Teori klasik menyebutkan pedagang keturunan Arab yang membawa Islam ke Nusantara. Versi lain menyebut justru pedagang Tionghoa yang menyebarkan Islam
Beberapa teori menyangkut hadirnya Islam di Kepulauan Nusantara dikemukakan para pakar sejarah. Ada dua teori klasik yang utama ihwal penyebaran Islam di Nusantara. Pertama, dikemukakan oleh Niemann dan de Holander yang menyebutkan kalau Islam dibawa oleh pedagang Timur Tengah. Kedua, adalah teori pedagang Gujarat yang diusung oleh Pijnapel dan kemudian diteliti lanjut oleh Snouck Hurgronje, Vlekke, dan Schrieke.
Agaknya teori-teori klasik itu menyandarkan validitasnya pada laporan perjalanan yang ditulis Marcopolo yang menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi, yang ketika singgah di Aceh tahun 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi′i.
Adapun peninggalan tertua kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satunya adalah makam Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis tahun 475 H/1082 M, yaitu zaman Singasari. Diperkirakan makam ini bukan penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
M.C. Ricklefs memiliki serangkaian intepretasi yang meragukan kesahihan teori klasik itu. Semisal dalam kasus batu nisan di Gresik ia menyebut tentang kemungkinan batu nisan itu hanya pemberat kapal atau mungkin batu nisan yang dipindahkan setelah muslimah itu meninggal. Dan batu itu tidak memberikan kejelasan apa-apa mengenai mapannya agama Islam di tengah-tengah penduduk Indonesia.
Sampai dengan awal abad ke-14 M, Islamisasi secara besar-besaran belum terjadi di Nusantara. Baru pada pertengahan abad ke-14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti.
Kekuatan politik itu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, dan Ternate. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu/Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Sunda.
Menarik juga mengamati kisah-kisah pengislaman Nusantara yang dapat ditemui dalam historiografi tradisional. Hikayat Raja-Raja Pasai menceritakan bagaimana Islam masuk ke Samudra dan juga tentang batu nisan Malik as-Salih bertarikh 1297 M.
Dalam hikayat ini diceritakan tentang Khalifah Mekah yang mendengar adanya Samudra dan memutuskan mengirimkan sebuah kapal ke sana memenuhi ramalan Nabi Muhammad bahwa suatu saat akan ada sebuah kota besar di timur yang bernama Samudra, yang akan menghasilkan banyak orang suci. Hikayat itu dipenuhi cerita tentang proses penganutan Islam oleh raja Samudra: Marah Silau (atau Silu), bermimpi bahwa Nabi menampakkan diri padanya dan sekonyong meludah ke dalam mulutnya untuk mengalihkan pengetahuan Islam serta sekaligus menggelarinya Sultan Malik as-Salih.
Cerita yang kurang lebih sama juga ditemui dalam Sejarah Melayu. Historiografi ini mengisahkan tentang pengislaman Raja Malaka. Sebagaimana Malik as-Salih yang bertemu Nabi di dalam mimpinya, demikian pula dengan Raja Malaka. Dalam pada itu, Nabi mengajarkan kepadanya cara mengucapkan dua kalimat syahadat.
Hal yang unik justru terjadi pada kitab Babad Tanah Jawi. Jika dalam dua naskah Melayu di atas Islamisasi selalu ditandai dengan adanya simbol-simbol formal dari perubahan agama seperti mengucapkan dua kalimat syahadat dan penggunaan nama Arab maka cerita pengislaman Jawa yang dituturkan melalui Babad Tanah Jawi memberikan kesan suatu proses asimilasi yang sedang berlangsung di Jawa.
Naskah Babad Tanah Jawi menuturkan tentang Islamisasi tanah Jawa yang dilakukan oleh sembilan wali (wali sanga). Di sini pengislaman secara formal tak tampak, namun garis genealogis yang mengacu pada Arab (baca: Timur Tengah) tetap menjadi alur utama kisah di dalamnya.
Dari keseluruhan historiografi tradisional ada satu benang merah yang saling menghubungkan perihal penyebaran agama Islam di Nusantara: berasal dari Arab. Besar kemungkinan hal ini dilakukan agar ada semacam legitimasi ideologis bagi agama Islam untuk masuk ke Nusantara. Di lain pihak, hal ini juga menimbulkan bias bahwa seakan-akan Islam akan lebih sahih jika dibawa dari Arab, bukan dari wilayah lainnya.
Kembali kepada persoalan diskursus teori klasik kedatangan Islam, amat dimungkinkan jika teoritisi sejarah Islam juga melihat kenyataan yang dicatat di dalam naskah-naskah kuno itu sebagai dasar menjadikan pedagang Timur Tengah sebagai pembawa Islam ke Nusantara.
Juga perlu dicatat kiranya tentang dua dokumen lain yang bisa menghantarkan pada substansi Islamisasi di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa. Kedua naskah itu berisi tentang ajaran-ajaran Islam seperti yang diberikan di Jawa pada abad XVI. Salah satu naskah yang berisi tentang pertimbangan-pertimbangan terhadap hal-hal yang diperdebatkan, kemudian naskah dinisbahkan oleh G.W.J. Drewes kepada seorang ulama yang bernama Syekh Bari.
Naskah kedua berisi tentang primbon yang berisi tuntunan menjalankan agama Islam yang dibuat beberapa murid ulama terkenal. Kedua naskah itu bersifat ortodoks dan mistik, sekaligus mencerminkan mistisisme Islam dan tasawuf yang berkembang saat itu. Dan kelak Islam di Indonesia dipenuhi bid’ah dan khurafat yang pada masa selanjutnya mendorong munculnya gerakan pembaharuan sepanjang abad XIX dan XX.
Dalam historiografi Indonesia, teori klasik penyebaran Islam menjadi satu monoversi yang sulit dibantah. Hal itu bercampur aduk dengan bias politik kekuasaan Orde Baru yang mengintervensi penulisan sejarah. Semisal, kasus pelarangan buku Slamet Muljana yang pernah mengajukan versi bahwa Tionghoa adalah penyebar Islam.
Menurut Muljana, Islam Nusantara, dan di Jawa khususnya, bukanlah Islam “murni” dari Arab, melainkan Islam campuran yang memiliki banyak varian. Dalam bukunya, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara Muljana menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tak lain dari Gan Si Cang. Sedangkan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, menurut Muljana, adalah Toh A Bo, putra dari Tung Ka Lo, alias Sultan Trenggana.
Pelarangan versi Slamet Muljana oleh pemerintah Orde Baru didasari pengkaitan Cina dalam peristiwa Gestok 1965. Semua hal yang berbau Tionghoa dilarang saat itu, sehingga “haram” hukumnya mengaitkan Tionghoa ke dalam sejarah Islam Nusantara.
Sumanto Al Qurtuby dalam bukunya Arus Cina Islam Jawa juga menggugat teori klasik penyebaran Islam. Sumanto menemukan fakta bahwa nama tokoh yang menjadi agen sejarah Islam merupakan transliterasi dari nama Cina ke nama Jawa. Semisal dalam nama Bong Ping Nang misalnya, kemudian terkenal dengan nama Bonang.
Raden Fatah yang punya julukan pangeran Jin Bun, dalam bahasa Cina berarti “yang gagah”. Raden Sahid (nama lain Sunan Kalijaga) berasal dari kata “sa-it” (sa = 3, dan it = 1; maksudnya 31) sebagai peringatan waktu kelahirannya di masa ayahnya berusia 31 tahun. Tentu buku yang ditulis Sumanto tidak dilarang, karena buku ini terbit setelah Orde Baru tumbang. Namun sejauh mana masyarakat menerima versi ini, belum kelihatan secara jelas.(*)
historia.id
International Islamic Expo 2016 baru saja digelar. Pameran yang digelar sepanjang tiga hari ini mulai Jumat, 28 Oktober sampai dengan 30 Oktober 2016, membawa berkah bagi biro perjalanan umrah dan haji.
Mayoritas biro-biro tersebut menyebut ada peningkatan pengunjung yang ingin menggunakan biro perjalanan mereka. Peningkatan cukup lumayan besar setidaknya dialami biro perjalanan Al Hijaz Tour and Travel dan Al Malik.
"Peningkatannya lumayan, sih. Ada 20 persen,” kata Direktur Operasional Al Hijaz Tour, Dwi Puji Astuti di Jakarta Conventional Center, Jakarta, Senin 31 Oktober 2016.
Sementara itu, perwakilan Al Malik, Imam, mengatakan jumlah pengunjung selama pameran IIE 2016 meningkat sekitar 10-20 persen.
“Dampaknya (karena) ada pameran seperti ini,” kata Imam.
Selama pameran berlangsung kebanyakan dari biro perjalanan umrah dan haji ini memang menggelar promo diskon untuk menarik pengunjung dan sosialiasasi biro travel haji dan umrah mereka.
Al Hijaz diketahui membuat promo diskon Rp2 juta. Jika hari-hari biasa, harga perjalanan wisata mereka mulai dibanderol seharga Rp22,5 juta. Di pameran, harganya dipangkas menjadi Rp20,5 juta.
"Kami diskon PP (pergi pulang) untuk menarik pengunjung,” kata Dwi.
Dia melanjutkan, pengunjung selalu menanyakan pelayanan, program, dan harga yang ditawarkan. Mulai dari akomodasi hingga letak hotel dari situs wisata.
"(Mereka bertanya) harganya berapa, pesawat apa, transit tidak, dan jarak hotelnya. Itu yang sering (ditanyakan),” kata dia.
Imam mengatakan pengunjung juga banyak yang bertanya tentang harga, program, dan layanan wisata haji dan umrah mereka. “ Kadang ada juga yang bertanya dari segi harga dan cari yang termurah. Tugas kami di sini adalah mengedukasi mereka,” kata dia.
Jumrah Online | Jumrah.com | Erwin E Ananto
Mayoritas biro-biro tersebut menyebut ada peningkatan pengunjung yang ingin menggunakan biro perjalanan mereka. Peningkatan cukup lumayan besar setidaknya dialami biro perjalanan Al Hijaz Tour and Travel dan Al Malik.
"Peningkatannya lumayan, sih. Ada 20 persen,” kata Direktur Operasional Al Hijaz Tour, Dwi Puji Astuti di Jakarta Conventional Center, Jakarta, Senin 31 Oktober 2016.
Sementara itu, perwakilan Al Malik, Imam, mengatakan jumlah pengunjung selama pameran IIE 2016 meningkat sekitar 10-20 persen.
“Dampaknya (karena) ada pameran seperti ini,” kata Imam.
Selama pameran berlangsung kebanyakan dari biro perjalanan umrah dan haji ini memang menggelar promo diskon untuk menarik pengunjung dan sosialiasasi biro travel haji dan umrah mereka.
Al Hijaz diketahui membuat promo diskon Rp2 juta. Jika hari-hari biasa, harga perjalanan wisata mereka mulai dibanderol seharga Rp22,5 juta. Di pameran, harganya dipangkas menjadi Rp20,5 juta.
"Kami diskon PP (pergi pulang) untuk menarik pengunjung,” kata Dwi.
Dia melanjutkan, pengunjung selalu menanyakan pelayanan, program, dan harga yang ditawarkan. Mulai dari akomodasi hingga letak hotel dari situs wisata.
"(Mereka bertanya) harganya berapa, pesawat apa, transit tidak, dan jarak hotelnya. Itu yang sering (ditanyakan),” kata dia.
Imam mengatakan pengunjung juga banyak yang bertanya tentang harga, program, dan layanan wisata haji dan umrah mereka. “ Kadang ada juga yang bertanya dari segi harga dan cari yang termurah. Tugas kami di sini adalah mengedukasi mereka,” kata dia.
Jumrah Online | Jumrah.com | Erwin E Ananto
International Islamic Expo (IIE) 2016 kembali digelar di Assembly Hall JCC Senayan, Jakarta. Ajang pemeran Biro Perjalanan Haji Khusus dan Umrah dan keuangan syariah ini akan berlangsung pada 28-30 Oktober 2016.
Sebanyak 135 peserta yang merupakan gabungan dari travel agen wisata islam, maskapai penerbangan dan hotel dari dalam dan luar negeri meramaikan International Islamic Expo 2016 ini.
IIE 2016 juga menghadirkan banyak bank-bank syariah yang menawarkan banyak produk untuk membiayai haji khusus dan umrah serta pembiayaan untuk keuangan syariah lainnya seperti Bank Syariah Mandiri, Bank BRI Syariah, dan BNI Syariah.
Empat maskapai terbesar yang biasa melayani penerbangan haji, yakni Garuda Indonesia, Emirates, Etihad, dan Qatar Airways ikut hadir guna menawarkan berbagai promo menarik.
Ketua Panitia IIE 2016 Anggito Abimanyu mengungkapkan, tujuan digelarnya event yang sudah memasuki edisi ke-12 itu adalah untuk mempertemukan buyer dan sales di industri perjalanan haji khusus dan umrah serta Islamic Tourism.
Ada banyak penawaran paket haji khusus yang cukup menarik dari biro perjalanan haji. Kami juga mengundang otoritas dari Kementerian Keuangan, Dirjen Imigrasi, Kementerian Agama, MUI, dan Asosiasi untuk menjelaskan berbagai macam kegiatan dan kebijakan mengenai haji khusus, umrah, wisata, dan keuangan syariah, ungkap Anggito dalam sambutannya saat meresmikan pembukaan IIE 2016, di Assembly Hall JCC Senayan, (28/10).
Menurut Anggito, yang juga Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), International Islamic Expo 2016 ini untuk pertama kalinya digelar bersama dengan ISEI. “Selain menghadirkan promo, IIE 2016 menggelar pelatihan workshop keuangan syariah, serta mengundang LPPOM MUI untuk menjelaskan mengenai dana dakwah dan juga produk halal yang sekarang cukup populer menjadi ladang bisnis dan juga ladang amal untuk pelaku bisnis syariah,” ujar Anggito.
Anggito menambahkan, daya tarik utama dari pameran IIE 2016 ini memang ada di berbagai macam paket haji dan umrah. “Mereka memberikan discount dan doorprize yang cukup menarik. Tahun ini untuk pertama kalinya IIE juga mengundang bintang tamu spesial yang akan memberikan hiburan seperti Fadli Padi, Fathin Sidqia, Rossa, dan Bunga Citra Lestari,” beber Anggito seraya menambahkan IIE ini menargetkan pengunjung 25 ribu hingga 30 ribu dengan nilai transaksi di atas Rp22 milyar.
Provided by Erwin E Ananto | Jumrah Online
Sebanyak 135 peserta yang merupakan gabungan dari travel agen wisata islam, maskapai penerbangan dan hotel dari dalam dan luar negeri meramaikan International Islamic Expo 2016 ini.
IIE 2016 juga menghadirkan banyak bank-bank syariah yang menawarkan banyak produk untuk membiayai haji khusus dan umrah serta pembiayaan untuk keuangan syariah lainnya seperti Bank Syariah Mandiri, Bank BRI Syariah, dan BNI Syariah.
Empat maskapai terbesar yang biasa melayani penerbangan haji, yakni Garuda Indonesia, Emirates, Etihad, dan Qatar Airways ikut hadir guna menawarkan berbagai promo menarik.
Ketua Panitia IIE 2016 Anggito Abimanyu mengungkapkan, tujuan digelarnya event yang sudah memasuki edisi ke-12 itu adalah untuk mempertemukan buyer dan sales di industri perjalanan haji khusus dan umrah serta Islamic Tourism.
Ada banyak penawaran paket haji khusus yang cukup menarik dari biro perjalanan haji. Kami juga mengundang otoritas dari Kementerian Keuangan, Dirjen Imigrasi, Kementerian Agama, MUI, dan Asosiasi untuk menjelaskan berbagai macam kegiatan dan kebijakan mengenai haji khusus, umrah, wisata, dan keuangan syariah, ungkap Anggito dalam sambutannya saat meresmikan pembukaan IIE 2016, di Assembly Hall JCC Senayan, (28/10).
Menurut Anggito, yang juga Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), International Islamic Expo 2016 ini untuk pertama kalinya digelar bersama dengan ISEI. “Selain menghadirkan promo, IIE 2016 menggelar pelatihan workshop keuangan syariah, serta mengundang LPPOM MUI untuk menjelaskan mengenai dana dakwah dan juga produk halal yang sekarang cukup populer menjadi ladang bisnis dan juga ladang amal untuk pelaku bisnis syariah,” ujar Anggito.
