agera-maddin. Namun Inggris memberi kemerdekaan pada tahun 1983 M.
> ABAD KE 15 MASEHI
Kesultanan Islam Pattani
Kehadiran Islam di Pattani dimulai dari kedatangan mubalig dari Pasai Syekh Said, yang berhasil menyem-buhkan Raja Pattani bernama Phaya Tu Nakpa yang sedang sakit parah. Phaya Tu Nakpa (1486-1530 M) yang beragama Budha kemudian masuk Islam dan bergelar Sultan Ismail Syah.
Kesultanan Pattani mengalami kemajuan pesat setelah menjalin hubungan dagang dengan Malaka, dan menjadi pusat perdagangan dan bandar laut, terutama bagi pedagang dari Cina dan India. Kejayaan Pattani berakhir setelah dikalahkan Kerajaan Siam dari
Bangkok. Peninggalan Pattani berupa nisan kubur yang disebut
Batu Aceh sebagai simbol hubung-an dekat dengan Samudera Pasai.
Kesultanan Ternate
Kesultanan Islam terbesar Maluku berada di Ternate. Islam di daerah ini disebarkan oleh para ulama dan pedagang dari Pulau Jawa. Islam jadi agama kerajaan di era Sultan Zainal Abidin.
Kesultanan Ternate menjadi salah satu pusat penyebaran Islam dibagian timur Nusantara, mencapai kejayaannya di era pemerintahan Sultan Babullah. Dalam perdagang-an. Masa Kesultanan Ternate berakhir setelah ditaklukkan oleh VOC pada 1660. Peninggalannya, diantaranya Benteng Portugis dan istana di Ternate, Maluku Utara.
> ABAD KE 16 MASEHI
Kesultanan Aceh Darussalam
Kesultanan Aceh adalah kerajaan Islam yang berada di bagian utara Sumatera. Didirikan pada 1541 M oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Kesultanan Aceh menggantikan peran Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, terutama dalam perdagangan dan pelayaran yang telah dikuasai oleh Portugis.
Kejayaan Kesultanan Aceh terjadi di era Sultan Iskandar Muda, yang akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada 1912 M. Peninggalan sejarah Kesultanan Aceh antara lain Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh dan Cakra Donya, yaitu lonceng hadiah dari kaisar Cina.
Kesultanan Demak (1500 – 1550 Masehi)
Di Jawa, berdiri Kesultanan Demak,kesultanan Islam dipimpin Raden Fatah, bupati Majapahit di Bintoro. Mencapai puncak kejayaan saat di- pimpin oleh Sultan Trengono. Kesultanan Demak telah berhasil melebarkan kekuasaannya sampai ke luar Jawa, seperti Kesultanan Banjar, Kerajaan Kotawaringin, dan Kesultanan Kutai di Kalimantan. Namun terjadi kemunduran di era Sunan Prawoto karena beberapa wilayah terjadi pemberontakan.
Peninggalan Kesultanan Demak yang populer adalah Masjid Agung Demak. Ciri khas masjid ini adalah bangunannya ditopang empat tiang atau saka guru yang dibangun empat orang sunan dari sembilan wali (Wali Songo), yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.
Kesultanan Cirebon
Kerajaan Islam pertama di Jawa Barat, adalah Kesultanan Cirebon yang didirikan pada 1450 M, oleh Pangeran Walangsungsang. Tokoh yang berperan menjadikan Cirebon sebagai Kesultanan Islam adalah Syarif Hidayatullah.
Sepeninggalan Panembahan Girilaya 1650-1662M, Kesultanan Cirebon diwarisi kedua anaknya, terbagi menjadi dua Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman. Meski tak memiliki kekuasaan administratif, Kesultanan ini tetap bertahan hingga kini.
Kesultanan Banjar
Kesultanan Islam ini terletak di bagian selatan Kalimantan. Pada awalnya bernama Daha, sebuah kerajaan Hindu yang kemudian menjadi kesultanan Islam.
