Ini Tips Berziarah ke Makam Rasulullah SAW

Ini Tips Berziarah ke Makam Rasulullah SAW
Bersujud di Raudhah atau Taman Surga adalah impian bagi hampir setiap umat Muslim yang berkunjung ke Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi. Apalagi bagi para "newbie" atau pendatang baru.

Raudhah adalah sebuah ruangan yang terletak di antara mimbar Masjid Nabawi dengan makam (dahulu kamar tidur) Rasulullah Muhammad SAW. Sang Nabi sendiri yang menyebut ruangan seluas 22x15 meter itu sebagai taman surga dan meminta umatnya untuk berdoa sebanyak-banyaknya di tempat itu.

Kabarnya, laiknya berdoa di Multazam atau lokasi antara Hajar Aswad dan Pintu Kabah di Kabah, Makkah, di Raudhah semua doa yang tulus akan dikabulkan. "Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman syurga." (HR. Al Bukhari & Muslim).

Selain untuk berdoa, bagi umat Islam era kini, Raudhah adalah jarak terdekat yang dapat dicapai untuk bersanding secara fisik dengan Sang Nabi karena tepat di balik bangunan persegi empat berwarna hijau dengan kaligrafi emas yang terletak di sebelah kiri saat mereka bersujud di Raudhah itulah makam Nabi Muhammad SAW.

Dahulu rumah Nabi Muhammad SAW dan Siti Aisyah terletak di luar kompleks Masjid Nabawi, namun karena perluasan area masjid kini rumah tersebut berada di dalam kawasan Masjid Nabawi di Madinah. Untuk mencari posisi Raudhah di area Madjid Nabawi yang terus diperluas hingga kini dapat menampung hingga satu juta jamaah tersebut tidak sesulit yang dibayangkan.

Dari pelataran masjid yang dihiasi kanopi-kanopi berbentuk payung raksasa karya arsitek Jerman Mahmoud Bodo Rasch, kawasan Raudhah dapat dicirikan dari kubah berwarna hijau. Cukup berdiri di sisi terluar pelataran untuk dapat melihat seluruh warna kubah di Masjid Nabawi, tepat di bawah kubah berwarna hijau yang terletak di samping kubah perak lokasi imam itulah lokasi taman surga.

Bagi jamaah laki-laki, pintu terdekat untuk mencapai Raudhah adalah melalui gerbang Babus Salam atau gerbang Jibril yang memang dikhususkan bagi peziarah. Sementara untuk jamaah perempuan masuklah melalui pintu Ali bin Abu Thalib atau pintu nomor 25-29.

Dari dalam masjid, kawasan Raudhah ditandai karpet berwarna hijau. Sementara seluruh bagian masjid yang lain dilapisi karpet berwarna merah. Jadi ketika kaki belum menjejak karpet berwarna hijau, maka belumlah tiba di taman surga.

Selain karpet hijau, arsitektur bagian dalam Masjid Nabawi di sekitar Raudhah juga tampak berbeda dari bagian masjid yang lain. Langit-langit Raudhah dihisasi fresco bergambar jalinan bunga berwarna merah, hijau dan biru dalam latar putih serta kaligrafi sementara itu tiang-tiangnya tidak berwarna putih dan abu-abu dengan hiasan emas seperti bagian masjid yang lain melainkan berwarna merah jambu dengan hiasan emas dan kayu.

Dimana Tempat Makanan Sehat dan Murah di Mekkah?

Dimana Tempat Makanan Sehat dan Murah di Mekkah?
Di tanah suci, tidak semua tempat atau kota disediakan makanannya oleh panitia haji Indonesia. Di Mekkah misalnya, jamaah harus mengurusi makan sendiri. Mulai mencari dan memilih makan sesukanya.

Memang, mengurus makan sendiri di tanah suci tidak serta dilepas begitu saja oleh panitia haji. Makanan yang disediakan berlangsung pada di masa 'orientasi' haji, kurang lebih 8-9 hari di Madinah. Namun di Mekkah, jemaah haji bisa 'terjun bebas', yaitu cari makan sendiri. Mereka dibekali uang saku oleh panitia sekitar 1.500 riyal. Jumlah ini merupakan uang living cost atau uang biaya hidup per jamaah yang diberikan panitia.