Anggito menambahkan, daya tarik utama dari pameran IIE 2016 ini memang ada di berbagai macam paket haji dan umrah. “Mereka memberikan discount dan doorprize yang cukup menarik. Tahun ini untuk pertama kalinya IIE juga mengundang bintang tamu spesial yang akan memberikan hiburan seperti Fadli Padi, Fathin Sidqia, Rossa, dan Bunga Citra Lestari,” beber Anggito seraya menambahkan IIE ini menargetkan pengunjung 25 ribu hingga 30 ribu dengan nilai transaksi di atas Rp22 milyar.
Provided by Erwin E Ananto | Jumrah Online
INTERNATIONAL ISLAMIC EXPO (IIE) - UMRAH-HAJJ & ISLAMIC TOURISM yang akan digelar di Jakarta Convention Center pada 28-30 Oktober 2016 nanti. Ini adalah pameran umrah dan haji terbesar di dunia. Ada puluhan biro perjalanan umrah haji ternama di Indonesia yang akan ikut dalam ajang pameran ini.
Jadi anda bisa memilih dan membandingkan harga dan pelayanan dari setiap biro perjalanan umrah-haji sebelum mengambil keputusan. Kelebihan lain, biro umrah yang ada di pameran ini adalah agen umrah yang terpercaya dan resmi terdaftar di Kementerian Agama. Jadi anda bisa beribadah tanpa khawatir tertipu.
International Islamic Expo ini dipastikan berbeda dengan event-event sebelumnya. Selain diikuti biro-biro perjalanan wisata dari Indonesia, pameran ini juga diikuti exhibitor internasional dari berbagai negara, mulai dari negara-negara di Asia Tenggara hingga negara-negara Timur Tengah. Bidang usahanya mulai dari perusahaan penerbangan international, tour operator, penyedia jasa hotel, provider visa, restauran dan catering sampai pengusaha transportasi di Arab Saudi.
Potensi jamaah umrah dan haji di Indonesia memang sangat besar. Setiap tahun sekitar satu juta penduduk Indonesia berangkat ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah umrah. Sedangkan untuk haji, setiap tahun Indonesia mengirimkan sekitar 165 ribu jemaah haji, dan merupakan jemaah haji terbesar di dunia.
Sebelumnya, Alia Convex sebagai penyelenggara IIE telah memulai roadshow sosialisasi di Kota Jeddah, Arab Saudi. Sosialisasi dalam bentuk silaturahmi dan buka puasa bersama pada Ramadhan lalu itu mendapat dukungan dari Konsulat Jenderal RI Jeddah dengan mengundang berbagai instansi dan komunitas setempat yang secara rutin sudah mengikuti dari tahun ke tahun dan mengundang instansi baru untuk bergabung di IIE tahun ini. Dalam kesempatan tersebut juga dipromosikan destinasi-destinasi wisata halal di Indonesia.
Pada tahun 2015 lalu International Islamic Expo dihadiri 47 Exhibitor International dan 36 Exhibitor Domestik. Juga didukung 10 perbankan syariah terbaik di Indonesia.
Tidak hanya Negara Timur Tengah yang menggarap wisata halal, masih di tahun 2015 lalu, Korea Tourism Organization juga hadir di IIE untuk mempromosikan pariwisata muslim di negeri gingseng ini. Korea memperkenalkan tujuan wisata di pulau Jeju yang ramah untuk wisatawan muslim. Selain itu, daerah pemerintahan Seocho juga datang untuk mempromosikan wisata medis mutakhir Korea. Ada juga pertunjukan non-verbal langsung dari Korea, yaitu Pang Show dan Drawing Show. Sekitar 750.000 wisatawan muslim berkunjung ke Korea per tahun. Tahun lalu, sekitar 210.000 wisatawan Indonesia berkunjung ke Korea. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat secara bertahap.
Selain Korea Selatan, destinasi wisata halal memang sedang gencar digarap di Asia Timur seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand. Demikian juga China, Taiwan, dan Jepang mulai secara agresif membuat promo wisata halal negara masing-masing di berbagai forum dunia. Untuk mengantisipasi pertumbuhan wisata muslim, tahun ini International Islamic Expo menyiapkan 120 booth untuk menampung perusahaan-purusahaan yang bergerak dibidang umrah-haji dan wisata muslim dari dalam dan luar negeri..
Dari sisi kunjungan, selama tiga hari IIE tahun 2014 dikunjungi lebih dari 25.000 orang, untuk tahun 2015 sekitar 27.000 orang. Untuk IIE tahun 2016 ini ditargetkan bisa menarik lebih dari 30.000 pengunjung.
Berikut adalah sambutan resmi Dr Anggito Abimanyu terkait IIE 2015 dan menyambut IIE 2016.
Assalamualaikum Wr, Wb.
At the outset on behalf of Alia Convex and The Ministry of Tourism and Creative Economy of Republic Indonesia, I would like to personally thank to all of the exhibitors and visitors who participated in the INTERNATIONAL ISLAMIC EXPO 2015 – The 11th Umra –Hajj & Islamic Tourism Jakarta, we have laid the foundation for a new dialogue and philosophy for Umra-Hajj, Hotel industry and Islamic Tourism in the 21st Century.
This year has been good to us and as we move into the new era, Islamic tourism is now a key sector of the Middle East, Central Asia and Far East economies in particular to Umra & Hajj and “International Islamic Expo” has grown in partnership with the Travel associations, Hoteliers and public from regional countries.
Indonesia has been one of the world's best performing in tourism and some of the new innovative projects announced in recent times in the Middle East are launched in this event. Against this background, this event will provide the necessary impetus for the industry to move forward.
The International Islamic Expo, is the world largest and primer Islamic travel & tourism event providing three days of intensive meetings, seminars, press conferences and social networking opportunities.
Now in its 12th year, “International Islamic Expo” is a key arena in which to unlock your business potential as the event is firmly established as must-attend exhibition for travel professionals in particular to Hajj & Umra, Hotel industry, Islamic Tourism and Trade & Investment.
With the ten years of consecutive success in Islamic tourism, it is my pleasure to announce and invite you to participate in the forth coming annual global event INTERNATIONAL ISLAMIC EXPO 2016 – The 12th Umra-Hajj & Islamic Tourism, scheduled on 28th - 30th October 2016 at Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta – Indonesia.
International Islamic Expo 2016 would be a meeting point where Islamic Tourism Practitioners, Umra-Hajj policy makers, Hoteliers, Traders & Investors, Sellers and Buyers from Islamic Countries would meet for the promoting business exchange and networking. It accommodates the interest of those who see ASEAN Countries, especially Indonesia as the biggest source for Umra-Hajj and Islamic Tourism. The choise of Indonesia as the venue for The INTERNATIONAL ISLAMIC EXPO 2016 denotes the importance of Indonesia as the Largest Muslim Populous Country in the world for Umra-Hajj as well as for Islamic Tourism generating country.
INTERNATIONAL ISLAMIC EXPO 2016 – The 12th Umra-Hajj & Islamic Tourism is endorsed by the Travel Associations from ASEAN Countries, AMPHURI (Indonesia), HIMPUH (Indonesia), ASPHURINDO (Indonesia), KESTHURI (Indonesia), ASITA (Indonesia), ASTINDO (Indonesia), BUMITRA (Malaysia), AMTAS (Singapore), DHSB (Brunei), BATA (Brunei) and fully supported by the Ministry of Religious Affairs of Republic Indonesia and the Ministry of Foreign Affairs of Republic of Indonesia.
On a final note, we are confident International Islamic Expo 2016 - The 12th Umra-Hajj & Islamic Tourism edition of the event will result in excellent business for the regional as well as international sectors. Once again, we appreciate your on going support and we look forward to working with you to resolve the challengers that lie ahead of us this year.
Selamat Datang, Welcome to Indonesia
DR. H. Anggito Abumanyu
Chairman ALIA CONVEX
Jadi anda bisa memilih dan membandingkan harga dan pelayanan dari setiap biro perjalanan umrah-haji sebelum mengambil keputusan. Kelebihan lain, biro umrah yang ada di pameran ini adalah agen umrah yang terpercaya dan resmi terdaftar di Kementerian Agama. Jadi anda bisa beribadah tanpa khawatir tertipu.
International Islamic Expo ini dipastikan berbeda dengan event-event sebelumnya. Selain diikuti biro-biro perjalanan wisata dari Indonesia, pameran ini juga diikuti exhibitor internasional dari berbagai negara, mulai dari negara-negara di Asia Tenggara hingga negara-negara Timur Tengah. Bidang usahanya mulai dari perusahaan penerbangan international, tour operator, penyedia jasa hotel, provider visa, restauran dan catering sampai pengusaha transportasi di Arab Saudi.
Potensi jamaah umrah dan haji di Indonesia memang sangat besar. Setiap tahun sekitar satu juta penduduk Indonesia berangkat ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah umrah. Sedangkan untuk haji, setiap tahun Indonesia mengirimkan sekitar 165 ribu jemaah haji, dan merupakan jemaah haji terbesar di dunia.
Sebelumnya, Alia Convex sebagai penyelenggara IIE telah memulai roadshow sosialisasi di Kota Jeddah, Arab Saudi. Sosialisasi dalam bentuk silaturahmi dan buka puasa bersama pada Ramadhan lalu itu mendapat dukungan dari Konsulat Jenderal RI Jeddah dengan mengundang berbagai instansi dan komunitas setempat yang secara rutin sudah mengikuti dari tahun ke tahun dan mengundang instansi baru untuk bergabung di IIE tahun ini. Dalam kesempatan tersebut juga dipromosikan destinasi-destinasi wisata halal di Indonesia.
Pada tahun 2015 lalu International Islamic Expo dihadiri 47 Exhibitor International dan 36 Exhibitor Domestik. Juga didukung 10 perbankan syariah terbaik di Indonesia.
Tidak hanya Negara Timur Tengah yang menggarap wisata halal, masih di tahun 2015 lalu, Korea Tourism Organization juga hadir di IIE untuk mempromosikan pariwisata muslim di negeri gingseng ini. Korea memperkenalkan tujuan wisata di pulau Jeju yang ramah untuk wisatawan muslim. Selain itu, daerah pemerintahan Seocho juga datang untuk mempromosikan wisata medis mutakhir Korea. Ada juga pertunjukan non-verbal langsung dari Korea, yaitu Pang Show dan Drawing Show. Sekitar 750.000 wisatawan muslim berkunjung ke Korea per tahun. Tahun lalu, sekitar 210.000 wisatawan Indonesia berkunjung ke Korea. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat secara bertahap.
Selain Korea Selatan, destinasi wisata halal memang sedang gencar digarap di Asia Timur seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand. Demikian juga China, Taiwan, dan Jepang mulai secara agresif membuat promo wisata halal negara masing-masing di berbagai forum dunia. Untuk mengantisipasi pertumbuhan wisata muslim, tahun ini International Islamic Expo menyiapkan 120 booth untuk menampung perusahaan-purusahaan yang bergerak dibidang umrah-haji dan wisata muslim dari dalam dan luar negeri..
Dari sisi kunjungan, selama tiga hari IIE tahun 2014 dikunjungi lebih dari 25.000 orang, untuk tahun 2015 sekitar 27.000 orang. Untuk IIE tahun 2016 ini ditargetkan bisa menarik lebih dari 30.000 pengunjung.
Berikut adalah sambutan resmi Dr Anggito Abimanyu terkait IIE 2015 dan menyambut IIE 2016.
Assalamualaikum Wr, Wb.
At the outset on behalf of Alia Convex and The Ministry of Tourism and Creative Economy of Republic Indonesia, I would like to personally thank to all of the exhibitors and visitors who participated in the INTERNATIONAL ISLAMIC EXPO 2015 – The 11th Umra –Hajj & Islamic Tourism Jakarta, we have laid the foundation for a new dialogue and philosophy for Umra-Hajj, Hotel industry and Islamic Tourism in the 21st Century.
This year has been good to us and as we move into the new era, Islamic tourism is now a key sector of the Middle East, Central Asia and Far East economies in particular to Umra & Hajj and “International Islamic Expo” has grown in partnership with the Travel associations, Hoteliers and public from regional countries.
Indonesia has been one of the world's best performing in tourism and some of the new innovative projects announced in recent times in the Middle East are launched in this event. Against this background, this event will provide the necessary impetus for the industry to move forward.
The International Islamic Expo, is the world largest and primer Islamic travel & tourism event providing three days of intensive meetings, seminars, press conferences and social networking opportunities.
Now in its 12th year, “International Islamic Expo” is a key arena in which to unlock your business potential as the event is firmly established as must-attend exhibition for travel professionals in particular to Hajj & Umra, Hotel industry, Islamic Tourism and Trade & Investment.
With the ten years of consecutive success in Islamic tourism, it is my pleasure to announce and invite you to participate in the forth coming annual global event INTERNATIONAL ISLAMIC EXPO 2016 – The 12th Umra-Hajj & Islamic Tourism, scheduled on 28th - 30th October 2016 at Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta – Indonesia.
International Islamic Expo 2016 would be a meeting point where Islamic Tourism Practitioners, Umra-Hajj policy makers, Hoteliers, Traders & Investors, Sellers and Buyers from Islamic Countries would meet for the promoting business exchange and networking. It accommodates the interest of those who see ASEAN Countries, especially Indonesia as the biggest source for Umra-Hajj and Islamic Tourism. The choise of Indonesia as the venue for The INTERNATIONAL ISLAMIC EXPO 2016 denotes the importance of Indonesia as the Largest Muslim Populous Country in the world for Umra-Hajj as well as for Islamic Tourism generating country.
INTERNATIONAL ISLAMIC EXPO 2016 – The 12th Umra-Hajj & Islamic Tourism is endorsed by the Travel Associations from ASEAN Countries, AMPHURI (Indonesia), HIMPUH (Indonesia), ASPHURINDO (Indonesia), KESTHURI (Indonesia), ASITA (Indonesia), ASTINDO (Indonesia), BUMITRA (Malaysia), AMTAS (Singapore), DHSB (Brunei), BATA (Brunei) and fully supported by the Ministry of Religious Affairs of Republic Indonesia and the Ministry of Foreign Affairs of Republic of Indonesia.
On a final note, we are confident International Islamic Expo 2016 - The 12th Umra-Hajj & Islamic Tourism edition of the event will result in excellent business for the regional as well as international sectors. Once again, we appreciate your on going support and we look forward to working with you to resolve the challengers that lie ahead of us this year.
Selamat Datang, Welcome to Indonesia
DR. H. Anggito Abumanyu
Chairman ALIA CONVEX
Sepanjang 14 abad penetapan miqat makani nyaris tidak pernah menimbulkan polemik yang berarti. Sebab tempat-tempat itu tidak pernah berubah atau bergeser dari posisinya. Para jamaah haji dari berbagai penjuru dunia pasti akan melewati tempat-tempat yang telah disebutkan Rasulullah SAW itu. Kalau pun ada perubahan, hanya perubahan nama tempat saja, tetapi tempat miqat itu tetap pada posisinya sejak zaman nabi.
Tetapi ketika manusia sudah menemukan pesawat terbang, dan para jemaah haji mulai menumpang ’besi terbang’ ini, mulai muncul sedikit masalah. Sebab pesawat-pesawat terbang ini terbang di atas langit, sementara tidak ada satu pun dalil dari Rasulullah SAW yang menjelaskan miqat makani buat jamaah yang datang lewat ’langit’.
Misalnya, bila suatu ketika ada orang bisa tinggal di bulan, tentunya datang ke bumi tidak melewati miqat-miqat yang telah ditetapkan, karena mereka muncul dari atas langit. Lantas dimanakah miqat makani buat jamaah haji yang muncul dari atas langit?
Dan pesawat terbang pada ketinggian di atas 27.000 kaki dari permukaan laut, nyaris tidak melewati batas-batas miqat itu. Maka dalam hal ini setidaknya ada dua pendapat yang berkembang :
1. Pendapat Pertama : Ikut Miqat di Darat
Para ulama kontemporer berpendapat bahwa miqat makani buat para jamaah yang menumpang pesawat itu adalah garis-garis 'imajiner' yang menghubungkan titik-titik yang ada pada masing-masing miqat.