Berdiri pada 1595 M dengan raja pertama Sultan Suriansyah. Islam masuk ke wilayah Banjar pada 1470 Masehi, bersamaan dengan melemahnya Majapahit di Jawa. Penyebaran Islam secara meluas dilakukan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama yang menjadi Mufti Besar Kalimantan. Pada 1857-1859, Kesultanan ini mengalami kemunduran dengan munculnya pergolakan menentang pengangkatan Pangeran Tamjidillah sebagai sultan oleh Belanda.
Pada 1859-1905, terjadi Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Antasari (1809-1862) melawan Belanda, yang akhirnya Belanda menghapuskan Kesultanan Banjar pada 1860. Peninggalan sejarah Kesultanan Banjar dapat dilihat dari bangunan masjid di Desa Kuin, Banjar Barat (Banjarmasin) yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah.
Kesultanan Banten
Ini adalah kesultanan terbesar di Jawa Barat. Kesultanan Banten didirikan Sunan Gunung Jati pada tahun 1524 Masehi. Pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, Islam telah mengalami perkembangan pesat. Ditandai dengan berdirinya masjid dan pesantren.
Kesultanan Banten mencapai masa keemasannya di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1651 1683. Namun, mengalami kemunduran setelah terjadi perang melawan Belanda. Peninggalannya berupa Masjid Agung Banten, Menara Banten, Benteng Speelwijk, dan bekas Keraton Surosowan.
Kesultanan Buton
Kesultanan Buton adalah kerajaan Islam yang berada di Pulau Buton, Sulawesi tenggara. Kerajaan Buton menjadi kesultanan setelah Halu Oleo, raja ke-6, memeluk Islam. Penyebaran Islam secara meluas oleh syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Patani, seorang ulama dari Kesultanan Johor. Peninggalan sejarah Kesultanan Buton berupa Benteng Kraton dan Batupoaro, yaitu batu tempat mengasingkan diri bagi Syekh Abdul Wahid di akhir keberadaannya di Buton.
Kesultanan Goa
Kesultanan Goa terletak di sebelah selatan Pulau Sulawesi. Kerajaan Goa berubah menjadi kesultanan pada akhir abad ke-16, di masa pemerintahan Sultan Alauddin (1593-1639). Di era Sultan Hasanuddin terjadi perang Makassar melawan Belanda, yakni di tahun 1666-1669 M.
Kesultanan Goa dikuasai Belanda setelah dipaksa menyerah dan menandatangani Perjanjian Bongaya. Peninggalan Kesultanan Goa berupa kompleks makam Sultan Goa dan bekas rumah Sultan Goa terakhir di Makassar.
Kesultanan Johor
Kesultanan Johor berdiri setelah Kesultanan Malaka takluk oleh Portugis. Sultan Alauddin Riayat Syah membangun Kesultanan Johor pada sekitar tahun 1530-1536 Masehi.
Kejayaan kesultanan ini terjadi pada masa Sultan Abdul Jalil Riayat Syah II. Kesultanan Johor memperkuat dirinya dengan mengadakan aliansi bersama Kesultanan Riau sehingga disebut Kesultanan Johor-Riau, yang berakhir setelah Raja Haji wafat dan wilayah menjadi kekuasaan Belanda.
Kesultanan Kutai
Kesultanan Kutai berada disekitar Sungai Mahakam, Kalimantan bagian timur. Pada awalnya, Kutai adalah kerajaan yang dipengaruhi ajaran Hindu dan Budha. Islam berkembang di wilayah Kutai di era Aji Raja Mahkota pada 1525-1600 Masehi.
Penyebaran Islam dilakukan oleh seorang mubalig bernama Said Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar al-Warsak. Kesultanan ini mencapai kejayaannya pada masa Aji Sultan Muhammad Salehuddin (1780-1850). Namun, mengalami kemunduran setelah ia meninggal dunia. Peninggalannya berupa makam para sultan yang terletak di Kutai Lama, dekat Anggana.
Kesultanan Pajang Kesultanan Islam pertama dipedalaman Jawa adalah Kesultan-an Pajang, yang didirikan oleh Joko Tingkir pada 1546, setelah Sultan Trenggono (Demak) wafat. Joko Tingkir atau Sultan Adiwijaya membawa Islam dari wilayah pesisir menuju pedalaman Jawa.
Kesultanan ini berlangsung selama 45 tahun, namun ditaklukkan oleh Mataram pada 1618. Peninggalan Kesultanan Pajang berupa makam Pangeran Benowo.