Ada beberapa cerita dari jamaah yang mengalami kesulitan mencari makanan atau minuman dalam beradaptasi langsung dengan situasi Mekkah. Apalagi bagi jamaah yang tinggal di pondokan yang jauh serta dilarang memasak oleh pemilik pondokan.

Sulit membayangkan para jamaah yang lugu dari kampung harus "berkelahi" mencari makan sendiri di belantara kota metropolitan seperti Mekkah yang teramat padat pada musim haji setiap tahunnya.

Mekkah adalah kota besar yang memiliki banyak fasilitas, terutama di musim haji yang memang merupakan masa panen bagi para pedagang. Banyak sekali tempat makan dimana jamaah haji bisa mendapatkan konsumsi yang sehat dan ekonomis.

Secara umum ada lima kelompok tempat jamaah mencari makanan dan minuman.
Pertama, para pedagang makanan Indonesia yang menjajakkan dagangannya di sekitar terminal bis dan pondokan haji Indonesia. 


Kedua, ada kios-kios makanan kecil India yang tersebar di seantero Mekkah di setiap sudut kota Mekkah. Ketiga, supermarket yang menyediakan makanan berbungkus (roti, biskuit, mie instan, sayuran mentah, bermacam minuman. Keempat, restoran Indonesia, Turki, dan India. Kelima, restoran fast food di food court mal besar seperti Hilton dan Zam-Zam.

Nah yang pertama itu adalah yang paling populer di kalangan jamaah haji Indonesia. Para pedagang asal Madura, Banjar, Jawa ini berstatus pedagang jalanan yang menghamparkan jualannya di trotoar jalan. Tidak ada beda dengan pedagang kaki lima di kota-kota di Indonesia. 


Yang disediakan adalah berbagai makanan Indonesia dalam bungkusan atau juga berdasarkan pesanan. Ada nasi putih, sayur masak, lauk pauk, krupuk/snack. Rata-rata harga per porsinya adalah 1-2 riyal (1 riyal = Rp 3000-an). Kalau pun mau makan sayur asem? Sayur bayam? Sate kambing atau ayam? Sambel goreng ikan teri? Semua pasti ada.

Harga makanan dan minuma cukup ekonomis


Para pedagang kaki lima itu biasanya berjualan sejak pagi setelah subuh hingga siang hari. Lalu muncul lagi sore menjelang maghrib. Ada sebagian jamaah yang sudah tahu pilihan utama untuk urusan makanan. Sekali makan, dengan nasi putih seharga 2 riyal, sayur 1 riyal, ayam/daging/telur 2 riyal, mereka bilang sudah merasa sangat cukup. Tiap hari juga bisa ganti menu. Kalau mau, bisa tambah krupuk atau bubur kacang ijo panas seharga 1 riyal. Rata-rata menghabiskan 5 riyal per sekali makan atau sekitar Rp 15.000,- an.

Berbagai kios makanan yang biasanya menyediakan makanan ala Arab atau India. Ini juga pilihan yang baik. Menurut mereka yang pernah merasakan berbagai macam aneka menu masakan yang paling pas dengan lidah kita adalah kebab, roti Arab ala hotdog yang berisi oseng-oseng sayur dan daging sapi/ayam. Harganya sekitar 3-4 riyal per unit. Biasanya ditandai dengan adanya panggangan kebab bundar yang dipajang di depan kios.

Kebab adalah makanan yang populer dan sudah cukup untuk sarapan atau bahkan makan siang. Tapi banyak jamaah Indonesia yang kurang cocok. Sebab bagi mereka, belum disebut makan kalau belum makan nasi.

Di kios-kios yang tidak menyediakan meja untuk makan pembeli ini juga tersedia berbagai menu prasmanan. Dan itu bisa dibeli dan dimasukkan ke dalam kotak nasi styroform besar. Pesan nasi briyani atau kebuli, gulai kambing atau yang lain, tarif umumnya berkisar 5-10 riyal gabungan semuanya. Banyak sekali pilihannya yang dijamin menggoyang lidah jamaah Indonesia. Apalagi di Indonesia jenis makanan ini tergolong mewah.