Dan sangat mudah untuk menemukan garis imajiner itu dengan pesawat modern, karena pasti dilengkapi dengan alat semacam Global Positioning System (GPS) dan sejenisnya. Biasanya GPS yang tersedia di kursi masing-masing penumpang pada pesawat tertentu.
GPS akan memberitahukan dengan pasti posisi pesawat terhadap titik-titik koordinat tertentu di muka bumi, bahkan juga bisa memastikan kecepatan pesawat, ketinggian (altitude), perkiraan waktu yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan dan sebagainya.
Maka mudah saja bagi jamaah haji yang ingin memulai berihram, karena kapten akan memberitahukan bahwa dalam hitungan beberapa menit lagi pesawat akan berada di atas posisi titik miqat. Bahkan para penumpang bisa melihat sendiri posisi pesawat yang mereka tumpangi di layar LCD di kursi masing-masing.
Dan tanpa harus mendarat di titik-titik yang telah disebutkan oleh Rasulullah SAW itu, para jemaah mulai berganti pakaian ihram, berniat dan melantunkan talbiyah, dari ketinggian sekian ribu kaki di atas permukaan laut.
Bahwa miqat makani buat mereka yang naik pesawat terbang harus mengikuti miqat yang ada di darat, sehingga mulai berihram harus dilakukan di atas pesawat, adalah pendapat beberapa ulama, di antaranya :
a. Majelis Bahtsul Masail Nadhatul Ulama
Majelis Bahtsul Masail Nahdhatul Ulama (NU), lembaga yang banyak mengurusi fatwa kontemporer di kalangan nahdhiyyin ini, dalam salah satu keputusannya menegaskan bahwa Bandara Jeddah tidak memenuhi ketentuan sebagai miqat makani buat jamaah haji Indonesia.
Majelis ini tegas menyebutkan bahwa jamaah haji Indonesia harus melakukan niat tawaf pada waktu pesawat terbang memasuki daerah Qarnul-Manazil. Berikut ini petikannya:
Soal:
Orang Indonesia yang melaksanakan ibadah haji melalui Jeddah yang akan langsung menuju Makkah, apabila mereka memulai ihramnya dari Jeddah, apakah terkena wajib membayar dam bagi mereka?
Jawab:
Mengingatkan bahwa lapangan terbang Jeddah di mana jamaah haji Indonesia mendarat, ternyata tidak memenuhi ketentuan sebagai miqat, maka apabila para jamaah haji Indonesia (yang berangkat pada hari terakhir) akan langsung menuju Makkah, hendaknya mereka melakukan niat pada waktu pesawat terbang memasuki daerah Qarnul-Manazil atau daerah Yalamlam atau miqat-miqat yang lain (yaitu setelah mereka menerima penjelasan dari petugas pesawat udara yang bersangkutan).
Untuk memudahkan pelaksanaannya, dianjurkan agar para jamaah memakai pakaian ihramnya sejak dari lapangan terbang Indonesia tanpa niat terlebih dahulu.
Kemudian niat ihram baru dilakukan pada waktu pesawat terbang memasuki daerah Qarnul-manazil atau Yalamlam. Tetapi kalau para jamaah ingin sekaligus niat ihram di Indonesia, itupun diperbolehkan.
b. Fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Baz
Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa lalu, Syeikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang keabsahan Bandara King Abdul Aziz sebagai pengganti dari miqat dengan tegas menolak dan mengatakan tidak sah apabila jamaah haji mulai berihram dari Bandara itu. Berikut kutipan fatwa beliau :
Hal yang mewajibkan kami menjelaskan masalah ini adalah adanya buku kecil yang datang dari sebagian rekan pada akhir-akhir ini yang berjudul 'Adillatul Itsbat anna Jaddah Miqat', yaitu Dalil-dalil yang membuktikan Jeddah adalah Miqat.
Di dalam buku kecil ini penulisnya berupaya mengadakan miqat tambahan di luar miqat-miqat yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Dia beranggapan bahwa Jeddah itu adalah miqat bagi orang-orang yang datang dengan pesawat udara di bandara atau datang ke Jeddah lewat laut atau lewat darat.
Maka menurut penulis buku ini, mereka boleh menunda ihramnya sampai tiba di Jeddah, kemudian berihram dari sana. Karena, menurut anggapan dia, Jeddah itu sejajar dengan dua miqat, yaitu Sa'diyah dan Juhfah.
Ini adalah kesalahan besar yang dapat diketahui oleh setiap orang yang mempunyai pengetahuan tentang realita sebenarnya. Sebab, Jeddah itu berada di dalam wilayah miqat, dan orang yang datang ke Jeddah pasti telah melalui salah satu miqat yang telah ditetapkan oleh Muhammad SAW atau berada dalam posisi sejajar dengannya baik di darat, laut maupun di udara. Maka tidak boleh melewati miqat itu tanpa ihram jika berniat menunaikan ibadah haji atau ibadah umrah.
Di bagian akhir dari fatwa itu, beliau memberi kesimpulan :
Sesungguhnya fatwa khusus yang dikeluarkan tentang bolehnya menjadikan Jeddah sebagai miqat bagi para penumpang pesawat udara dan kapal laut adalah fatwa batil (tidak benar) karena tidak bersumber dari nash al-Qur`an ataupun hadits Rasulullah SAW ataupun ijma' para ulama salaf, dan tidak pernah dikatakan oleh seorang ulama kaum muslimin yang dapat dijadikan sandaran.
c. Fatwa Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia
Penulis kutipkan bagian terpenting dari Fatwa Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia :
Tidak syak bahwa Jeddah tidak termasuk miqat. Siapa yang mengakhirkan ihramnya sampai ke Jeddah, maka dia telah melewati miqat menurut syar'i.
Karena itu dia terkena dam, yaitu satu kambing atau sepersepuluh unta atau sepersepuluh sapi yang disembelih di tanah haram dan dibagikan kepada orang miskin tanah haram.
d. Fatwa Majma' Fiqih Al-Islami
Selain Lajnah Daimah, juga ada fatwa dari Majma' Fiqih Al-Islami yang kami kutipkan bagian terpentingnya saja :
Jika hal ini diketahui, maka bagi orang-orang yang haji dan umrah lewat jalan udara dan laut serta yang lainnya tidak boleh mengakhirkan ihram sampai mereka tiba di Jeddah.
Sebab Jeddah tidak termasuk miqat yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian pula orang-orang yang tidak membawa pakaian ihram, maka mereka juga tidak boleh mengakhirkan ihram sampai ke Jeddah.
2. Pendapat Kedua : Dimana Pesawat Mendarat
Sementara di sisi lain, memang tidak sedikit kalangan ulama yang menjadikan Bandara King Abdul Aziz di Jeddah sebagai tempat miqat.
Mereka berpendapat bahwa orang yang datang lewat ’langit’ tidak mulai berihram di atas miqat-miqat tadi, tetapi mulai mengambil miqat dari tempat dimana pesawat itu menyentuh daratan, yang dalam hal ini adalah Bandara King Abdul Aziz yang terletak di kota Jeddah.
Bandara Jeddah saat ini boleh dibilang satu-satunya bandara untuk jamaah haji, kecuali pesawat-pesawat milik maskapai Saudi Arabia yang bisa langsung mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz di kota Madinah.
Yang jadi masalah adalah karena posisi Bandara King Abdul Aziz ini sudah berada di sebelah Barat tanah haram. Sedangkan jamaah haji Indonesia, tentunya tidak datang dari arah Barat melainkan dari Timur atau Tenggara. Jadi kalau mendarat di Jeddah, sudah pasti akan melewati garis miqat.
Dan seharusnya cara ini terlarang, karena setiap orang yang melewati garis miqat wajib berihram, kalau tujuannya semata-mata menuju ke Ka’bah untuk haji atau ihram.
Di zaman dulu ketika kita masih menggunakan kapal laut, jamaah haji Indonesia bisa dengan mudah berihram dari miqat yang ditentukan. Namun agak lain ceritanya bila berihram di atas pesawat terbang.
Sebab yang namanya berihram itu adalah membuka pakaian biasa berganti dengan dua lembar handuk sebagai pakaian resmi berihram. Memang akan sedikit merepotkan, bila dilakukan di dalam pesawat terbang.
Yang jadi masalah, bukan pilot tidak tahu tempat batas miqat, tetapi bagaimana memastikan bahwa sekian ratus penumpang di dalam pesawat yang sedang terbang tinggi di langit, bisa berganti pakaian bersama pada satu titik tertentu.
Sementara untuk berpakaian ihram sejak dari Indonesia, sebenarnya bisa saja dilakukan, namun jaraknya masih terlalu jauh. Kalau kita tarik garis lurus Jakarta Makkah di peta google earth, sekitar 9.000-an km jaraknya. Perjalanan ditempuh sekitar 8 sampai 10 jam penerbangan non-stop.
a. Kementerian Agama RI
Departemen Agama Republik Indonesia yang kini berubah nama menjadi Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai biro perjalanan haji terbesar di dunia, nampaknya lebih cenderung berpendapat bahwa Jeddah bisa menjadi alternatif miqat makani.
Hal itu bisa dibuktikan dengan seragamnya semua petunjuk yang diarahkan berupaya mencari pendapat-pendapat yang membolehkan jamaah haji bermiqat dari bandara Jeddah.
Pendapat pihak Kementerian Agama RI ini untuk menjadikan Bandara King Abdul Aziz sebagai tempat miqat berpegang pada beberapa pendapat berikut ini :
1. Pendapat Ibnu Hajar pengarang Kitab Tuhfah memfatwakan bahwa jamaah haji yang datang dari arah Yaman boleh memulai ihram setelah tiba di Jeddah karena jarak Jeddah-Makkah sama dengan jarak Yalamlam-Makkah. An-Naswyili Mufti Makkah dan lain-lain sepakat dengan Ibnu Hajar ini.
2. Menurut mazhab Maliki dan Hanafi, jamaah haji yang melakukan dua miqat memenuhi ihramnya dari miqat kedua tanpa membayar dam.[1]
3. Menurut Ibnu Hazm, jamaah haji yang tidak melalui salah satu miqat boleh ihram dari mana dia suka, baik di darat maupun di laut.[2]
b. Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Tercatat tiga kali Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang bolehnya berihram dari bandara Jeddah, yaitu tahun 1980, 1981 dan 2006. Berikut petikannya fatwa terakhirnya:
c. Pendapat Syeikh Mustafa Az-Zarqa’
Salah satu ulama besar dan berpengaruh yang juga berpendapat bahwa Bandara King Abdul Aziz di Jeddah boleh dijadikan tempat miqat makani adalah Syeikh Mustafa Az-Zarqa’.[3]
Dengan bahasa yang tegas beliau mengatakan bahwa orang yang datang dengan pesawat terbang tidak wajib melakukan ihram, kecuali setelah pesawat mendarat di daerah yang akan mereka tempuh dengan jalur darat.
Karena Bandara Internasional Jeddah terletak di dalam miqat makani maka dari situlah mereka harus memulai ihram karena mereka disamakan dengan penduduk Jeddah. Seandainya bandara itu nanti dipindah ke Makkah, maka tempat ihram mereka adalah dari Makkah sama dengan penduduk Makkah.
Begitu seterusnya sesuai dengan miqat-miqat makani yang sudah ditentukan lewat jalur darat pada masa Rasulullah. Menurutnya ketentuan miqat makani ihram yang sudah ada nashnya tidak berlaku bagi orang yang naik pesawat.
Beliau termasuk ulama modern yang agaknya menolak pendapat ulama yang mengatakan bahwa teks hadits mengenai miqat makani berlaku baik lewat darat, laut, maupun udara.
Dalam hal ini ia berbeda pendapat dengan semua ulama anggota RAA yang bersidang di Yordania tahun 1407 Hijriyah.
Tetapi ketika manusia sudah menemukan pesawat terbang, dan para jemaah haji mulai menumpang ’besi terbang’ ini, mulai muncul sedikit masalah. Sebab pesawat-pesawat terbang ini terbang di atas langit, sementara tidak ada satu pun dalil dari Rasulullah SAW yang menjelaskan miqat makani buat jamaah yang datang lewat ’langit’.
Misalnya, bila suatu ketika ada orang bisa tinggal di bulan, tentunya datang ke bumi tidak melewati miqat-miqat yang telah ditetapkan, karena mereka muncul dari atas langit. Lantas dimanakah miqat makani buat jamaah haji yang muncul dari atas langit?
Dan pesawat terbang pada ketinggian di atas 27.000 kaki dari permukaan laut, nyaris tidak melewati batas-batas miqat itu. Maka dalam hal ini setidaknya ada dua pendapat yang berkembang :
1. Pendapat Pertama : Ikut Miqat di Darat
Para ulama kontemporer berpendapat bahwa miqat makani buat para jamaah yang menumpang pesawat itu adalah garis-garis 'imajiner' yang menghubungkan titik-titik yang ada pada masing-masing miqat.
Dan sangat mudah untuk menemukan garis imajiner itu dengan pesawat modern, karena pasti dilengkapi dengan alat semacam Global Positioning System (GPS) dan sejenisnya. Biasanya GPS yang tersedia di kursi masing-masing penumpang pada pesawat tertentu.
GPS akan memberitahukan dengan pasti posisi pesawat terhadap titik-titik koordinat tertentu di muka bumi, bahkan juga bisa memastikan kecepatan pesawat, ketinggian (altitude), perkiraan waktu yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan dan sebagainya.
Maka mudah saja bagi jamaah haji yang ingin memulai berihram, karena kapten akan memberitahukan bahwa dalam hitungan beberapa menit lagi pesawat akan berada di atas posisi titik miqat. Bahkan para penumpang bisa melihat sendiri posisi pesawat yang mereka tumpangi di layar LCD di kursi masing-masing.
Dan tanpa harus mendarat di titik-titik yang telah disebutkan oleh Rasulullah SAW itu, para jemaah mulai berganti pakaian ihram, berniat dan melantunkan talbiyah, dari ketinggian sekian ribu kaki di atas permukaan laut.
Bahwa miqat makani buat mereka yang naik pesawat terbang harus mengikuti miqat yang ada di darat, sehingga mulai berihram harus dilakukan di atas pesawat, adalah pendapat beberapa ulama, di antaranya :
a. Majelis Bahtsul Masail Nadhatul Ulama
Majelis Bahtsul Masail Nahdhatul Ulama (NU), lembaga yang banyak mengurusi fatwa kontemporer di kalangan nahdhiyyin ini, dalam salah satu keputusannya menegaskan bahwa Bandara Jeddah tidak memenuhi ketentuan sebagai miqat makani buat jamaah haji Indonesia.
Majelis ini tegas menyebutkan bahwa jamaah haji Indonesia harus melakukan niat tawaf pada waktu pesawat terbang memasuki daerah Qarnul-Manazil. Berikut ini petikannya:
Soal:
Orang Indonesia yang melaksanakan ibadah haji melalui Jeddah yang akan langsung menuju Makkah, apabila mereka memulai ihramnya dari Jeddah, apakah terkena wajib membayar dam bagi mereka?
Jawab:
Mengingatkan bahwa lapangan terbang Jeddah di mana jamaah haji Indonesia mendarat, ternyata tidak memenuhi ketentuan sebagai miqat, maka apabila para jamaah haji Indonesia (yang berangkat pada hari terakhir) akan langsung menuju Makkah, hendaknya mereka melakukan niat pada waktu pesawat terbang memasuki daerah Qarnul-Manazil atau daerah Yalamlam atau miqat-miqat yang lain (yaitu setelah mereka menerima penjelasan dari petugas pesawat udara yang bersangkutan).
Untuk memudahkan pelaksanaannya, dianjurkan agar para jamaah memakai pakaian ihramnya sejak dari lapangan terbang Indonesia tanpa niat terlebih dahulu.
Kemudian niat ihram baru dilakukan pada waktu pesawat terbang memasuki daerah Qarnul-manazil atau Yalamlam. Tetapi kalau para jamaah ingin sekaligus niat ihram di Indonesia, itupun diperbolehkan.
b. Fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Baz
Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa lalu, Syeikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang keabsahan Bandara King Abdul Aziz sebagai pengganti dari miqat dengan tegas menolak dan mengatakan tidak sah apabila jamaah haji mulai berihram dari Bandara itu. Berikut kutipan fatwa beliau :
Hal yang mewajibkan kami menjelaskan masalah ini adalah adanya buku kecil yang datang dari sebagian rekan pada akhir-akhir ini yang berjudul 'Adillatul Itsbat anna Jaddah Miqat', yaitu Dalil-dalil yang membuktikan Jeddah adalah Miqat.