Kesultanan Mataram
Kesultanan Mataram berdiri sejak 1582 Masehi, berawal dari wilayah Kesultanan Pajang, hadiah dari Sultan Adiwijaya kepada Kiai Ageng Pamanahan. Sultan I Mataram adalah Panembahan Senopati (1582-1601).
Puncak kekuasaan Kesultanan Mataram terjadi di era Sultan Agung (1613-1645). Selanjutnya melemah sejak terjadi perpecahan wilayah akibat Perjanjian Giyanti serta campur tangan Belanda. Pada akhirnya Kesultanan ini terbagi menjadi empat wilayah yaitu Kesultanan Yogyakarta, Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegara. Peninggalannya antara lain pintu gerbang Masjid Kotagede di Yogyakarta.
Kesultanan Palembang
Pada awalnya, Kesultanan Palembang termasuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Demak. Sultan pertama sekaligus pendiri Kesultanan ini adalah Ki Gendeng Suro (1539-1572).Pengetahuan dan keilmuan Islam berkembang pesat dengan hadirnya ulama Arab yang menetap di Palembang.
Kesultanan Palembang menjadi bandar transit dan ekspor lada karena letaknya yang strategis.Belanda kemudian menghapuskan Kesultanan Palembang setelah berhasil mengalahkan Sultan Mahmud Badaruddin. Salah satu peninggalan Palembang adalah Masjid Agung Palembang yang didirikan pada era kepemimpinan Sultan Abdur Rahman.
> ABAD KE 17 MASEHI
Kesultanan Bima Kesultanan Bima adalah kerajaan Islam yang berada di Sumbawa bagian timur. pada 1620 Kerajaan Bima berganti menjadi kesultanan Islam setelah rajanya, La Ka'i, memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Abdul Kahir.
Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin (1640-1682), Kesultanan Bima menjadi pusat penyebaran Islam kedua di timur Nusantara setelah Makassar.Kesultanan ini berakhir pada 1951, ketika Muhammad Salahuddin, sultan terakhir, wafat. Peninggalan Kesultanan Bima antara lain berupa kompleks istana yang dilengkapi dengan pintu lare-lare atau pintu gerbang kesultanan.
> ABAD KE 18 MASEHI
Kesultanan Siak Sri Indrapura
Kesultanan Melayu yang didirikan pada 1723 oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, dan penyebaran Islam di Sumatera Timur. Berpusat di Desa Buantan, kemudian pindah ke Siak Sir Indrapura, berada di sekitar 90 km ke timur laut Pekanbaru.
Wilayah kekuasaannya meliputi Siak Asli, Bukit Batu, Merbau, Tebing Tinggi, Bangko, Tanah Putih dan Pulau Bengkalis (Kabupaten Bengkalis); Tapung Kiri dan Tapung Kanan (Kampar); Pekanbaru; dan sekitar-nya. Istana bekas tempat tinggal dan pusat Kesultanan Siak Sri Indrapura sampai sekarang masih berdiri dengan megah di pinggir Sungai Siak dan merupa-kan salah satu objek pariwisata di daerah Riau. ruangan, selimut, tas, maupun pelana kuda.
Ketika kekhalifahan Islam meluaskan pengaruh hingga ke Persia, permadani pun turut memasuki 'wilayah' baru. Karpet-karpet tebal, dengan bulu halus dan corak menarik menjadi penghias utama Seniman masa itu memakai bulu domba, atau unta sebagai bahan utama permadani. Seiring waktu, kapas dan sutra menggantikannya hingga menghasilkan karya yang lebih kreatif dan indah.
Islam dikukuhkan di pusat-pusat kekuasaan di Nusantara melalui jalur perdagangan, perkawinan dengan elit birokrasi dan ekonomi, serta pengajaran kepada masyarakat. Pengaruh Islam telah jauh meluas ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, dan menyatu dengan budaya masyarakat setempat secara damai.