Aneka minuman tersedia komplet. Seperti minuman bersoda dengan berbagai merek populer. Biaanya, harganya 1 riyal per kaleng. Bisa juga memilih minuman 'cai', teh susu panas ala Arab yang bergizi. Harganya 2 riyal per gelas. Kalau air putih? 


Zam zam, ini tentu saja free. Tetapi kita harus 'menimba' sendiri di Masjidil Haram, kita tinggal memasukkan botol dan membawa sendiri secukupnya. Nah, rata-rata semua toko, bahkan kios-kios kecil telah menyediakannya dalam bentuk kemasan, mirip kemasan air mineral di tanah air.

Kios-kios kecil itu tersebar di banyak lokasi di sekitar Masjidil Haram di berbagai arah. Sangat mudah menemukan kios kecil ini, dan rata-rata penjualnya bisa berbahasa Indonesia. Jadi tak usah khawatir kelaparan selama Anda menunaikan ibadah haji di tanah suci.


jumrahonline | jumrah.com


Haruskah 'selfie' jadi tradisi kita, di Tanah Suci?

Haruskah Selfi Jadi Tradisi Kita di Tanah Suci?
Umat Muslim sedunia telah berupaya keras, setidaknya sekali dalam hidup untuk pergi berziarah ke tanah suci semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah Ta'ala.
 
Haji atau pun Umrah adalah perjalanan spiritual ke Bayt Allah di Mekkah, kota kudus dimana Allah memberikan banyak sekali kemuliaan kepada para jamaah yang beribadah disana.

Sungguh menjadi kebiasaan yang harusnya tidak kita lakukan sebagaimana pernah terjadi sebelumnya, melakukan selfie (memotret diri) di tempat dan suasana yang seharusnya dipenuhi do'a do'a.

Beberapa tahun yang lalu, para jamaah haji dilarang membawa telepon genggamnya bersama mereka kala menunaikan serangkaian ibadah suci ini. Tapi beberapa kali situasi darurat yang terjadi bahkan membawa korban yang menewaskan sebagian dari para jamaah telah memaksa pemimpin spiritual melonggarkan aturan tersebut.


Media lokal merekam beberapa kejadian aktivitas selfi yang dilakukan para jamaah dan surat kabar Arab News membahasnya dengan pemuka agama, beberapa dari mereka mengatakan bahwa jamaah harus segera menghentikan itu (selfie). 


Mereka mengatakan bahwa peziarah mendokumentasikan setiap langkah mereka di sela rangkaian pelaksanaan ibadah. Melakukan selfie yang cenderung mengganggu niat dan kemampuan mereka dalam membangun hubungan spiritual yang sejati. 

Erwin E Ananto | jumrahonline | jumrah.com
  

Mengurus Visa Umrah, Tidak Sulit

Mengurus Visa Umrah, Tidak Sulit
Mengurus Visa Umrah sangat mudah jika kita mengetahui cara dan Persyaratan Visa Umrah tersebut. Jadi sebenarnya anggapan para calon jamaah Umrah mengenai sulitanya dalam mengurus Visa perjalanan ibadah umrah itu kurang pas. Memang faktanya Visa umrah berbeda dengan visa regular, karena penggunaannya juga berbeda. (Baca : Daftar Travel Haji dan Umrah)

Visa umrah hanya berlaku selama 30 hari. Ini tidak berarti bahwa Anda dapat tinggal di Arab Saudi selama 30 hari. Dalam jangka waktu 30 hari tersebut, Anda akan melakukan umrah, jadi pastikan keberangkatan/ kepulangan Anda dari Arab Saudi dalam waktu dua minggu sejak tanggal masuk.


Visa untuk umrah di bulan Ramadan tidak boleh melebihi hari terakhir bulan Ramadan. Jadi Anda harus meninggalkan Arab Saudi pada akhir bulan Ramadan dan tidak dapat merayakan Idul Fitri di tanah suci tersebut.