Di dalam buku kecil ini penulisnya berupaya mengadakan miqat tambahan di luar miqat-miqat yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Dia beranggapan bahwa Jeddah itu adalah miqat bagi orang-orang yang datang dengan pesawat udara di bandara atau datang ke Jeddah lewat laut atau lewat darat.
Maka menurut penulis buku ini, mereka boleh menunda ihramnya sampai tiba di Jeddah, kemudian berihram dari sana. Karena, menurut anggapan dia, Jeddah itu sejajar dengan dua miqat, yaitu Sa'diyah dan Juhfah.
Ini adalah kesalahan besar yang dapat diketahui oleh setiap orang yang mempunyai pengetahuan tentang realita sebenarnya. Sebab, Jeddah itu berada di dalam wilayah miqat, dan orang yang datang ke Jeddah pasti telah melalui salah satu miqat yang telah ditetapkan oleh Muhammad SAW atau berada dalam posisi sejajar dengannya baik di darat, laut maupun di udara. Maka tidak boleh melewati miqat itu tanpa ihram jika berniat menunaikan ibadah haji atau ibadah umrah.
Di bagian akhir dari fatwa itu, beliau memberi kesimpulan :
Sesungguhnya fatwa khusus yang dikeluarkan tentang bolehnya menjadikan Jeddah sebagai miqat bagi para penumpang pesawat udara dan kapal laut adalah fatwa batil (tidak benar) karena tidak bersumber dari nash al-Qur`an ataupun hadits Rasulullah SAW ataupun ijma' para ulama salaf, dan tidak pernah dikatakan oleh seorang ulama kaum muslimin yang dapat dijadikan sandaran.
c. Fatwa Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia
Penulis kutipkan bagian terpenting dari Fatwa Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia :
Tidak syak bahwa Jeddah tidak termasuk miqat. Siapa yang mengakhirkan ihramnya sampai ke Jeddah, maka dia telah melewati miqat menurut syar'i.
Karena itu dia terkena dam, yaitu satu kambing atau sepersepuluh unta atau sepersepuluh sapi yang disembelih di tanah haram dan dibagikan kepada orang miskin tanah haram.
d. Fatwa Majma' Fiqih Al-Islami
Selain Lajnah Daimah, juga ada fatwa dari Majma' Fiqih Al-Islami yang kami kutipkan bagian terpentingnya saja :
Jika hal ini diketahui, maka bagi orang-orang yang haji dan umrah lewat jalan udara dan laut serta yang lainnya tidak boleh mengakhirkan ihram sampai mereka tiba di Jeddah.
Sebab Jeddah tidak termasuk miqat yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian pula orang-orang yang tidak membawa pakaian ihram, maka mereka juga tidak boleh mengakhirkan ihram sampai ke Jeddah.
2. Pendapat Kedua : Dimana Pesawat Mendarat
Sementara di sisi lain, memang tidak sedikit kalangan ulama yang menjadikan Bandara King Abdul Aziz di Jeddah sebagai tempat miqat.
Mereka berpendapat bahwa orang yang datang lewat ’langit’ tidak mulai berihram di atas miqat-miqat tadi, tetapi mulai mengambil miqat dari tempat dimana pesawat itu menyentuh daratan, yang dalam hal ini adalah Bandara King Abdul Aziz yang terletak di kota Jeddah.
Bandara Jeddah saat ini boleh dibilang satu-satunya bandara untuk jamaah haji, kecuali pesawat-pesawat milik maskapai Saudi Arabia yang bisa langsung mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz di kota Madinah.
Yang jadi masalah adalah karena posisi Bandara King Abdul Aziz ini sudah berada di sebelah Barat tanah haram. Sedangkan jamaah haji Indonesia, tentunya tidak datang dari arah Barat melainkan dari Timur atau Tenggara. Jadi kalau mendarat di Jeddah, sudah pasti akan melewati garis miqat.
Dan seharusnya cara ini terlarang, karena setiap orang yang melewati garis miqat wajib berihram, kalau tujuannya semata-mata menuju ke Ka’bah untuk haji atau ihram.
Di zaman dulu ketika kita masih menggunakan kapal laut, jamaah haji Indonesia bisa dengan mudah berihram dari miqat yang ditentukan. Namun agak lain ceritanya bila berihram di atas pesawat terbang.
Sebab yang namanya berihram itu adalah membuka pakaian biasa berganti dengan dua lembar handuk sebagai pakaian resmi berihram. Memang akan sedikit merepotkan, bila dilakukan di dalam pesawat terbang.
Yang jadi masalah, bukan pilot tidak tahu tempat batas miqat, tetapi bagaimana memastikan bahwa sekian ratus penumpang di dalam pesawat yang sedang terbang tinggi di langit, bisa berganti pakaian bersama pada satu titik tertentu.
Sementara untuk berpakaian ihram sejak dari Indonesia, sebenarnya bisa saja dilakukan, namun jaraknya masih terlalu jauh. Kalau kita tarik garis lurus Jakarta Makkah di peta google earth, sekitar 9.000-an km jaraknya. Perjalanan ditempuh sekitar 8 sampai 10 jam penerbangan non-stop.
a. Kementerian Agama RI
Departemen Agama Republik Indonesia yang kini berubah nama menjadi Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai biro perjalanan haji terbesar di dunia, nampaknya lebih cenderung berpendapat bahwa Jeddah bisa menjadi alternatif miqat makani.
Hal itu bisa dibuktikan dengan seragamnya semua petunjuk yang diarahkan berupaya mencari pendapat-pendapat yang membolehkan jamaah haji bermiqat dari bandara Jeddah.
Pendapat pihak Kementerian Agama RI ini untuk menjadikan Bandara King Abdul Aziz sebagai tempat miqat berpegang pada beberapa pendapat berikut ini :
1. Pendapat Ibnu Hajar pengarang Kitab Tuhfah memfatwakan bahwa jamaah haji yang datang dari arah Yaman boleh memulai ihram setelah tiba di Jeddah karena jarak Jeddah-Makkah sama dengan jarak Yalamlam-Makkah. An-Naswyili Mufti Makkah dan lain-lain sepakat dengan Ibnu Hajar ini.
2. Menurut mazhab Maliki dan Hanafi, jamaah haji yang melakukan dua miqat memenuhi ihramnya dari miqat kedua tanpa membayar dam.[1]
3. Menurut Ibnu Hazm, jamaah haji yang tidak melalui salah satu miqat boleh ihram dari mana dia suka, baik di darat maupun di laut.[2]
b. Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Tercatat tiga kali Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang bolehnya berihram dari bandara Jeddah, yaitu tahun 1980, 1981 dan 2006. Berikut petikannya fatwa terakhirnya:
c. Pendapat Syeikh Mustafa Az-Zarqa’
Salah satu ulama besar dan berpengaruh yang juga berpendapat bahwa Bandara King Abdul Aziz di Jeddah boleh dijadikan tempat miqat makani adalah Syeikh Mustafa Az-Zarqa’.[3]
Dengan bahasa yang tegas beliau mengatakan bahwa orang yang datang dengan pesawat terbang tidak wajib melakukan ihram, kecuali setelah pesawat mendarat di daerah yang akan mereka tempuh dengan jalur darat.
Karena Bandara Internasional Jeddah terletak di dalam miqat makani maka dari situlah mereka harus memulai ihram karena mereka disamakan dengan penduduk Jeddah. Seandainya bandara itu nanti dipindah ke Makkah, maka tempat ihram mereka adalah dari Makkah sama dengan penduduk Makkah.
Begitu seterusnya sesuai dengan miqat-miqat makani yang sudah ditentukan lewat jalur darat pada masa Rasulullah. Menurutnya ketentuan miqat makani ihram yang sudah ada nashnya tidak berlaku bagi orang yang naik pesawat.
Beliau termasuk ulama modern yang agaknya menolak pendapat ulama yang mengatakan bahwa teks hadits mengenai miqat makani berlaku baik lewat darat, laut, maupun udara.
Dalam hal ini ia berbeda pendapat dengan semua ulama anggota RAA yang bersidang di Yordania tahun 1407 Hijriyah.
Hari ini, 1 Muharram, umat Islam memasuki tahun baru 1438 dalam sistem penanggalan Hijriyah. Muharram merupakan salah satu bulan yang istimewa. Keutamaan bulan pertama dalam sistem penanggalan Hijriyah ini, terekam di sejumlah dalil Alquran ataupun hadis.
Surah at-Taubah ayat 36 menyebut Muharram, termasuk empat bulan yang dimuliakan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab.
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu."
Ada sejumlah fakta penting yang jarang terungkap di hadapan kita, terkait Muharraam dan penanggalan Hijriyah. Apa sajakah fakta tersebut? Redaksi merangkum beberapa fakta itu sebagai berikut:
Sejak kapan Muharram dikenal sebagai bulan?
Penamaan Muharram, pertama kali muncul sebagai hasil konsensus dari Bangsa Arab ketika itu, di bawah kepemimpinan Kilab bin Murrah, buyut Rasulullah SAW.
Peristiwa tersebut berlangsung pada 412 M atau 150 tahun sebelum risalah kenabian Muhammad SAW turun.
Tradisi yang berlaku di Arab ketika itu, nama-nama bulan ditentukan oleh masing-masing suku. Misalnya, orang arab mengenal beberapa nama bulan misalnya bulan Mu’tamar dan bulan Tajir.
Sedangkan tahunnya mereka mengorelasikannya dengan kejadian-kejadian penting, seperti Tahun Gajah (Aam Fil), saat pasukan gajah Abrahah menyerang Ka’bah.
Setelah konsensus tersebut disepakati, tercetuslah 12 nama bulan Muharram dan seterusnya yang merujuk pada peredaran bulan. Selama setahun terdapat 354 hari dan tiap bulannya ada 29 dan atau 30 hari.
Dinamakan Muharram, karena sepanjang bulan ini, mereka, Bangsa Arab mengharamkan pertikaian dan pertumpahan darah selama sebulan penuh.
Rasulullah SAW Penentu Penanggalan Hijrah bukan Umar RA?
Imam as-Suyuthi dalam as-Syamarikh fi Ilmi at-Tarikh, mengemukakan fakta mencengangkan tentang siapakah yang pertama kali mempopulerkan penggunaan peristiwa hijrah sebagai patokan penanggalan.
Menurut murid ulama bermazhab Hanafi terkenal , Taqiyuddin as-Subki itu, Umar bin Khatab bukanlah sosok yang pertama kali menyerukan penggunaan peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah sebagai acuan penanggalan.
Akan tetapi, Rasulullah SAW-lah yang paling awal menyerukan penggunaannya. Informasi itu ia peroleh secara langsung dari sang guru, Bulqaini. Riwayat secara lisan itu menyambung hingga Ibnu Syihab az-Zuhri.
Dituturkannya, bahwa, konon Rasulullah pernah memerintahkan penanggalan. Ibnu Asakir membenarkan fakta tersebut. Menurutnya, riwayat inilah yang paling kuat.
Sementara, informasi yang selama ini beredar yang memerintahkan penggunaan momentum hijrah adalah Umar bin Khatab. Fakta itu salah. Ibnu Asakir menukil pernyataan Ibnu Shalah.
Ibnu Shalah yang merupakan pakar hadis itu memperoleh data yang menyatakan fakta bukan umar pertama kali yang menyerukan dari Kitab Fi as-Syuruth, karangan Abu Thahir Ibnu Mahmasy (Az Ziyadi).
Dalam kitab itu disebutkan, bahwa Rasulullah pernah menulis surat ke umat Nasrani di Najran.
Untuk penulisannya, Nabi Saw memerintahkan Ali untuk menuliskan dalam surat tersebut kalimat "Surat ini ditulis pada hari kelima sejak hijrah". Dengan yakin, As Syuthi menegaskan, penyeru penggunaan hijrah sebagai pedoman penanggalan Islam, bukan Umar bin Khatab.
"Jelas yang pertama Rasulullah, Umar hanya mengikuti," tulisnya. Pendapat ini dikuatkan dengan riwayat lain, misalnya riwayat di Kitab at- Tarikh as-Shaghir, karya imam al-Bukhari.
Bahwa, saat Umar Bin Khatab hendak menetapkan sistem penanggalan, ia mengumpulkan para sahabat dan meminta saran mereka. Ibnu al-Munayyir menyebutkan, peristiwa itu terjadi ketika masa pemerintahannya berjalan dua setengah tahun. Setelah mendapatkan masukan, ia pun memilih pendapat Ali bin Abi Thalib, bahwa acuannya ialah peristiwa hijrah.
Mengapa Tahun Hijriyah dimulai dari Muharram?
Fakta menarik berikutnya adalah, mengapa sistem penanggalan Hijriyah diawali dengan Muharram?
Padahal peristiwa Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, berlangsung bukan pada Muharram, melainkan Rabi’ul Awwal, tepatnya pada 22 Rabi’ul Awwal (24 September 622 M)?
Muharram dipilih sebagai awal tahun Hijriyah, menurut Imam as-Suyuthi dalam as-Syamarikh fi Ilmi at-Tarikh, karena sejumlah alasan dan ketetapan ini adalah murni ijtihad Umar bin al-Khatab yang diamini oleh para sahabat.
Alasan pertama, ditetapkan Muharram, karena bulan ini menjadi waktu kembalinya para jamaah haji setelah menjalankan ritual haji.
Di samping itu pula, alasan keduanya adalah, dengan menetapkan Muharram, lebih memudahkan urutan tiga bulan terlarang (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram) dalam urutan yang saling berdampingan.
Sementara alasan yang kedua, Hijrah memang berlangsung pada Rabi’ul Awwal, tapi embrio peristiwa bersejarah itu, sudah muncul dan berlangsung sejak Muharram, sehingga, saling melengkapi esensi dan substansi Hijrah.*
Surah at-Taubah ayat 36 menyebut Muharram, termasuk empat bulan yang dimuliakan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab.
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu."
Ada sejumlah fakta penting yang jarang terungkap di hadapan kita, terkait Muharraam dan penanggalan Hijriyah. Apa sajakah fakta tersebut? Redaksi merangkum beberapa fakta itu sebagai berikut:
Sejak kapan Muharram dikenal sebagai bulan?
Penamaan Muharram, pertama kali muncul sebagai hasil konsensus dari Bangsa Arab ketika itu, di bawah kepemimpinan Kilab bin Murrah, buyut Rasulullah SAW.
Peristiwa tersebut berlangsung pada 412 M atau 150 tahun sebelum risalah kenabian Muhammad SAW turun.
Tradisi yang berlaku di Arab ketika itu, nama-nama bulan ditentukan oleh masing-masing suku. Misalnya, orang arab mengenal beberapa nama bulan misalnya bulan Mu’tamar dan bulan Tajir.
Sedangkan tahunnya mereka mengorelasikannya dengan kejadian-kejadian penting, seperti Tahun Gajah (Aam Fil), saat pasukan gajah Abrahah menyerang Ka’bah.
Setelah konsensus tersebut disepakati, tercetuslah 12 nama bulan Muharram dan seterusnya yang merujuk pada peredaran bulan. Selama setahun terdapat 354 hari dan tiap bulannya ada 29 dan atau 30 hari.
Dinamakan Muharram, karena sepanjang bulan ini, mereka, Bangsa Arab mengharamkan pertikaian dan pertumpahan darah selama sebulan penuh.
Rasulullah SAW Penentu Penanggalan Hijrah bukan Umar RA?
Imam as-Suyuthi dalam as-Syamarikh fi Ilmi at-Tarikh, mengemukakan fakta mencengangkan tentang siapakah yang pertama kali mempopulerkan penggunaan peristiwa hijrah sebagai patokan penanggalan.
Menurut murid ulama bermazhab Hanafi terkenal , Taqiyuddin as-Subki itu, Umar bin Khatab bukanlah sosok yang pertama kali menyerukan penggunaan peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah sebagai acuan penanggalan.
Akan tetapi, Rasulullah SAW-lah yang paling awal menyerukan penggunaannya. Informasi itu ia peroleh secara langsung dari sang guru, Bulqaini. Riwayat secara lisan itu menyambung hingga Ibnu Syihab az-Zuhri.
Dituturkannya, bahwa, konon Rasulullah pernah memerintahkan penanggalan. Ibnu Asakir membenarkan fakta tersebut. Menurutnya, riwayat inilah yang paling kuat.