*Dirangkum kembali dari berbagai sumber oleh Erwin E Ananto
Jejak-jejak Islam di Asia Tenggara diawali pada abad ke-13. Islam menyebar ke berbagai wilayah di Asia Tenggara tidak secara bersamaan tetapi melalui rangkaian sejarah yang panjang. Kala itu Kerajaan-kerajaan dan wilayah ini berada dalam situasi politik dan kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Namun masuknya Islam memberi pengaruh yang sangat besar, bahkan hingga hari ini.
> ABAD KE 13 MASEHI
Kesultanan Samudera Pasai
Berdirilah Kesultanan Samudera Pasai, kesultanan Islam pertama di Nusantara yang berlangsung pada abad ke 13-15. Terletak di Aceh Utara, sebagai jalur laut dan perdagangan yang strategis di kawasan Nusantara.
Para pedagang muslim asal Arab, Cina dan India memasuki daerah ini untuk berdagang dan menyebar-kan Islam. Kesultanan Samudera Pasai mendapat sumber penghasil-an yang besar dari pajak bandara laut dan perdagangan. Namun pada 1521 Masehi, ditaklukkan Portugis.
Jejak Kesultanan Samudera Pasai dapat diketahui antara lain dengan ditemukannya uang dirham emas dengan tulisan nama salah satu Sultan yang memerintah kala itu.
Kesultanan Sulu
Pada 1380 M, Karim ul-Makdum seorang ulama keturunan Arab, menyebarkan Islam di Kepulauan Sulu. Dilanjutkan Raja Bagindo dari Minangkabau pada 1390, menyebarkan Islam di wilayah ini. Raja Bagindo telah mengislamkan masyarakat Sulu sampai ke Pulau Sibutu.
Sekitar 1450 M, seorang Arab dari Johor, Sharif ul-Hashim Syed Abu Bakr tiba di Sulu menikahi Paramisuli, putri Raja Bagindo. Setelah Raja tiada, Abu Bakr melanjutkan dakwah di wilayah ini.
Pada 1457, ia memgumumkan berdirinya Kesultanan Sulu dengan gelar Paduka Maulana Mahasari Sharif Sultan Hashim Abu Bakr. Gelar 'Paduka', gelar lokal yang berarti tuan sedangkan Mahasari berarti Yang Dipertuan. Pada 1703, Kesultanan Brunei menghadiahkan Kesultanan Sulu wilayah bagian timur Sabah sebagai balas jasa atas bantuan mereka menumpas pemberontak di Brunei.
Kala itu, Kesultanan Sulu menghadiahkan Pulau Palawan kepada Sultan Qudarat dari Kesultanan Maguindanao sebagai hadiah perkawinan Sultan Qudarat dengan puteri Sulu dan juga sebagai hadiah persekutuan Maguindanao dengan Sulu. Namun kemudian, Sultan Qudarat menyerahkan Palawan kepada Spanyol.
> ABAD KE 14 MASEHI
Kesultanan Malaka
Letak Kesultanan ini berada di Semenanjung Malaka. Islam di Malaka berasal dari Kesultanan Samudera Pasai. Pendiri Kesultan-an Malaka adalah Paramesywara, seorang pangeran dari Sriwijaya. Ia menikahi putri Sultan Samudera Pasai dan masuk Islam. Kesultanan ini mencapai kejayaan di era Sultan Muzaffar Syah, 1445-1459.
Portugis menaklukkan Malaka pada 1511 Masehi. Peninggalan Kesultanan Malaka berupa koin mata uang dari akhir abad ke-15 dan benteng A'Farmosa, sebagai bukti ditaklukkannya Malaka oleh pasukan Portugis.
Kesultanan Brunei Darussalam
Kesultanan Brunei Darussalam adalah kesultanan Islam yang ada di Kalimantan bagian utara. Awal masuknya Islam ke Brunei dibawa oleh saudagar asal Cina pada 977 Masehi. Setelah Raja Awang Alak Betatar masuk Islam, ia merubah kerajaan itu menjadi kesultanan (1406-1408). Kata 'Darussalam' disematkan pada kata 'Brunei' di abad ke-15 untuk menegaskan Islam sebagai agama negara.
Kesultanan ini menjadi pusat penyebaran Islam sekaligus perdagangan di wilayah Melayu kala Malaka jatuh ke tangan Portugis. Kesultanan Brunei Darussalam dikuasai Inggris pada 1888 M, dimasa Sultan Hasyim Jalilu Agera-maddin. Namun Inggris memberi kemerdekaan pada tahun 1983 M.