Mengenai Persyaratan dalam mengurus Visa Umrah hanya sedikit berbeda dengan Visa Reguler. Berikut Persyaratan Visa umrah yang harus diketahui oleh Calon jamaah Umrah Plus dan Umrah Reguler:

1) Paspor asli (masa berlaku min. 6 bulan) dengan nama minimal 3 kata. Contoh: Muhammad Asa’dullah al-Wahid, Salimatus Saadah Binti Rasyid, dsb.
2) Pas photo berwarna 4×6 sebanyak 6 lembar (Beground putih, bagian wajah tampak 80%).
3) Kartu keluarga (KK) bagi yang membawa putra/ putrinya (asli).
4) Surat nikah bagi suami/istri (asli).
5) Foto kopi KTP, Akte kelahiran anak bagi yang mengikut sertakan putra/putrinya (asli).
6) Untuk Jamaah Wanita yang berusia dibawah 45 tahun wajib untuk didampingi suami (mahram) nya, jika tidak maka harus melengkapi dengan surat Mahram.
7) Untuk Jamaah Wanita yang berusia 45 tahun/ lebih, tidak diwajibkan untuk didampingi suami/mahramnya (Hanya menyertakan KTP ASLI).
8) Dokumen selambat-lambatnya diterima 3 Minggu sebelum keberangkatan.

Persyaratan pengurusan visa umrah ini sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan kebijakan kedutaan Kerajaan Saudi Arabia yang ada di Jakarta. Di lain tempat ada persyaratan yang lebih kompleks lagi, diantaranya:

Penting:

1) Bila seseorang memiliki nama non-Muslim, ia harus menyerahkan sertifikat dari masjid atau pusat Islam yang menyatakan bahwa pemohon adalah seorang Muslim.
2) Foto paspor berwarna terbaru 4×6= 3 lembar dan 3×4= 3 lembar.
3) Paspor harus masih berlaku minimal selama 6 bulan sejak tanggal penyerahan formulir aplikasi.
4) Tiket penerbangan yang telah dikonfirmasi dan tidak dapat dikembalikan.
5) Berangkat dari Arab Saudi harus dalam waktu dua minggu dari tanggal masuk.
6) Perempuan dan anak-anak harus disertai oleh suami/ayah atau saudara laki-laki (Mahram). Bukti hubungan yang dibutuhkan (sertifikat pernikahan untuk seorang istri, akta kelahiran untuk anak yang menunjukkan nama kedua orang tua).
7) Mahram harus menyertai dari sejak berangkat hingga datang/ pulang dari Arab Saudi dan ada dalam penerbangan yang sama bersama istri dan anak-anaknya.
8) Bila seorang wanita 45 tahun atau lebih tua, dia diperbolehkan pergi tanpa mahram bila ia bepergian dengan kelompok yang terorganisir atau keluarga dan mengajukan diaktakan Tidak Keberatan Sertifikat dari Mahram.

Bila pemohon bukan warga negara dari negara asalnya, maka izin tinggal yang sah harus diserahkan.Sertifikat vaksinasi terhadap Meningitis meningokokus wajib dilampirkan. Sertifikat vaksinasi seharusnya dikeluarkan tidak lebih dari tiga tahun dan tidak kurang dari 10 hari sebelum masuk ke Arab Saudi dan itu harus berlaku selama tiga tahun. 


Sertifikat vaksinasi harus dibawa ketika berangkat ke arab saudi oleh pemohon sendiri, atau jika tidak, para jamaah bisa menyerahkan kepada biro agar diuruskan segala sesuatunya.
jumrahonline 
<a href="http://www.bloglovin.com/blog/14509551/?claim=jarkhz6e64w">Follow my blog with Bloglovin</a>

Peralatan Kecil yang Punya Arti Besar

Peralatan Kecil yang Punya Arti Besar
Tidak sedikit jamaah haji yang membawa handphone, kamera foto digital hingga handycam yang perlu disetrum atau di charge power nya. Jumlah tusukan atau colokan untuk menyetrum di hotel dan pemondokan terbatas dan belum tentu cocok.