Sementara, informasi yang selama ini beredar yang memerintahkan penggunaan momentum hijrah adalah Umar bin Khatab. Fakta itu salah. Ibnu Asakir menukil pernyataan Ibnu Shalah.
Ibnu Shalah yang merupakan pakar hadis itu memperoleh data yang menyatakan fakta bukan umar pertama kali yang menyerukan dari Kitab Fi as-Syuruth, karangan Abu Thahir Ibnu Mahmasy (Az Ziyadi).
Dalam kitab itu disebutkan, bahwa Rasulullah pernah menulis surat ke umat Nasrani di Najran.
Untuk penulisannya, Nabi Saw memerintahkan Ali untuk menuliskan dalam surat tersebut kalimat "Surat ini ditulis pada hari kelima sejak hijrah". Dengan yakin, As Syuthi menegaskan, penyeru penggunaan hijrah sebagai pedoman penanggalan Islam, bukan Umar bin Khatab.
"Jelas yang pertama Rasulullah, Umar hanya mengikuti," tulisnya. Pendapat ini dikuatkan dengan riwayat lain, misalnya riwayat di Kitab at- Tarikh as-Shaghir, karya imam al-Bukhari.
Bahwa, saat Umar Bin Khatab hendak menetapkan sistem penanggalan, ia mengumpulkan para sahabat dan meminta saran mereka. Ibnu al-Munayyir menyebutkan, peristiwa itu terjadi ketika masa pemerintahannya berjalan dua setengah tahun. Setelah mendapatkan masukan, ia pun memilih pendapat Ali bin Abi Thalib, bahwa acuannya ialah peristiwa hijrah.
Mengapa Tahun Hijriyah dimulai dari Muharram?
Fakta menarik berikutnya adalah, mengapa sistem penanggalan Hijriyah diawali dengan Muharram?
Padahal peristiwa Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, berlangsung bukan pada Muharram, melainkan Rabi’ul Awwal, tepatnya pada 22 Rabi’ul Awwal (24 September 622 M)?
Muharram dipilih sebagai awal tahun Hijriyah, menurut Imam as-Suyuthi dalam as-Syamarikh fi Ilmi at-Tarikh, karena sejumlah alasan dan ketetapan ini adalah murni ijtihad Umar bin al-Khatab yang diamini oleh para sahabat.
Alasan pertama, ditetapkan Muharram, karena bulan ini menjadi waktu kembalinya para jamaah haji setelah menjalankan ritual haji.
Di samping itu pula, alasan keduanya adalah, dengan menetapkan Muharram, lebih memudahkan urutan tiga bulan terlarang (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram) dalam urutan yang saling berdampingan.
Sementara alasan yang kedua, Hijrah memang berlangsung pada Rabi’ul Awwal, tapi embrio peristiwa bersejarah itu, sudah muncul dan berlangsung sejak Muharram, sehingga, saling melengkapi esensi dan substansi Hijrah.*
Perjalanan menantang, dalam misi menegakkan pilar Islam kelima dan terakhir...
Seiring waktu kita telah kehilangan begitu banyak tradisi yang indah dari Islam. Salah satunya adalah rombongan karavan peziarah haji, yang menjadi pemandangan sehari-hari di daratan semenanjung Arabia di masa lalu. Karavan ini adalah kelompok orang yang melakukan perjalanan jauh bersama-sama dan bertemu dengan kafilah yang lebih besar, dan dari sana mereka bergabung dalam perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan haji.
Jalur darat yang paling banyak diceritakan adalah dari Kairo dan dari Damaskus. Ada banyak kisah menarik tentang para peziarah haji dan perjalanan mereka. Seperti perjalanan Ibn Battuta, kisah perjalanan haji dengan kereta api, bahkan kisah mereka di atas kapal uap di awal abad ke-20. Namun dari semua kisah perjalanan ziarah haji, tantangan dan bahaya lebih banyak terjadi di masa lalu di abad ke 13, sebagai bukti keteguhan hati dan keikhlasan mereka.
Dalam sebuah perjalanan panjang ditengah gurun pasir yang terik. Sekelompok karavan bergerak perlahan melawan angin. Mereka adalah para peziarah haji yang melewatkan siang malam diatas pelana unta sementara lainnya mengikuti dengan berjalan kaki.
Kala malam tiba, dibawah langit tanpa cahaya, mereka terus melangkah mengikuti bayangan rekan-rekan mereka yang berada di barisan depan. Kusir dan penumpangnya sesekali memejam mata menikmati kantuk kemudian tersentak bangun, dan kembali terpejam. Di tengah gelapnya malam mereka melepas lelah, sambil melihat dari kejauhan tampak kereta-kereta berjalan pelan seperti menyapu permukaan gurun dengan goyangan lentera, suara samar rebana, ringkikan kuda dan unta.
Tak berapa lama, langit di timur sedikit lebih terang, menandai datangnya pagi. Rombongan kafilah kembali bersiap melangkahkan kaki di tengah hamparan pasir yang berkerikil. Saatnya matahari mulai naik memberi sedikit sengatan di kulit. Unta berdeguk, kuda pun meringkik, menolak keras untuk berdiri. Mereka sama lelahnya seperti tuan-tuan yang menunggangi mereka dan yang berjalan kaki. Namun, tanpa emosi semua kembali berjalan diatas komando yang diteriakan pemimpin rombongan kafilah.
Saat pertama kali mereka melihat satu titik kecil dalam jangkauan mata, mereka menatap dengan semangat, meskipun kembali menghilang diantara batas langit dan permukaan pasir. Dorongan semangat itu membuat kafilah berupaya menaiki Jabal Nur, sebuah bukit kecil untuk memastikan arah tujuan. Mereka mendaki lereng bukit, dan berhenti di puncak untuk memastikan titik hitam adalah ujung perjalanan mereka.
Tak jauh dari bukit tempat kafilah berdiri, ter-hampar di depan mereka Lembah Ibrahim. Tampak bangunan rumah-rumah berdinding putih, sebuah kota di tengah dataran kecil yang hijau, itulah Mekkah. Seketika tatapan mata mereka dipenuhi emosi, kerinduan yang tersimpan dalam hati, sepanjang perjalanan berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya.
Sebuah realisasi dari pengerahan tenaga yang luar biasa dari rombongan peziarah ke kota suci itu, akhirnya menemukan tujuannya, yakni Baitullah.
Perjalanan, Waktu dan Keimanan
Selama berabad-abad, jejak kaki kuda, unta, para peziarah, dan teriakan kafilah terekam di setiap sisi lembah, di desa-desa dan masjid.
Mulai dari pantai Atlantik Afrika dan Semenanjung Iberia (di ujung barat daya Eropa, meliputi Spanyol, Portugal, Andora, Gibraltar dan sebagian Perancis) sampai pantai Pasifik. Dari kawasan Cina, dari Zanzibar di Selatan ke Kaukasus hingga sisi utara Asia Tengah. Jejak jejak itu bahkan melewati sudut desa-desa di kawasan paling terpencil dunia Islam.
Setiap peziarah haji telah melewatinya dan menyimpan memori yang begitu nyata, dalam balutan keimanan.
Setiap umat muslim bisa segera memahami bahwa dalam jaringan yang luas dari ibadah haji, mereka tidak pernah benar-benar merasa asing dengan sesama muslim dari berbagai negeri. Dendangan musiknya, gaya berpakaiannya dan aksen bahasanya bisa berbeda-beda antara mereka di Tangier dan di Delhi atau antara di Samarkand dan di Mekkah.
Tetapi kalender, etiket dan banyak lagi perilaku umat muslim selalu identik dan semuanya hampir serupa.
Di mana-mana umat muslim shalat lima kali di waktu yang sama setiap hari, menghadap ke kiblat. Di mana pun itu, mereka berpuasa bersama-sama selama Ramadhan. Mereka juga bergabung dengan jamaah lain untuk menyembelih hewan qurban di akhir ritual haji. Di mana saja mereka mengamalkan kebaikan dan mengambil hikmah dari Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. < selanjutnya >
*Ditulis oleh Erwin E Ananto.
Seiring waktu kita telah kehilangan begitu banyak tradisi yang indah dari Islam. Salah satunya adalah rombongan karavan peziarah haji, yang menjadi pemandangan sehari-hari di daratan semenanjung Arabia di masa lalu. Karavan ini adalah kelompok orang yang melakukan perjalanan jauh bersama-sama dan bertemu dengan kafilah yang lebih besar, dan dari sana mereka bergabung dalam perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan haji.
Jalur darat yang paling banyak diceritakan adalah dari Kairo dan dari Damaskus. Ada banyak kisah menarik tentang para peziarah haji dan perjalanan mereka. Seperti perjalanan Ibn Battuta, kisah perjalanan haji dengan kereta api, bahkan kisah mereka di atas kapal uap di awal abad ke-20. Namun dari semua kisah perjalanan ziarah haji, tantangan dan bahaya lebih banyak terjadi di masa lalu di abad ke 13, sebagai bukti keteguhan hati dan keikhlasan mereka.
Dalam sebuah perjalanan panjang ditengah gurun pasir yang terik. Sekelompok karavan bergerak perlahan melawan angin. Mereka adalah para peziarah haji yang melewatkan siang malam diatas pelana unta sementara lainnya mengikuti dengan berjalan kaki.
Kala malam tiba, dibawah langit tanpa cahaya, mereka terus melangkah mengikuti bayangan rekan-rekan mereka yang berada di barisan depan. Kusir dan penumpangnya sesekali memejam mata menikmati kantuk kemudian tersentak bangun, dan kembali terpejam. Di tengah gelapnya malam mereka melepas lelah, sambil melihat dari kejauhan tampak kereta-kereta berjalan pelan seperti menyapu permukaan gurun dengan goyangan lentera, suara samar rebana, ringkikan kuda dan unta.
Tak berapa lama, langit di timur sedikit lebih terang, menandai datangnya pagi. Rombongan kafilah kembali bersiap melangkahkan kaki di tengah hamparan pasir yang berkerikil. Saatnya matahari mulai naik memberi sedikit sengatan di kulit. Unta berdeguk, kuda pun meringkik, menolak keras untuk berdiri. Mereka sama lelahnya seperti tuan-tuan yang menunggangi mereka dan yang berjalan kaki. Namun, tanpa emosi semua kembali berjalan diatas komando yang diteriakan pemimpin rombongan kafilah.
Saat pertama kali mereka melihat satu titik kecil dalam jangkauan mata, mereka menatap dengan semangat, meskipun kembali menghilang diantara batas langit dan permukaan pasir. Dorongan semangat itu membuat kafilah berupaya menaiki Jabal Nur, sebuah bukit kecil untuk memastikan arah tujuan. Mereka mendaki lereng bukit, dan berhenti di puncak untuk memastikan titik hitam adalah ujung perjalanan mereka.
Tak jauh dari bukit tempat kafilah berdiri, ter-hampar di depan mereka Lembah Ibrahim. Tampak bangunan rumah-rumah berdinding putih, sebuah kota di tengah dataran kecil yang hijau, itulah Mekkah. Seketika tatapan mata mereka dipenuhi emosi, kerinduan yang tersimpan dalam hati, sepanjang perjalanan berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya.
Sebuah realisasi dari pengerahan tenaga yang luar biasa dari rombongan peziarah ke kota suci itu, akhirnya menemukan tujuannya, yakni Baitullah.
Perjalanan, Waktu dan Keimanan
Selama berabad-abad, jejak kaki kuda, unta, para peziarah, dan teriakan kafilah terekam di setiap sisi lembah, di desa-desa dan masjid.
Mulai dari pantai Atlantik Afrika dan Semenanjung Iberia (di ujung barat daya Eropa, meliputi Spanyol, Portugal, Andora, Gibraltar dan sebagian Perancis) sampai pantai Pasifik. Dari kawasan Cina, dari Zanzibar di Selatan ke Kaukasus hingga sisi utara Asia Tengah. Jejak jejak itu bahkan melewati sudut desa-desa di kawasan paling terpencil dunia Islam.
Setiap peziarah haji telah melewatinya dan menyimpan memori yang begitu nyata, dalam balutan keimanan.
Setiap umat muslim bisa segera memahami bahwa dalam jaringan yang luas dari ibadah haji, mereka tidak pernah benar-benar merasa asing dengan sesama muslim dari berbagai negeri. Dendangan musiknya, gaya berpakaiannya dan aksen bahasanya bisa berbeda-beda antara mereka di Tangier dan di Delhi atau antara di Samarkand dan di Mekkah.
Tetapi kalender, etiket dan banyak lagi perilaku umat muslim selalu identik dan semuanya hampir serupa.
Di mana-mana umat muslim shalat lima kali di waktu yang sama setiap hari, menghadap ke kiblat. Di mana pun itu, mereka berpuasa bersama-sama selama Ramadhan. Mereka juga bergabung dengan jamaah lain untuk menyembelih hewan qurban di akhir ritual haji. Di mana saja mereka mengamalkan kebaikan dan mengambil hikmah dari Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. < selanjutnya >
*Ditulis oleh Erwin E Ananto.
Ratusan ribu bahkan jutaan muslim asal Indonesia, hingga hari ini telah berkumpul di wilayah kota suci Mekkah. Mereka datang ke sana sebagai tamu Allah, untuk melaksanakan ibadah haji.
Mereka berpakaian seragam putih-putih, datang dari segenap pelosok dunia, berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan status sosialnya.
Sejak mereka meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Apakah itu atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan, dan sebagainya.
Di sana tidak ada lagi diskripsi yang bersifat material, oleh karena itu perbedaan golongan, ras, ekonomi, pangkat, bangsa ataupun status sosial hanya merupakan suatu pertunjukan 'panggung' secara komunal dalam kebersamaan antar umat manusia. Pemegang peran dalam panggung ini adalah masing-masing jamaah pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang diantara mereka dipandang sama di mata Allah.
Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual haji ini, adalah pada 9 Dzulhijjah, saat mereka melakukan wuquf di Arafah. Tanpa wuquf di Arafah ini, seseorang tidak dianggap sah ibadah hajinya. Sebagaimana Rasulullah menegaskan dalam sabdanya :
"(Ibadah) haji ini adalah wukuf di Arafah"
Sejak ratusan tahun umat muslim dari Indonesia telah banyak yang berangkat ziarah ke tanah suci Mekkah. Di masa, ketika masih menggunakan kapal layar hingga kini dengan pesawat terbang, niat umat muslim tanah air untuk pergi ke tanah suci tak pernah memudar.
Di dalam sebuah ceramahnya, Buya Hamka menyampaikan kisah tentang pelaksanaan haji umat muslim nusantara di masa lalu. Ia katakan bahwa sekitar tahun 1927 itu, sewa kapal layar seharga 165 rupiah pulang pergi. Meskipun di saat itu nilai 165 rupiah sudah mahal, tetapi umat muslim berbondong-bondong berangkat ke tanah suci.
Pada tahun 1950, di bulan Agustus, dikatakan harga sewa kapal laut sudah naik menjadi tujuh ribu rupiah, dan seterusnya naik menjadi sebesar 1,5 juta dan seterusnya. Dari tahun ke tahun belum pernah harga sewa transportasi hingga hari ini turun, tetapi jumlah jamaah yang pergi ke Tanah Suci, tak pernah surut. Tahun 2015 lalu, tercatat hingga 150 ribu jamaah telah berangkat melaksanakan haji (belum terhitung yang pergi umrah).
Hamka mengatakan, ini adalah sebuah fakta betapa mustajab do'a Ibrahim AS kepada Allah Ta'ala agar Ka'bah (yang dibangunnya) itu menjadi 'magnet' yang menarik hati umat muslim di seluruh bumi untuk datang ke 'tanah yang suci', Mekkah al Mukaromah.
< sebelumnya | selanjutnya >
* Ditulis oleh Erwin E Ananto
Mereka berpakaian seragam putih-putih, datang dari segenap pelosok dunia, berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan status sosialnya.
Sejak mereka meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Apakah itu atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan, dan sebagainya.
Di sana tidak ada lagi diskripsi yang bersifat material, oleh karena itu perbedaan golongan, ras, ekonomi, pangkat, bangsa ataupun status sosial hanya merupakan suatu pertunjukan 'panggung' secara komunal dalam kebersamaan antar umat manusia. Pemegang peran dalam panggung ini adalah masing-masing jamaah pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang diantara mereka dipandang sama di mata Allah.
Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual haji ini, adalah pada 9 Dzulhijjah, saat mereka melakukan wuquf di Arafah. Tanpa wuquf di Arafah ini, seseorang tidak dianggap sah ibadah hajinya. Sebagaimana Rasulullah menegaskan dalam sabdanya :
"(Ibadah) haji ini adalah wukuf di Arafah"
Sejak ratusan tahun umat muslim dari Indonesia telah banyak yang berangkat ziarah ke tanah suci Mekkah. Di masa, ketika masih menggunakan kapal layar hingga kini dengan pesawat terbang, niat umat muslim tanah air untuk pergi ke tanah suci tak pernah memudar.Di dalam sebuah ceramahnya, Buya Hamka menyampaikan kisah tentang pelaksanaan haji umat muslim nusantara di masa lalu. Ia katakan bahwa sekitar tahun 1927 itu, sewa kapal layar seharga 165 rupiah pulang pergi. Meskipun di saat itu nilai 165 rupiah sudah mahal, tetapi umat muslim berbondong-bondong berangkat ke tanah suci.
Pada tahun 1950, di bulan Agustus, dikatakan harga sewa kapal laut sudah naik menjadi tujuh ribu rupiah, dan seterusnya naik menjadi sebesar 1,5 juta dan seterusnya. Dari tahun ke tahun belum pernah harga sewa transportasi hingga hari ini turun, tetapi jumlah jamaah yang pergi ke Tanah Suci, tak pernah surut. Tahun 2015 lalu, tercatat hingga 150 ribu jamaah telah berangkat melaksanakan haji (belum terhitung yang pergi umrah).
Hamka mengatakan, ini adalah sebuah fakta betapa mustajab do'a Ibrahim AS kepada Allah Ta'ala agar Ka'bah (yang dibangunnya) itu menjadi 'magnet' yang menarik hati umat muslim di seluruh bumi untuk datang ke 'tanah yang suci', Mekkah al Mukaromah.
< sebelumnya | selanjutnya >
* Ditulis oleh Erwin E Ananto
Sepanjang awal abad ke13, umat muslim sama sekali tidak memerlukan tiket pesawat untuk berziarah haji.
Perjalanan haji masa lalu adalah maraton yang sangat panjang di tengah medan yang tak mengenal ampun, dan ziarah itu bisa memakan waktu puluhan tahun bila seseorang harus berhenti dalam perjalanan untuk bekerja dan menyimpan sebelum berangkat melanjutkan perjalanan kembali.
Bahkan perjalanan darat sering 'dikotori' dan 'rusak' oleh para perampok, serangan penyakit, kekurangan air atau tersesat dan hilang. Dan setiap peziarah yang berlayar di lautan pun mengetahui bahwa laut telah menelan banyak kapal layar beserta para penumpangnya. Juga risiko sering dikenakan pungutan pajak kepada peziarah untuk membatasi mereka, tapi ini tidak sedikit pun membuat surut arus kedatangan para peziarah haji di masa itu.
Keteguhan iman para peziarah haji dalam perjalanan itu mengalahkan kemampuan pasukan kerajaan yang bertahan dalam situasi perang, kelaparan dan serangan wabah penyakit. Kisah perjalanan ziarah haji masa lalu itu, selalu menginspirasi umat muslim selama berabad-abad dan memberi gambaran nyata atas pengorbanan dan keikhlasan, juga keimanan, dan pengagungan kepada Allah Ta'ala.
Kisah para peziarah, kafilah dari berbagai rute itu menjadi perekat yang menyatukan seluruh peradaban Islam di semua jaman. Semuanya makin mempertegas bahwa perjalanan ke tanah suci bukan sekadar destinasi wisata.
Tahun-tahun terakhir, jamaah haji datang dengan cara yang sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat masif. Hanya diperlukan selama 75 tahun untuk merealisasi perjalanan dengan kapal uap, kereta api, bus serta pesawat. Setelah semua itu tersedia, maka rute-rute darat yang telah bertahan selama hampir 13 abad itu, menjadi tampak usang.
Pada akhir abad ke-19, terutama setelah dibukanya Terusan Suez, terjadi peningkat-an jumlah peziarah yang menuju Mekkah dengan kapal laut yang berlabuh di dermaga di Jeddah. Tidak hanya orang Mesir yang turun ke laut, tapi dari Suriah dan Anatolia pun berlayar dari Beirut melalui kanal-kanal, dan jumlahnya terus bertambah dari India serta Indonesia yang tiba dari Samudera Hindia.
Tahun 1908 pembukaan Hijaz Railway dari Damaskus ke Jeddah menjadi awal hilang-nya tradisi perjalanan kafilah Damaskus. Setelah Perang Dunia II, rute ke Mekkah itu ditandai semakin banyak melalui udara. Tahun 1990, sebesar 95 persen jamaah haji dari luar Saudi (dan banyak orang-orang Arab) tiba dengan pesawat terbang. Hanya beberapa gelintir peziarah yang lewat jalur darat, sebagian besar dari negara-negara Timur Tengah yang berbatasan Arab Saudi, mereka meluncur di jalan raya dengan bus ber-AC berkecepatan tinggi.
Dan itu menjadi akhir dari abad 'kelompok kafilah' yang penuh pengorbanan, usaha keras, kesabaran dan keimanan, yang menjadi ujian bagi para peziarah haji dalam menjelajah ke negeri-negeri yang tidak dikenalnya. Sarat dengan tantangan dan bahaya di tengah gurun. Namun di atas pelana unta itu, mereka memiliki keyakinan untuk memenuhi 'undangan' Allah Ta'ala.
< sebelumnya | selanjutnya >
* Ditulis oleh Erwin E Ananto
Perjalanan haji masa lalu adalah maraton yang sangat panjang di tengah medan yang tak mengenal ampun, dan ziarah itu bisa memakan waktu puluhan tahun bila seseorang harus berhenti dalam perjalanan untuk bekerja dan menyimpan sebelum berangkat melanjutkan perjalanan kembali.
Bahkan perjalanan darat sering 'dikotori' dan 'rusak' oleh para perampok, serangan penyakit, kekurangan air atau tersesat dan hilang. Dan setiap peziarah yang berlayar di lautan pun mengetahui bahwa laut telah menelan banyak kapal layar beserta para penumpangnya. Juga risiko sering dikenakan pungutan pajak kepada peziarah untuk membatasi mereka, tapi ini tidak sedikit pun membuat surut arus kedatangan para peziarah haji di masa itu.
Keteguhan iman para peziarah haji dalam perjalanan itu mengalahkan kemampuan pasukan kerajaan yang bertahan dalam situasi perang, kelaparan dan serangan wabah penyakit. Kisah perjalanan ziarah haji masa lalu itu, selalu menginspirasi umat muslim selama berabad-abad dan memberi gambaran nyata atas pengorbanan dan keikhlasan, juga keimanan, dan pengagungan kepada Allah Ta'ala.
Kisah para peziarah, kafilah dari berbagai rute itu menjadi perekat yang menyatukan seluruh peradaban Islam di semua jaman. Semuanya makin mempertegas bahwa perjalanan ke tanah suci bukan sekadar destinasi wisata.
Tahun-tahun terakhir, jamaah haji datang dengan cara yang sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat masif. Hanya diperlukan selama 75 tahun untuk merealisasi perjalanan dengan kapal uap, kereta api, bus serta pesawat. Setelah semua itu tersedia, maka rute-rute darat yang telah bertahan selama hampir 13 abad itu, menjadi tampak usang.
Pada akhir abad ke-19, terutama setelah dibukanya Terusan Suez, terjadi peningkat-an jumlah peziarah yang menuju Mekkah dengan kapal laut yang berlabuh di dermaga di Jeddah. Tidak hanya orang Mesir yang turun ke laut, tapi dari Suriah dan Anatolia pun berlayar dari Beirut melalui kanal-kanal, dan jumlahnya terus bertambah dari India serta Indonesia yang tiba dari Samudera Hindia.
Tahun 1908 pembukaan Hijaz Railway dari Damaskus ke Jeddah menjadi awal hilang-nya tradisi perjalanan kafilah Damaskus. Setelah Perang Dunia II, rute ke Mekkah itu ditandai semakin banyak melalui udara. Tahun 1990, sebesar 95 persen jamaah haji dari luar Saudi (dan banyak orang-orang Arab) tiba dengan pesawat terbang. Hanya beberapa gelintir peziarah yang lewat jalur darat, sebagian besar dari negara-negara Timur Tengah yang berbatasan Arab Saudi, mereka meluncur di jalan raya dengan bus ber-AC berkecepatan tinggi.
Dan itu menjadi akhir dari abad 'kelompok kafilah' yang penuh pengorbanan, usaha keras, kesabaran dan keimanan, yang menjadi ujian bagi para peziarah haji dalam menjelajah ke negeri-negeri yang tidak dikenalnya. Sarat dengan tantangan dan bahaya di tengah gurun. Namun di atas pelana unta itu, mereka memiliki keyakinan untuk memenuhi 'undangan' Allah Ta'ala.
< sebelumnya | selanjutnya >
* Ditulis oleh Erwin E Ananto
Bekal utama, Keikhlasan Hati
Ziarah ke tanah suci Mekkah dan Madinah, sama sekali berbeda dengan berwisata seperti ke Roma, London, Paris, Spanyol, San Fransisco dan kota-kota bersejarah lainnya. Tujuan pergi ke Mekkah adalah untuk memenuhi panggilan Allah Ta'ala, sekurang-kurangnya sekali seumur hidup, "manis tatho'a ilaihi sabila" (orang-orang yang sanggup berjalan ke sana), berjalan di tempat yang panas di padang tandus.
Sebagaimaan madzhab lama, ada yang menyatakan "hendaklah kita semua sanggup berjalan kesana." Buya Hamka mengkisahkan, suatu hari dalam sebuah perjalanan haji, Ia berkendara dari kota Madinah menuju Mekkah. Ia melihat seorang pria yang sedang berjalan kaki di tengah gurun. Ia berhenti dan turun dari kendaraannya untuk menemui pria itu, dan bertanya dari mana dan mau kemana ia (pria itu) akan pergi. Pria itu mengatakan, dia dari negeri Afganistan hendak pergi ke Madinah.
Lalu ia kembali ke mobil dan mengambil sebuah bingkisan, untuk diberikan kepada pria itu sebagai oleh-oleh (hadiah) untuk perjalanannya. Menerima bingkisan itu, seketika pria itu mengucap "Alhamdulillah" dan meneteskan air mata.
Kejadian ini, menurutnya dapat menjadi pengingat bahwa tidak sedikit umat muslim yang mau berjuang dalam perjalanan (jalan kaki) menuju ke Mekkah dengan dipenuhi keikhlasan dalam hatinya.
Di lain kisah, pengalaman haji Presiden Soekarno selama menunaikan ibadahnya di Mekkah. Suatu ketika, ia pun sampai di hadapan Rhaudah, ia berlutut di depan makam Rasulullah dan memanjatkan do'a-do'a tanpa sanggup menahan isakan tangis. Itu pun terjadi dalam pengalaman Bung Hatta ketika ia berhaji ke tanah suci.
Begitulah kiranya isi hati umat muslim, yang penuh cinta dan keikhlasan dalam berangkat memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci. Sebuah tempat yang sangat berbeda dari tempat-tempat ziarah lain seperti masjid Sevila, Kordova, Alhambra, dan tempat-tempat indah dan 'keramat' lain di berbagai belahan bumi.
Kerinduan hati umat muslim hanya tertaut ke tanah suci Mekkah dan Madinah, yang setiap sudut kota dipenuh dengan hidayah.
Bagaimana pun juga setelah mereka sampai ke tanah air. Dalam ingatan umat muslim masih lengkap terbayang thawaf mengitari Ka'bah, mengambil air di sumur zam-zam, shalat di makam Ibrahim AS, mencium hajar aswad, wuquf di Arafah di dalam ribuan tenda dan melantunkan dzikir dan doa, bersama berjuta umat muslim sedunia, di satu tempat yang sama.
Dimensi Keikhlasan beribadah
Islam mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah. Karena hanya dengan niat yang terikhlaslah akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa manusia dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhlasan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah.
Ibadah Haji dan Umrah memiliki hikmah dalam memperteguh hati agar menjadi ranah subur bagi tumbuhnya keimanan kepada Allah Ta'ala.
Dengan demikian, haji atau pun umrah sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan kita, agar kita mengorientasikan tujuan kehidupan ini semata-mata hanya untuk mencapai ridha Allah.
< sebelumnya |
*Ditulis oleh Erwin E Ananto - Jumrah.com
Ziarah ke tanah suci Mekkah dan Madinah, sama sekali berbeda dengan berwisata seperti ke Roma, London, Paris, Spanyol, San Fransisco dan kota-kota bersejarah lainnya. Tujuan pergi ke Mekkah adalah untuk memenuhi panggilan Allah Ta'ala, sekurang-kurangnya sekali seumur hidup, "manis tatho'a ilaihi sabila" (orang-orang yang sanggup berjalan ke sana), berjalan di tempat yang panas di padang tandus.
Sebagaimaan madzhab lama, ada yang menyatakan "hendaklah kita semua sanggup berjalan kesana." Buya Hamka mengkisahkan, suatu hari dalam sebuah perjalanan haji, Ia berkendara dari kota Madinah menuju Mekkah. Ia melihat seorang pria yang sedang berjalan kaki di tengah gurun. Ia berhenti dan turun dari kendaraannya untuk menemui pria itu, dan bertanya dari mana dan mau kemana ia (pria itu) akan pergi. Pria itu mengatakan, dia dari negeri Afganistan hendak pergi ke Madinah.
Lalu ia kembali ke mobil dan mengambil sebuah bingkisan, untuk diberikan kepada pria itu sebagai oleh-oleh (hadiah) untuk perjalanannya. Menerima bingkisan itu, seketika pria itu mengucap "Alhamdulillah" dan meneteskan air mata.
Kejadian ini, menurutnya dapat menjadi pengingat bahwa tidak sedikit umat muslim yang mau berjuang dalam perjalanan (jalan kaki) menuju ke Mekkah dengan dipenuhi keikhlasan dalam hatinya.
Di lain kisah, pengalaman haji Presiden Soekarno selama menunaikan ibadahnya di Mekkah. Suatu ketika, ia pun sampai di hadapan Rhaudah, ia berlutut di depan makam Rasulullah dan memanjatkan do'a-do'a tanpa sanggup menahan isakan tangis. Itu pun terjadi dalam pengalaman Bung Hatta ketika ia berhaji ke tanah suci.
Begitulah kiranya isi hati umat muslim, yang penuh cinta dan keikhlasan dalam berangkat memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci. Sebuah tempat yang sangat berbeda dari tempat-tempat ziarah lain seperti masjid Sevila, Kordova, Alhambra, dan tempat-tempat indah dan 'keramat' lain di berbagai belahan bumi.
Kerinduan hati umat muslim hanya tertaut ke tanah suci Mekkah dan Madinah, yang setiap sudut kota dipenuh dengan hidayah.
Bagaimana pun juga setelah mereka sampai ke tanah air. Dalam ingatan umat muslim masih lengkap terbayang thawaf mengitari Ka'bah, mengambil air di sumur zam-zam, shalat di makam Ibrahim AS, mencium hajar aswad, wuquf di Arafah di dalam ribuan tenda dan melantunkan dzikir dan doa, bersama berjuta umat muslim sedunia, di satu tempat yang sama.
Dimensi Keikhlasan beribadah
Islam mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah. Karena hanya dengan niat yang terikhlaslah akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa manusia dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhlasan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah.
Ibadah Haji dan Umrah memiliki hikmah dalam memperteguh hati agar menjadi ranah subur bagi tumbuhnya keimanan kepada Allah Ta'ala.
Dengan demikian, haji atau pun umrah sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan kita, agar kita mengorientasikan tujuan kehidupan ini semata-mata hanya untuk mencapai ridha Allah.
< sebelumnya |
*Ditulis oleh Erwin E Ananto - Jumrah.com
Imam Al Qurthubi menceritakan bahwa suatu hari kala Umar bin Khattab Radhiyallahu'anhu masih menjabat sebagai Khalifah, tanpa sengaja ia berjumpa dengan seorang wanita tua di jalan. Saat itu, sang Khalifah sedang menunggang kuda diiringi banyak orang yang juga menunggang kuda.