> ABAD KE 15 MASEHI
Kesultanan Islam Pattani
Kehadiran Islam di Pattani dimulai dari kedatangan mubalig dari Pasai Syekh Said, yang berhasil menyem-buhkan Raja Pattani bernama Phaya Tu Nakpa yang sedang sakit parah. Phaya Tu Nakpa (1486-1530 M) yang beragama Budha kemudian masuk Islam dan bergelar Sultan Ismail Syah.
Kesultanan Pattani mengalami kemajuan pesat setelah menjalin hubungan dagang dengan Malaka, dan menjadi pusat perdagangan dan bandar laut, terutama bagi pedagang dari Cina dan India. Kejayaan Pattani berakhir setelah dikalahkan Kerajaan Siam dari
Bangkok. Peninggalan Pattani berupa nisan kubur yang disebut
Batu Aceh sebagai simbol hubung-an dekat dengan Samudera Pasai.
Kesultanan Ternate
Kesultanan Islam terbesar Maluku berada di Ternate. Islam di daerah ini disebarkan oleh para ulama dan pedagang dari Pulau Jawa. Islam jadi agama kerajaan di era Sultan Zainal Abidin.
Kesultanan Ternate menjadi salah satu pusat penyebaran Islam dibagian timur Nusantara, mencapai kejayaannya di era pemerintahan Sultan Babullah. Dalam perdagang-an. Masa Kesultanan Ternate berakhir setelah ditaklukkan oleh VOC pada 1660. Peninggalannya, diantaranya Benteng Portugis dan istana di Ternate, Maluku Utara.
> ABAD KE 16 MASEHI
Kesultanan Aceh Darussalam
Kesultanan Aceh adalah kerajaan Islam yang berada di bagian utara Sumatera. Didirikan pada 1541 M oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Kesultanan Aceh menggantikan peran Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, terutama dalam perdagangan dan pelayaran yang telah dikuasai oleh Portugis.
Kejayaan Kesultanan Aceh terjadi di era Sultan Iskandar Muda, yang akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada 1912 M. Peninggalan sejarah Kesultanan Aceh antara lain Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh dan Cakra Donya, yaitu lonceng hadiah dari kaisar Cina.
Kesultanan Demak (1500 – 1550 Masehi)
Di Jawa, berdiri Kesultanan Demak,kesultanan Islam dipimpin Raden Fatah, bupati Majapahit di Bintoro. Mencapai puncak kejayaan saat di- pimpin oleh Sultan Trengono. Kesultanan Demak telah berhasil melebarkan kekuasaannya sampai ke luar Jawa, seperti Kesultanan Banjar, Kerajaan Kotawaringin, dan Kesultanan Kutai di Kalimantan. Namun terjadi kemunduran di era Sunan Prawoto karena beberapa wilayah terjadi pemberontakan.
Peninggalan Kesultanan Demak yang populer adalah Masjid Agung Demak. Ciri khas masjid ini adalah bangunannya ditopang empat tiang atau saka guru yang dibangun empat orang sunan dari sembilan wali (Wali Songo), yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.
Kesultanan Cirebon
Kerajaan Islam pertama di Jawa Barat, adalah Kesultanan Cirebon yang didirikan pada 1450 M, oleh Pangeran Walangsungsang. Tokoh yang berperan menjadikan Cirebon sebagai Kesultanan Islam adalah Syarif Hidayatullah.
Sepeninggalan Panembahan Girilaya 1650-1662M, Kesultanan Cirebon diwarisi kedua anaknya, terbagi menjadi dua Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman. Meski tak memiliki kekuasaan administratif, Kesultanan ini tetap bertahan hingga kini.
Kesultanan Banjar
Kesultanan Islam ini terletak di bagian selatan Kalimantan. Pada awalnya bernama Daha, sebuah kerajaan Hindu yang kemudian menjadi kesultanan Islam.