Semuanya ingin men-charge powernya dalam waktu yang relatip lama. Rata-rata sekitar 1 sampai 3 jam. Untuk mengatasinya, sebaiknya setiap calon haji sudah mempersiapkan diri dari tanah air, minimal membawa colokan listrik “leter T” dan Colokan listrik “Kaki Tiga”.


Siapa tahu colokan listrik yang tersedia di situ hanya bisa dipakai dengan colokan listrik kaki tiga. Sehingga kita sudah siap. Harganya pun tidak mahal dan colokan tersebut sebaiknya dimasukkan ke dalam tas tentengan jamaah yang bisa dibawa ke dalam kabin pesawat. Serta bisa dibawa ke kemah di Arafah dan Mina. Di situ pun kita perlu menyetrum telepon
seluler maupun kamera digital dan Video. Tempat menyetrum, ada kalanya di luar tenda yaiutu didekat lampu taman. Di situ ada colokan listriknya dan sudah dipakai oleh belasan charger HP.

Ba
walah Memori Card
Obyek menarik yang perlu difoto melimpah. Sehingga tidak sedikit kamera foto digital maupun handycam yang memori atau penyimpan gambarnya menjadi full. Tidak bisa dipakai untuk memotret atau merekam gambar. Jalan keluarnya yang paling praktis yaitu membawa memori cadangan yang memadai dari tanah air. apa lagi kalau dibelinya ditempat penjual kamera kita tersebut. Sehingga pasti pas dan cocok. Kita pun bisa minta diajari cara memasangnya.

Harga memori card di tanah air relatif lebih murah dibandingkan di Arab Saudi. Semua kamera dan memori cadangan tersebut dimasukkan ke dalam tas kecil atau tas gantung penyimpan paspor. Atau bisa juga menggunakan tas kamera.

Walaupun tas yang terkhir ini sering menjadi masalah, karena diang-gap bukan tas resmi haji yang disediakan oleh Garuda. Buat mereka yang masih memilik handycam analog dengan media penyimpan rekamannya beru-pa kaset video. maka mereka bisa dibilang lebih asyik.

Cukup menyiapkan diri dengan sejumlah kaset rekaman yang harganya mungkin alat foto atau kaset rekaman kita disita. Hal kecil lainnya yang tak kalah menarik yaitu menyiapkan ‘Karet Gelang’ dalam jumlah yang cukup. Pertama untuk aneka keperluan. Dan yang kedua ini cukup unik.

Sejumlah jamaah melengkapi diri dengan karet gelang di tangan kanan atau kiri mereka sebanyak 7 (tujuh) karet gelang sewaktu Thawab dan Syai yaitu untuk menghitung putaran. Setiap satu putaran dicapai, gelang karet yang ada di tangan kanan, kita pindah ke tangan kiri atau sebaliknya sebagai tanda jumlah putaran. Sehingga tak perlu repot menghitung jumlah putaran yang sudah kita lakukan.
jumrahonline


Petunjuk Beribadah di Masjid Nabawi

Tips Beribadah di Masjid Nabawi
Banyaknya jamaah yang datang untuk berhaji membuat semuanya berjalan berdesakan. Ini salah satu alasan kita bisa kesasar ke lokasi yang tidak kita ketahui. Tidak gampang bagi kita untuk kembali ke lokasi kita semula atau yang kita tuju, apa lagi jika kita tak menguasai bahasa Arab.

Untuk itu sebelum berada disana, tentu kita perlu memahami lebih dahulu bahasa Arab secukupnya. Minimal kosa-kata keseharian, baik dalam bahasa Amiyyah (bahasa pasaran) atau bahasa Arab Fusha (bahasa Qur'an dan resmi). Kebanyakan petugas memakai bahasa pasaran yang lebih mudah kita pelajari. Namun jika itu pun masih sulit, kita bisa memakai bahasa Inggris.

Ruang dalam Masjid NabawiDi Masjid Nabawi, yang harus kita ingat adalah arah dari mana kita masuk. Bila kita masuk dari arah selatan/belakang masjid dari Baqi’, Aswaq al Haram (arah Imam, makam Rasulullah), maka bila kita ingin keluar dari masjid, cukup berjalan menuju ke depan.