Dalam pertemuan saat itu, nenek itu memanggilnya dan memintanya berhenti, dan Umar pun berhenti. Lalu ia bercakap dan menasihati Umar lama sekali.
Kepada Umar ia mengatakan, "Hai Umar, dulu kau dipanggil Umair (Umar kecil), lalu engkau dipanggil Umar, dan kemudian engkau dipanggil Amirul Mukminin, maka bertaqwalah engkau, wahai Umar. Karena barang siapa yang meyakini adanya kematian, ia akan takut kehilangan kesempatan. Dan barang siapa yang meyakini adanya perhitungan (amal), maka ia pasti takut kepada siksa."
Umar bin Khattab berdiri terpaku cukup lama menyimak nasihatnya itu. Hingga setelah beberapa waktu, ada seorang yang bertanya kepada Umar, "Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau mau berdiri seperti itu untuk mendengarkan wanita tua renta ini?"
Umar pun menjawab, "Demi Allah, kalau sekiranya beliau menahanku dari permulaan siang hingga siang ini berakhir, aku tidak akan bergeser kecuali untuk shalat fardhu. Tahukah kalian siapa perempuan renta ini?"
"Dia adalah Khawlah binti Tsalabah. Allah Ta'ala mendengar perkataannya dari atas tujuh lapis langit. Apakah Tuhan semesta alam mendengarkan ucapannya, tetapi lantas Umar tidak mendengarkannya?"
Khawlah binti Tsa’labah bin Ashram, demikian nama wanita itu. Ia berasal dari kaum Anshar. Do'a dan gugatannya itu didengar oleh Allah Ta'ala hingga menjadi sebab turunnya Surat Mujadalah ayat 1-4.
Kisah ini tidak hanya menunjukkan kemuliaan Khaulah, perempuan tua itu, melainkan juga keindahan adab Umar, sang Khalifah yang sangat santun.
jumrahonline | jumrah.com
Dalam pertemuan saat itu, nenek itu memanggilnya dan memintanya berhenti, dan Umar pun berhenti. Lalu ia bercakap dan menasihati Umar lama sekali.
Kepada Umar ia mengatakan, "Hai Umar, dulu kau dipanggil Umair (Umar kecil), lalu engkau dipanggil Umar, dan kemudian engkau dipanggil Amirul Mukminin, maka bertaqwalah engkau, wahai Umar. Karena barang siapa yang meyakini adanya kematian, ia akan takut kehilangan kesempatan. Dan barang siapa yang meyakini adanya perhitungan (amal), maka ia pasti takut kepada siksa."
Umar bin Khattab berdiri terpaku cukup lama menyimak nasihatnya itu. Hingga setelah beberapa waktu, ada seorang yang bertanya kepada Umar, "Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau mau berdiri seperti itu untuk mendengarkan wanita tua renta ini?"
Umar pun menjawab, "Demi Allah, kalau sekiranya beliau menahanku dari permulaan siang hingga siang ini berakhir, aku tidak akan bergeser kecuali untuk shalat fardhu. Tahukah kalian siapa perempuan renta ini?"
"Dia adalah Khawlah binti Tsalabah. Allah Ta'ala mendengar perkataannya dari atas tujuh lapis langit. Apakah Tuhan semesta alam mendengarkan ucapannya, tetapi lantas Umar tidak mendengarkannya?"
Khawlah binti Tsa’labah bin Ashram, demikian nama wanita itu. Ia berasal dari kaum Anshar. Do'a dan gugatannya itu didengar oleh Allah Ta'ala hingga menjadi sebab turunnya Surat Mujadalah ayat 1-4.
Kisah ini tidak hanya menunjukkan kemuliaan Khaulah, perempuan tua itu, melainkan juga keindahan adab Umar, sang Khalifah yang sangat santun.
jumrahonline | jumrah.com
Untuk yang ingin beribadah umroh diawal tahun baru disarankan untuk lebih menjaga kesehatan agar tidak mengalami gangguan karena suhu udara ekstrim di Saudi Arabia.
Temperatur udara di Saudi Arabia di awal tahun 2016 ini dikabarkan mencapai angka dibawah 20 derajat celcius pada siang hari dan 10 derajat celcius di malam hari.
Staf Departemen ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Ari Fahrial Syam menyarankan, masyarakat yang akan menjalani ibadah umroh di awal tahun baru ini, agar lebih mampu menjaga kesehatan agar terhindar dari gangguan penyakit akibat suhu yang ekstrim ini.
"Jika para jamaah tidak mengantisipasi udara dingin itu dapat mengalami gangguan kesehatan berupa mimisan, batuk pilek dan bibir pecah-pecah sehingga menurunkan nafsu makannya"
Tentu kondisi ini sangat mengganggu para jamaah yang sedang melaksanakan ibadah umrah," tulis Ari yang juga sekaligus mantan petugas kesehatan haji ini dalam rilis yang diterima redaksi, Senin 4 Januari 2016.
Tiga penyakit yang timbul akibat suhu udara yang ekstrem tersebut :
Pertama, penyakit yang sudah ada sebelumnya pada jamaah itu yang mengalami kekambuhan karena udara yang dingin, antara lain asma (sesak nafas), pilek alergi (rinitis alergi), sinusitis serta alergi kulit karena udara dingin.
Kedua, penyakit yang timbul langsung akibat udara dingin : kulit menjadi kering, kulit telapak kaki menjadi pecah-pecah, timbul pecah-pecah pada bibir dan kadang kala timbul mimisan. Jika paparan udara dingin terus berlangsung akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia) yang akan mengancam jiwa jamaah umrah.
Ketiga, penyakit yang tidak terjadi secara langsung sebagai akibat udara dingin tersebut. Jamaah yang tertular batuk-pilek dari teman sekamar yang kebetulan mempunyai alergi dan terinfeksi sehingga dapat menularkan kepada yang lain.
"Para jamaah yang mempunyai resiko tinggi gangguan kesehatan karena cuaca dingin yaitu para jamaah usia lanjut, para jamaah yang mempunyai penyakit diabetes, gangguan jantung dan pembuluh darah serta para jamaah yang mempunyai masalah dengan tiroidnya," tulisnya.
Selain faktor cuaca keadaan lain yang dapat memperburuk kesehatan para jamaah adalah kelelahan akibat perjalanan yang lama dan melelahkan.
"Hal yang perlu dicermati para jamaah dan para pengelola ibadah umrah, agar bagi para jamaah tersedia waktu istirahat yang cukup setelah sampai di penginapan. Rasa bersyukur kadang kala mengalahkan rasa lelah. Walau bagaimanapun secara keseluruhan tubuh kita juga perlu istirahat," kata Ari.
jumrahonline | jumrah.com
Temperatur udara di Saudi Arabia di awal tahun 2016 ini dikabarkan mencapai angka dibawah 20 derajat celcius pada siang hari dan 10 derajat celcius di malam hari.
Staf Departemen ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Ari Fahrial Syam menyarankan, masyarakat yang akan menjalani ibadah umroh di awal tahun baru ini, agar lebih mampu menjaga kesehatan agar terhindar dari gangguan penyakit akibat suhu yang ekstrim ini.
"Jika para jamaah tidak mengantisipasi udara dingin itu dapat mengalami gangguan kesehatan berupa mimisan, batuk pilek dan bibir pecah-pecah sehingga menurunkan nafsu makannya"
Tentu kondisi ini sangat mengganggu para jamaah yang sedang melaksanakan ibadah umrah," tulis Ari yang juga sekaligus mantan petugas kesehatan haji ini dalam rilis yang diterima redaksi, Senin 4 Januari 2016.
Tiga penyakit yang timbul akibat suhu udara yang ekstrem tersebut :
Pertama, penyakit yang sudah ada sebelumnya pada jamaah itu yang mengalami kekambuhan karena udara yang dingin, antara lain asma (sesak nafas), pilek alergi (rinitis alergi), sinusitis serta alergi kulit karena udara dingin.
Kedua, penyakit yang timbul langsung akibat udara dingin : kulit menjadi kering, kulit telapak kaki menjadi pecah-pecah, timbul pecah-pecah pada bibir dan kadang kala timbul mimisan. Jika paparan udara dingin terus berlangsung akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia) yang akan mengancam jiwa jamaah umrah.
Ketiga, penyakit yang tidak terjadi secara langsung sebagai akibat udara dingin tersebut. Jamaah yang tertular batuk-pilek dari teman sekamar yang kebetulan mempunyai alergi dan terinfeksi sehingga dapat menularkan kepada yang lain.
"Para jamaah yang mempunyai resiko tinggi gangguan kesehatan karena cuaca dingin yaitu para jamaah usia lanjut, para jamaah yang mempunyai penyakit diabetes, gangguan jantung dan pembuluh darah serta para jamaah yang mempunyai masalah dengan tiroidnya," tulisnya.
Selain faktor cuaca keadaan lain yang dapat memperburuk kesehatan para jamaah adalah kelelahan akibat perjalanan yang lama dan melelahkan.
"Hal yang perlu dicermati para jamaah dan para pengelola ibadah umrah, agar bagi para jamaah tersedia waktu istirahat yang cukup setelah sampai di penginapan. Rasa bersyukur kadang kala mengalahkan rasa lelah. Walau bagaimanapun secara keseluruhan tubuh kita juga perlu istirahat," kata Ari.
jumrahonline | jumrah.com
Dana setoran lunas haji yang dikembalikan kepada Jemaah (haji) sebagai bekal perjalanan, biasanya menggunakan mata uang asing (valuta asing/valas).
Setoran awal dilakukan dengan rupiah, lalu pelunasan dilakukan dengan dollar dan pengembalian dana jamaah yang disebut dengan living cost itu dalam bentuk real. Begitulah praktiknya yang umumnya berjalan tiap tahun.
Tetapi mengapa pemerintah menggunakan mata uang asing? Ada baiknya kita lihat sejarah biaya penyelenggaraan ibadah haji. Sebelum 2001 untuk menjadi bahan kajian sebelum pemerintah menetapkan kebijakan.
Penyelenggaraan haji sebelum 2001 biayanya ditetapkan dalam rupiah, bahkan living cost-nya pun juga dalam bentuk rupiah. Sejak saat itu hingga sekarang (2015), biaya penyelenggaan ibadah haji ditetapkan dalam dollar dan living cost-nya dalam bentuk real.
Proses valas ini memiliki implikasi, terutama kecenderungan apresiasi mata uang asing terhadap rupiah dan margin lembaga keuangan atas komisi pertukaran mata uang asing saat pemberian living cost dalam bentuk real. Bisa mencapai 1 persen atau lebih, komisi uang asing akan menambah beban pertukaran mata uang tersebut.
Pada tiga wilayah kunjungan perjalanan ibadah haji di Arab Saudi; Jeddah, Makkah, dan Madinah dalam satu waktu musim haji adalah tempat berkumpulnya jemaah haji dari seluruh dunia. Mata uang negara yang dibawa jemaah haji berlaku dan menjadi nilai tukar yang sah setidaknya pada saat itu.
Cina salah satu contoh negara yang menganut sistem memberikan kepada jemaah hajinya uang untuk living cost yang bersumber dari setoran lunas jemaahnya sendiri. Biaya penyelenggaraan ibadah haji mereka sebesar 25.000 yuan renminbi. Jemaah haji Cina diberikan penyelenggaranya sebesar 5.000 yuan reminbi, dalam mata uang yuan reminbi sampai jemaah hajinya tiba di Arab Saudi.
Ada baiknya pemerintah meniru pola living cost jemaah haji Cina. Sebab setidaknya eksistensi rupiah dicintai oleh bangsa sendiri di negeri lain, potensi kebocoran, biaya komisi uang asing, dan menekan laju inflasi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah dan Anda, terkait dengan living cost ini.
Pertama, living cost ditiadakan maka dipastikan biaya haji akan semakin murah. Kedua, living cost diberikan maka diberikan langsung oleh pihak perbankan saat keberangkatan jemaah haji. Pemberiannyapun dalam bentuk dollar, real atau dalam rupiah sesuai kurs saat pelunasan dilakukan.
Ketiga, jika living cost diberikan, maka diberikan dalam bentuk kartu merchant yang sudah bekerjasama dengan seluruh gerai market yang berada di Arab Saudi. Untuk yang ini perlu waktu terkait kemampuan berfikir jemaah yang tidak sama dampak dari keragaman jemaah itu sendiri.
Penulis: Affan Rangkuti, Ahli Penyelenggara Haji-Umroh & Kepala Sistem Komputerasi Haji Terpadu (Siskohat)
jumrahonline | jumrah.com
Setoran awal dilakukan dengan rupiah, lalu pelunasan dilakukan dengan dollar dan pengembalian dana jamaah yang disebut dengan living cost itu dalam bentuk real. Begitulah praktiknya yang umumnya berjalan tiap tahun.
Tetapi mengapa pemerintah menggunakan mata uang asing? Ada baiknya kita lihat sejarah biaya penyelenggaraan ibadah haji. Sebelum 2001 untuk menjadi bahan kajian sebelum pemerintah menetapkan kebijakan.
Penyelenggaraan haji sebelum 2001 biayanya ditetapkan dalam rupiah, bahkan living cost-nya pun juga dalam bentuk rupiah. Sejak saat itu hingga sekarang (2015), biaya penyelenggaan ibadah haji ditetapkan dalam dollar dan living cost-nya dalam bentuk real.
Proses valas ini memiliki implikasi, terutama kecenderungan apresiasi mata uang asing terhadap rupiah dan margin lembaga keuangan atas komisi pertukaran mata uang asing saat pemberian living cost dalam bentuk real. Bisa mencapai 1 persen atau lebih, komisi uang asing akan menambah beban pertukaran mata uang tersebut.
Pada tiga wilayah kunjungan perjalanan ibadah haji di Arab Saudi; Jeddah, Makkah, dan Madinah dalam satu waktu musim haji adalah tempat berkumpulnya jemaah haji dari seluruh dunia. Mata uang negara yang dibawa jemaah haji berlaku dan menjadi nilai tukar yang sah setidaknya pada saat itu.
Cina salah satu contoh negara yang menganut sistem memberikan kepada jemaah hajinya uang untuk living cost yang bersumber dari setoran lunas jemaahnya sendiri. Biaya penyelenggaraan ibadah haji mereka sebesar 25.000 yuan renminbi. Jemaah haji Cina diberikan penyelenggaranya sebesar 5.000 yuan reminbi, dalam mata uang yuan reminbi sampai jemaah hajinya tiba di Arab Saudi.
Ada baiknya pemerintah meniru pola living cost jemaah haji Cina. Sebab setidaknya eksistensi rupiah dicintai oleh bangsa sendiri di negeri lain, potensi kebocoran, biaya komisi uang asing, dan menekan laju inflasi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah dan Anda, terkait dengan living cost ini.
Pertama, living cost ditiadakan maka dipastikan biaya haji akan semakin murah. Kedua, living cost diberikan maka diberikan langsung oleh pihak perbankan saat keberangkatan jemaah haji. Pemberiannyapun dalam bentuk dollar, real atau dalam rupiah sesuai kurs saat pelunasan dilakukan.
Ketiga, jika living cost diberikan, maka diberikan dalam bentuk kartu merchant yang sudah bekerjasama dengan seluruh gerai market yang berada di Arab Saudi. Untuk yang ini perlu waktu terkait kemampuan berfikir jemaah yang tidak sama dampak dari keragaman jemaah itu sendiri.
Penulis: Affan Rangkuti, Ahli Penyelenggara Haji-Umroh & Kepala Sistem Komputerasi Haji Terpadu (Siskohat)
jumrahonline | jumrah.com
Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat.
Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi.
Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu. Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat.
(Simak : Kajian Ilmiah Seputar Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW)
Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.
Lantas, bagaimana hukumnya mengucap selamat tahun baru? Mengingat tidak ada anjuran untuk perayaan pergantian tahun dalam Islam, mengucapkan ucapan tersebut bukan sebuah masalah.
Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi. Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu.
Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat. Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.
Kebiasaan semacam ini bukanlah sesuatu yang baru (bid’ah). Perihal ini sudah ada sejak dulu kala. Orang dulu juga terbiasa menyapa koleganya dengan “Selamat Tahun Baru” menjelang tahun baru datang. Meskipun tak dipungkiri, sebagian orang menafikan kebolehannya dan mengategorikannya sebagai perbuatan terlarang.
Terkait permasalahan ini, Imam As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawa menuturkan sebagai berikut.
أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة
Al-Hafidz Abu Hasan al-Maqdisi ditanya tentang hukum mengucapkan “Selamat bulan baru dan tahun baru”, apakah bid’ah atau tidak? Ia menjawab, “Banyak orang berbeda pendapat mengenai hal ini. Menurut pendapat saya, hukumnya adalah mubah, tidak termasuk sunah ataupun bid’ah.”
Memberi ucapan selamat tahun baru terbilang masalah khilafiyah. Hukumnya masih diperdebatkan oleh para ulama. Karenanya, dibutuhkan kearifan dalam menyikapinya. Menurut Abu Hasan al-Maqdisi, seperti yang dinukil as-Suyuthi, hukumnya ialah mubah. Ia tidak termasuk perbuatan yang disunahkan dan tidak pula bid’ah.
Siapapun diperbolehkan mengucapakan kalimat ini. Terlebih lagi, bila ucapan tersebut dapat menambah keakraban di antara masyarakat. Orang yang sudah sekian lama tidak bertegur sapa, bisa jadi dengan adanya momen tahun baru, ucapan selamat bisa menjadi media baginya untuk berkomunikasi kembali. Wallahu a’lam.
jumrahonline | jumrah.com
Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi.
Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu. Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat.
(Simak : Kajian Ilmiah Seputar Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW)
Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.
Lantas, bagaimana hukumnya mengucap selamat tahun baru? Mengingat tidak ada anjuran untuk perayaan pergantian tahun dalam Islam, mengucapkan ucapan tersebut bukan sebuah masalah.
Mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya sudah membumi dalam masyarakat. Kalimat ini keluar secara spontan ketika menjelang tahun baru, baik hijriyah maupun masehi. Biasanya kalimat ini diiringi dengan doa dan harapan agar karir ataupun amal di tahun berikutnya lebih baik daripada tahun lalu.
Ucapan ini seakan-akan sudah menjadi rutinitas di saat tahun baru. Kurang afdhal rasanya menyambut tahun baru tanpa ucapan selamat. Karenanya, bisa dimengerti bila begitu semangatnya netizen memberi ucapan selamat melalui media sosial atau secara langsung.
Kebiasaan semacam ini bukanlah sesuatu yang baru (bid’ah). Perihal ini sudah ada sejak dulu kala. Orang dulu juga terbiasa menyapa koleganya dengan “Selamat Tahun Baru” menjelang tahun baru datang. Meskipun tak dipungkiri, sebagian orang menafikan kebolehannya dan mengategorikannya sebagai perbuatan terlarang.
Terkait permasalahan ini, Imam As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawa menuturkan sebagai berikut.
أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة
Al-Hafidz Abu Hasan al-Maqdisi ditanya tentang hukum mengucapkan “Selamat bulan baru dan tahun baru”, apakah bid’ah atau tidak? Ia menjawab, “Banyak orang berbeda pendapat mengenai hal ini. Menurut pendapat saya, hukumnya adalah mubah, tidak termasuk sunah ataupun bid’ah.”
Memberi ucapan selamat tahun baru terbilang masalah khilafiyah. Hukumnya masih diperdebatkan oleh para ulama. Karenanya, dibutuhkan kearifan dalam menyikapinya. Menurut Abu Hasan al-Maqdisi, seperti yang dinukil as-Suyuthi, hukumnya ialah mubah. Ia tidak termasuk perbuatan yang disunahkan dan tidak pula bid’ah.
Siapapun diperbolehkan mengucapakan kalimat ini. Terlebih lagi, bila ucapan tersebut dapat menambah keakraban di antara masyarakat. Orang yang sudah sekian lama tidak bertegur sapa, bisa jadi dengan adanya momen tahun baru, ucapan selamat bisa menjadi media baginya untuk berkomunikasi kembali. Wallahu a’lam.
jumrahonline | jumrah.com
Begitu berartinya waktu dalam kehidupan kita. Islam telah memberikan gambaran yang utuh tentang memuliakan waktu, karakteristik waktu dan rahasia manajemen waktu nabi.
Dalam Al-Qur’an, Allah telah menempatkan waktu pada posisi yang sangat tinggi.
"Dan mereka berkata” kehidupan ini tidak lain saat kita berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali dahr (perjalanan waktu yang dilalui oleh alam)." (QS Al-Jaatsiyah: 24).
Alquran dan sunah sangat perhatian terhadap waktu dari berbagai sisi dan dengan gambaran yang bermacam-macam. Allah SWT telah bersumpah dengan waktu-waktu tertentu dalam beberapa surah Alquran, seperti al-Lail (waktu malam), an-Nahar (waktu siang), al-Fajr (waktu fajar), adh-Dhuha (waktu matahari sepenggalahan naik), al-‘Ashr (masa).
Sebagaimana firman Allah (QS al-Lail 92: 1-2; QS al-Fajr 89: 1-2; QS adh-Dhuha 93: 1-2; QS al-‘Ashr 103: 1-2). Ketika Allah SWT bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka hal itu menunjukkan urgensi dan keagungan hal tersebut. Dan agar manusia mengalihkan perhatian mereka kepadanya sekaligus mengingatkan akan manfaatnya yang besar.
Rasulullah SAW pun telah mengabarkan bahwasanya waktu adalah salah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah kepada hamba-Nya yang harus disyukuri. Jika tidak, nikmat tersebut akan diangkat dan pergi meninggalkan pemiliknya.
Manifestasi dari syukur nikmat adalah dengan memanfaatkannya dalam ketaatan dan amal saleh. Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua nikmat yang kebanyakan orang merugi padanya: waktu luang dan kesehatan." (HR Bukhari).
Waktu luang adalah salah satu nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia. Maka kita akan melihat mereka menyia-nyiakannya dan tidak mensyukurinya. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda,
“Gunakanlah lima perkara sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang ajalmu.” (HR Hakim dishahihkan oleh Al Albani).
Allah memberikan kita setiap hari 'modal' waktu kepada semua manusia adalah sama, yaitu 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya.
Dalam waktu 23 tahun beliau telah membuat perubahan besar di Jazirah Arab. Hal ini terjadi lantaran penerapan yang optimal manajemen waktu yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.
Rahasia pertama adalah shalat fardhu sebagai ajang membentuk watak dan tonggak ritme hidup. Umat Islam telah membuat pemilahan waktu dalam sehari dengan jelas. Umat Islam memiliki trik manajemen waktu sehingga aktivitas kita dapat terprogram dengan baik.
Rahasia kedua, berpola pikir investasi, antimanajemen waktu instan. Maksudnya, jangan mengelola waktu dengan instan karena akan membuat kita malas dalam berproses. Persiapkan segala hal untuk masa depan kita sehingga kita dapat memetik hasilnya di kemudian hari.
Rahasia ketiga, terus produktif, jangan biarkan waktu terbuang percuma. Rahasia keempat adalah gunakan aji mumpung selagi ada peluang dan kesempatan.
Rahasia kelima adalah jauhi sikap menunda-nunda. Rahasia keenam adalah cepat tetapi jangan tergesa-gesa. Rahasia terakhir adalah rutin melakukan evaluasi. Ternyata beginilah Rasulullah menggunakan dan mengelola waktu, sungguh menghargai waktu dan tidak pernah menyia-nyiakannya dengan hal yang tak bermanfaat.
MEMANFAATKAN WAKTU SECARA OPTIMAL
Waktu merupakan sarana untuk melakukan dan menyelesaikan banyak hal. Dalam Al-Qur’an waktu benar-benar dimuliakan sampai-sampai banyak sumpah atas nama waktu. Misalnya “Demi waktu” dalam QS Al-Ashr, “Demi waktu saat matahari naik sepenggalah” dalam QS Adh-Dhuhaa. Setiap orang harus bisa menghargai waktu. Waktu adalah modal bagi seorang hamba sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali.
Waktu harus digunakan sebaik-baiknya. Jika tidak, maka akan menyesal di kemudian hari. Penyesalan memang tidak datang di awal namun di akhir. Sehingga kebanyakan manusia lalai terhadap waktu. Banyak waktu yang terbuang sia-sia. Banyak orang berkata” andaikan aku punya banyak waktu lebih pasti aku bisa menyelesaikan tugas ini”. Statement tersebut sebagai bentuk bahwa orang tersebut tidak menghargai waktu yang dimiliki. Ketika ada waktu luang mereka lebih suka berleha-leha.
Sedangkan ketika waktu mendesak dia bilang tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan hal tersebut. Setiap orang dibekali waktu 24 jam dalam sehari. Namun ada yang mengoptimalkan waktu tersebut dan ada orang yang merugi karena waktunya hanya digunakan untuk main-main, berbicara yang tidak perlu, tidur-tiduran, dan bermalas-malasan. Buku ini memberikan panduan agar pembaca tidak termasuk orang yang merugi lantaran tidak bias mengatur waktu dengan baik.
Satu di antara karakteristik waktu adalah, cepat berlalu,
"Dan (ingatlah) akan hari (yang waktu itu) Allah mengumpulkan mereka (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia) melainkan sesaat saja di siang hari (yang waktu itu) mereka saling berkenalan” (QS Yunus: 45).
Waktu bergulir dengan cepatnya, sekarang kita masih kuliah tiba-tiba kita sudah bekerja, kemudian menikah, dan sudah menjadi kakek-nenek. Waktu ibarat anak panah yang melesat dengan cepatnya. Waktu yang lewat tak pernah kembali. Banyak orang berpikir bahwa ketika kita melakukan kesalahan di usia muda, akan bertaubat jika usianya sudah tua. Dia optimis masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di usia tua. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak ada seorang pun yang tahu sampai kapan ia hidup.
Waktu adalah harta yang sangat mahal. Waktu lebih mahal dari uang. Hasan Al-Banna mengatakan suatu nasihat bahwa “waktu adalah kehidupan”. Jangan sampai usia kita hanya kita manfaatkan untuk tidur dan bermalas-malasan. Lakukan aktivitas positif untuk menghargai waktu. Kita diberi waktu sama tapi pemanfaatan terhadap waktu seseorang berbeda.
Summary : Membongkar Rahasia 7 Manajemen Waktu Nabi Muhammad
jumrahonline | jumrah.com
Dalam Al-Qur’an, Allah telah menempatkan waktu pada posisi yang sangat tinggi.
"Dan mereka berkata” kehidupan ini tidak lain saat kita berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali dahr (perjalanan waktu yang dilalui oleh alam)." (QS Al-Jaatsiyah: 24).
Alquran dan sunah sangat perhatian terhadap waktu dari berbagai sisi dan dengan gambaran yang bermacam-macam. Allah SWT telah bersumpah dengan waktu-waktu tertentu dalam beberapa surah Alquran, seperti al-Lail (waktu malam), an-Nahar (waktu siang), al-Fajr (waktu fajar), adh-Dhuha (waktu matahari sepenggalahan naik), al-‘Ashr (masa).
Sebagaimana firman Allah (QS al-Lail 92: 1-2; QS al-Fajr 89: 1-2; QS adh-Dhuha 93: 1-2; QS al-‘Ashr 103: 1-2). Ketika Allah SWT bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka hal itu menunjukkan urgensi dan keagungan hal tersebut. Dan agar manusia mengalihkan perhatian mereka kepadanya sekaligus mengingatkan akan manfaatnya yang besar.
Rasulullah SAW pun telah mengabarkan bahwasanya waktu adalah salah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah kepada hamba-Nya yang harus disyukuri. Jika tidak, nikmat tersebut akan diangkat dan pergi meninggalkan pemiliknya.
Manifestasi dari syukur nikmat adalah dengan memanfaatkannya dalam ketaatan dan amal saleh. Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua nikmat yang kebanyakan orang merugi padanya: waktu luang dan kesehatan." (HR Bukhari).
Waktu luang adalah salah satu nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia. Maka kita akan melihat mereka menyia-nyiakannya dan tidak mensyukurinya. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda,
“Gunakanlah lima perkara sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang ajalmu.” (HR Hakim dishahihkan oleh Al Albani).
Allah memberikan kita setiap hari 'modal' waktu kepada semua manusia adalah sama, yaitu 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya.
Dalam waktu 23 tahun beliau telah membuat perubahan besar di Jazirah Arab. Hal ini terjadi lantaran penerapan yang optimal manajemen waktu yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.
Rahasia pertama adalah shalat fardhu sebagai ajang membentuk watak dan tonggak ritme hidup. Umat Islam telah membuat pemilahan waktu dalam sehari dengan jelas. Umat Islam memiliki trik manajemen waktu sehingga aktivitas kita dapat terprogram dengan baik.
Rahasia kedua, berpola pikir investasi, antimanajemen waktu instan. Maksudnya, jangan mengelola waktu dengan instan karena akan membuat kita malas dalam berproses. Persiapkan segala hal untuk masa depan kita sehingga kita dapat memetik hasilnya di kemudian hari.
Rahasia ketiga, terus produktif, jangan biarkan waktu terbuang percuma. Rahasia keempat adalah gunakan aji mumpung selagi ada peluang dan kesempatan.
Rahasia kelima adalah jauhi sikap menunda-nunda. Rahasia keenam adalah cepat tetapi jangan tergesa-gesa. Rahasia terakhir adalah rutin melakukan evaluasi. Ternyata beginilah Rasulullah menggunakan dan mengelola waktu, sungguh menghargai waktu dan tidak pernah menyia-nyiakannya dengan hal yang tak bermanfaat.
MEMANFAATKAN WAKTU SECARA OPTIMAL
Waktu merupakan sarana untuk melakukan dan menyelesaikan banyak hal. Dalam Al-Qur’an waktu benar-benar dimuliakan sampai-sampai banyak sumpah atas nama waktu. Misalnya “Demi waktu” dalam QS Al-Ashr, “Demi waktu saat matahari naik sepenggalah” dalam QS Adh-Dhuhaa. Setiap orang harus bisa menghargai waktu. Waktu adalah modal bagi seorang hamba sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali.
Waktu harus digunakan sebaik-baiknya. Jika tidak, maka akan menyesal di kemudian hari. Penyesalan memang tidak datang di awal namun di akhir. Sehingga kebanyakan manusia lalai terhadap waktu. Banyak waktu yang terbuang sia-sia. Banyak orang berkata” andaikan aku punya banyak waktu lebih pasti aku bisa menyelesaikan tugas ini”. Statement tersebut sebagai bentuk bahwa orang tersebut tidak menghargai waktu yang dimiliki. Ketika ada waktu luang mereka lebih suka berleha-leha.
Sedangkan ketika waktu mendesak dia bilang tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan hal tersebut. Setiap orang dibekali waktu 24 jam dalam sehari. Namun ada yang mengoptimalkan waktu tersebut dan ada orang yang merugi karena waktunya hanya digunakan untuk main-main, berbicara yang tidak perlu, tidur-tiduran, dan bermalas-malasan. Buku ini memberikan panduan agar pembaca tidak termasuk orang yang merugi lantaran tidak bias mengatur waktu dengan baik.
Satu di antara karakteristik waktu adalah, cepat berlalu,
"Dan (ingatlah) akan hari (yang waktu itu) Allah mengumpulkan mereka (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia) melainkan sesaat saja di siang hari (yang waktu itu) mereka saling berkenalan” (QS Yunus: 45).
Waktu bergulir dengan cepatnya, sekarang kita masih kuliah tiba-tiba kita sudah bekerja, kemudian menikah, dan sudah menjadi kakek-nenek. Waktu ibarat anak panah yang melesat dengan cepatnya. Waktu yang lewat tak pernah kembali. Banyak orang berpikir bahwa ketika kita melakukan kesalahan di usia muda, akan bertaubat jika usianya sudah tua. Dia optimis masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di usia tua. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak ada seorang pun yang tahu sampai kapan ia hidup.
Waktu adalah harta yang sangat mahal. Waktu lebih mahal dari uang. Hasan Al-Banna mengatakan suatu nasihat bahwa “waktu adalah kehidupan”. Jangan sampai usia kita hanya kita manfaatkan untuk tidur dan bermalas-malasan. Lakukan aktivitas positif untuk menghargai waktu. Kita diberi waktu sama tapi pemanfaatan terhadap waktu seseorang berbeda.
Summary : Membongkar Rahasia 7 Manajemen Waktu Nabi Muhammad
jumrahonline | jumrah.com
Langganan:
Postingan (Atom)




