Berdiri pada 1595 M dengan raja pertama Sultan Suriansyah. Islam masuk ke wilayah Banjar pada 1470 Masehi, bersamaan dengan melemahnya Majapahit di Jawa. Penyebaran Islam secara meluas dilakukan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama yang menjadi Mufti Besar Kalimantan. Pada 1857-1859, Kesultanan ini mengalami kemunduran dengan munculnya pergolakan menentang pengangkatan Pangeran Tamjidillah sebagai sultan oleh Belanda.
Pada 1859-1905, terjadi Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Antasari (1809-1862) melawan Belanda, yang akhirnya Belanda menghapuskan Kesultanan Banjar pada 1860. Peninggalan sejarah Kesultanan Banjar dapat dilihat dari bangunan masjid di Desa Kuin, Banjar Barat (Banjarmasin) yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah.
Kesultanan Banten
Ini adalah kesultanan terbesar di Jawa Barat. Kesultanan Banten didirikan Sunan Gunung Jati pada tahun 1524 Masehi. Pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, Islam telah mengalami perkembangan pesat. Ditandai dengan berdirinya masjid dan pesantren.
Kesultanan Banten mencapai masa keemasannya di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1651 1683. Namun, mengalami kemunduran setelah terjadi perang melawan Belanda. Peninggalannya berupa Masjid Agung Banten, Menara Banten, Benteng Speelwijk, dan bekas Keraton Surosowan.
Kesultanan Buton
Kesultanan Buton adalah kerajaan Islam yang berada di Pulau Buton, Sulawesi tenggara. Kerajaan Buton menjadi kesultanan setelah Halu Oleo, raja ke-6, memeluk Islam. Penyebaran Islam secara meluas oleh syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Patani, seorang ulama dari Kesultanan Johor. Peninggalan sejarah Kesultanan Buton berupa Benteng Kraton dan Batupoaro, yaitu batu tempat mengasingkan diri bagi Syekh Abdul Wahid di akhir keberadaannya di Buton.
Kesultanan Goa
Kesultanan Goa terletak di sebelah selatan Pulau Sulawesi. Kerajaan Goa berubah menjadi kesultanan pada akhir abad ke-16, di masa pemerintahan Sultan Alauddin (1593-1639). Di era Sultan Hasanuddin terjadi perang Makassar melawan Belanda, yakni di tahun 1666-1669 M.
Kesultanan Goa dikuasai Belanda setelah dipaksa menyerah dan menandatangani Perjanjian Bongaya. Peninggalan Kesultanan Goa berupa kompleks makam Sultan Goa dan bekas rumah Sultan Goa terakhir di Makassar.
Kesultanan Johor
Kesultanan Johor berdiri setelah Kesultanan Malaka takluk oleh Portugis. Sultan Alauddin Riayat Syah membangun Kesultanan Johor pada sekitar tahun 1530-1536 Masehi.
Kejayaan kesultanan ini terjadi pada masa Sultan Abdul Jalil Riayat Syah II. Kesultanan Johor memperkuat dirinya dengan mengadakan aliansi bersama Kesultanan Riau sehingga disebut Kesultanan Johor-Riau, yang berakhir setelah Raja Haji wafat dan wilayah menjadi kekuasaan Belanda.
Kesultanan Kutai
Kesultanan Kutai berada disekitar Sungai Mahakam, Kalimantan bagian timur. Pada awalnya, Kutai adalah kerajaan yang dipengaruhi ajaran Hindu dan Budha. Islam berkembang di wilayah Kutai di era Aji Raja Mahkota pada 1525-1600 Masehi.
Penyebaran Islam dilakukan oleh seorang mubalig bernama Said Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar al-Warsak. Kesultanan ini mencapai kejayaannya pada masa Aji Sultan Muhammad Salehuddin (1780-1850). Namun, mengalami kemunduran setelah ia meninggal dunia. Peninggalannya berupa makam para sultan yang terletak di Kutai Lama, dekat Anggana.
Kesultanan Pajang Kesultanan Islam pertama dipedalaman Jawa adalah Kesultan-an Pajang, yang didirikan oleh Joko Tingkir pada 1546, setelah Sultan Trenggono (Demak) wafat. Joko Tingkir atau Sultan Adiwijaya membawa Islam dari wilayah pesisir menuju pedalaman Jawa.