Apabila sebelumnya kita berada di Raudhah (taman), maka kita cukup menuju ke arah pintu Baqi’, sekaligus mengucapkan salam kepada Rasulullah.

Bila kita masuk dari arah depan masjid (utara), maka keluarnya cukup berbalik arah menuju ke arah utara yakni pintu masuk semula.

Di Toilet
Sebaiknya kita selalu menjaga ketertiban, harus mengantri dan tetap waspada. Perhatikan cara mem-buka atau menutup keran, keran disana bentuknya berbeda dengan bentuk keran yang ada di tanah air.

Tentu saja kita jangan sampai meletakkan barang berharga, saat berada di toilet. Simpanlah di kantung celana, baju atau di dalam tas. Yang juga perlu kita perhatikan adalah percikan air kotor (najis) yang bisa mengenai pakaian yang kita kenakan.

Tempat Berwudlu Pria Masjid NabawiTempat Berwudlu
Untuk berwudlu disediakan tempat untuk duduk, tentunya kita harus membiasakan diri dengan tempat wudlu ini. Aturlah keran air sehemat mungkin, karena air yang keluar sangat deras, sehingga bisa cipratannya bisa mengenai kita atau jamaah lain. Pastikan kita telah memahami fiqh berwudlu.

Adab dan Tip di Masjid Nabawi
Apabila kita telah sampai di Masjid Nabawi, masuklah dengan mendahulukan kaki kanan, seraya membaca :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ،

Kita lanjutkan dengan shalawat Nabi dan berdoa memohon kepada Allah agar membukakan pintu rahmat-Nya untuk kita, berikut bacaan do'anya:

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . اللهمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

"Aku berlindung kepada Allâh yang Maha Agung kepada wajah-Nya yang Maha Mulia, dan kepada kekuasaan-Nya Yang Maha Dahulu (qadim), dari godaan setan yang terkutuk. Ya Allâh, bukakanlah bagiku segala pintu rahmat-Mu".

Do'a ini juga dianjurkan untuk dibaca setiap masuk ke masjid-masjid lainnya.

Setelah berada di dalam Masjid Nabawi, kita segera melakukan shalat tahiyatul masjid. Lebih afdhal, bila shalat ini dilakukan di Raudhah. Namun jika tidak mungkin, bisa di tempat lain di dalam masjid. Kemudian kita berjalan menuju makam Rasulullah dan mengucapkan dengan sopan:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
"Semoga salam sejahtera, rahmat Allah dan berkah-Nya terlimpah kepadamu wahai Nabi (Muhammad)"

اَللَّهُمَّ آتِهِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُوْدَ الَّذِي وَعَدْتَهُ، اللَّهُمَّ أَجْزِهِ عَنْ أُمَّتِهِ أَفْضَلَ الْجَزَاءِ

“Ya Allah, berilah beliau kedudukan tinggi di sorga serta kemuliaan, dan bangkitkanlah beliau di tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya. Ya Allâh, limpahkan kepadanya sebaik-baik pahala, beliau yang telah menyampaikan risalah kepada umatnya.“

Selanjutnya kita beranjak sedikit ke sebelah kanan, mengambil posisi berhadapan dengan makam Abu Bakar RA, dan mengucapkan salam kepadanya. Kemudian kita berdo memohonkan ampunan dan rahmat Allah untuknya.

Setelah selesai, kita bergeser lagi sedikit ke sebelah kiri, berada di hadapan makam Umar RA, juga mengucapkan salam kepadanya. Kemudian kita berdo memohonkan ampunan dan rahmat Allah untuknya.

Shalat di Masjid Nabawi
Bila kita akan melalaksanakan shalat Subuh, kita perlu mengenakan pakaian hangat apalagi ketika musim dingin. Kita sebaiknya datang sebelum adzan pertama yakni pukul 03:30 waktu setempat.

Untuk memasuki Raudlatul Jannah, datanglah lebih awal ke Masjid Nabawi, saat sebelum adzan pertama shalat Fajar atau shalat Shubuh. Namun kita perlu mengamati situasi disana, untuk mendapatkan celah masuk dan duduk di Raudlah.