Kesultanan ini berlangsung selama 45 tahun, namun ditaklukkan oleh Mataram pada 1618. Peninggalan Kesultanan Pajang berupa makam Pangeran Benowo.
Kesultanan Mataram
Kesultanan Mataram berdiri sejak 1582 Masehi, berawal dari wilayah Kesultanan Pajang, hadiah dari Sultan Adiwijaya kepada Kiai Ageng Pamanahan. Sultan I Mataram adalah Panembahan Senopati (1582-1601).
Puncak kekuasaan Kesultanan Mataram terjadi di era Sultan Agung (1613-1645). Selanjutnya melemah sejak terjadi perpecahan wilayah akibat Perjanjian Giyanti serta campur tangan Belanda. Pada akhirnya Kesultanan ini terbagi menjadi empat wilayah yaitu Kesultanan Yogyakarta, Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegara. Peninggalannya antara lain pintu gerbang Masjid Kotagede di Yogyakarta.Kesultanan Palembang
Pada awalnya, Kesultanan Palembang termasuk dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Demak. Sultan pertama sekaligus pendiri Kesultanan ini adalah Ki Gendeng Suro (1539-1572).Pengetahuan dan keilmuan Islam berkembang pesat dengan hadirnya ulama Arab yang menetap di Palembang.
Kesultanan Palembang menjadi bandar transit dan ekspor lada karena letaknya yang strategis.Belanda kemudian menghapuskan Kesultanan Palembang setelah berhasil mengalahkan Sultan Mahmud Badaruddin. Salah satu peninggalan Palembang adalah Masjid Agung Palembang yang didirikan pada era kepemimpinan Sultan Abdur Rahman.
> ABAD KE 17 MASEHI
Kesultanan Bima Kesultanan Bima adalah kerajaan Islam yang berada di Sumbawa bagian timur. pada 1620 Kerajaan Bima berganti menjadi kesultanan Islam setelah rajanya, La Ka'i, memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Abdul Kahir.
Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin (1640-1682), Kesultanan Bima menjadi pusat penyebaran Islam kedua di timur Nusantara setelah Makassar.Kesultanan ini berakhir pada 1951, ketika Muhammad Salahuddin, sultan terakhir, wafat. Peninggalan Kesultanan Bima antara lain berupa kompleks istana yang dilengkapi dengan pintu lare-lare atau pintu gerbang kesultanan.
> ABAD KE 18 MASEHI
Kesultanan Siak Sri Indrapura
Kesultanan Melayu yang didirikan pada 1723 oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, dan penyebaran Islam di Sumatera Timur. Berpusat di Desa Buantan, kemudian pindah ke Siak Sir Indrapura, berada di sekitar 90 km ke timur laut Pekanbaru.
Wilayah kekuasaannya meliputi Siak Asli, Bukit Batu, Merbau, Tebing Tinggi, Bangko, Tanah Putih dan Pulau Bengkalis (Kabupaten Bengkalis); Tapung Kiri dan Tapung Kanan (Kampar); Pekanbaru; dan sekitar-nya. Istana bekas tempat tinggal dan pusat Kesultanan Siak Sri Indrapura sampai sekarang masih berdiri dengan megah di pinggir Sungai Siak dan merupa-kan salah satu objek pariwisata di daerah Riau. ruangan, selimut, tas, maupun pelana kuda.
Ketika kekhalifahan Islam meluaskan pengaruh hingga ke Persia, permadani pun turut memasuki 'wilayah' baru. Karpet-karpet tebal, dengan bulu halus dan corak menarik menjadi penghias utama Seniman masa itu memakai bulu domba, atau unta sebagai bahan utama permadani. Seiring waktu, kapas dan sutra menggantikannya hingga menghasilkan karya yang lebih kreatif dan indah.
Islam dikukuhkan di pusat-pusat kekuasaan di Nusantara melalui jalur perdagangan, perkawinan dengan elit birokrasi dan ekonomi, serta pengajaran kepada masyarakat. Pengaruh Islam telah jauh meluas ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, dan menyatu dengan budaya masyarakat setempat secara damai.
*Dirangkum kembali dari berbagai sumber oleh Erwin E Ananto
Langganan:
Postingan (Atom)