Bila situasi disana padat, yakni saat shalat fardlu, Kita dapat mencoba lagi sesudah shalat fardlu dengan cara mengikuti jamaah lain yang menuju ke Raudlah dan pastikan kita mengerti dimana batas-batas Raudlah. Biasanya, setelah shalat fardlu, banyak jamaah yang keluar menuju ke arah depan kemudian ke kiri menuju Makam Rasulullah (pintu Baqi’).

Pada saat itu, kita bisa mengambil tempat yang ditinggalkan oleh para jamaah sebelumnya. Perlu kita ingat, kita harus yakin dengan memohon kepada Allah SWT agar dapat shalat di area Raudlah, Insya Allah dapat terkabul.

Atau, kita perlu memahami sunahullah. Jadi setelah selesai melaksanakan shalat, berdzikir dan berdoa di Raudlah, ketika akan meninggalkan tempat, maka kita panggil dan mempersilahkan jamaah lain untuk menempati tempat kita tersebut. Insya Allah di saat yang lain, kita akan diperlakukan jamaah lain sama seperti yang telah kita lakukan.

Jangan sampai kita lupa untuk menjalin silaturahim di dengan jamaah lainnya baik sebelah kiri, kanan dan depan kita. Ini penting untuk menghindari desak-desakan atau saling menyerobot.
Tulisan: Gus Arifin, Editor: Erwin E Ananto

jumrahonlinemagazine, Edisi 3 2015

Kiat Haji Mabrur ala KH Hasyim Muzadi

Dalam waktu dekat, musim berhaji akan tiba, dan setiap muslim pasti ingin menunaikan rukun Islam ke-5 tersebut. Tahun ini ada 168.000 jamaah dari Indonesia akan berangkat ke tanah suci di Arab Saudi.

Namun, seperti yang dikemukan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam (Malang, Jawa Timur), KH Hasyim Muzadi, tidak semua yang berangkat ke tanah suci bisa mendapatkan hikmah dan berkah berhaji.


"Haji adalah gabungan dari masalah hubungan kita kepada Allah dan hubungan kita kepada manusia,” katanya di hadapan 806 calon petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Tahun 2015 di Jakarta, pekan ini.

Menurut kyai yang mengenyam pendidikan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Malang itu, untuk merasakan kenikmatan beribadah di tanah suci dan menunaikan ibadah haji, serta kembali ke tanah air menjadi haji yang mabrur tidaklah mudah.

Untuk itu, diperlukan persiapan tidak hanya fisik, mental, tapi juga amalan yang dilakukan sebelum, selama di tanah suci, dan pasca berhaji. “Tata hati kita sebelum berhaji,” ujar mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU) itu mengungkapkan kiat mendapatkan haji yang mabrur.

Menurut dia, penataan hati dalam menyambut ibadah terbesar dalam rukun Islam itu sangat penting agar ibadah di tanah suci terasa dalam kejiwaan.

"Jadi orang yang mau berhaji harus mulai ancang-ancang lengkapi sholatnya, laksanakan kewajiban terhadap Allah, perbaiki hubungan antarmanusia, dan perbanyak sunah," katanya.

Hasyim Muzadi yang juga pernah menjadi Amirul Hajj mengatakan orang-orang yang berproses menuju Allah itu akan digampangkan urusannya. Selain itu, mereka yang berhaji hendaknya mengikuti manasik agar paham rukun haji dan hukum agama. Ia menyebutnya penataan dan pelaksanaan hukum haji.

"Kalau kita tidak mengerti (hukum haji) sengsara," kata kyai kelahiran Bangilan, Tuban, Jawa Timur, pada 8 Agustus 1944 itu.

Ia memiliki pengalaman ada jamaah yang mubazir ibadahnya, seperti melakukan Sai (berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah) melebihi tujuh putaran.

Kemudian yang tidak kalah penting adalah persiapan peralatan dan perlengkapan haji, agar ibadah berjalan lancar.

.
Kyai juga mengingatkan agar agar rezeki yang dipakai maupun selama berhaji adalah rezeki yang halal.


Menurut dia, kalau uang yang dibawanya haram, rezeki yang diperolehnya dari jalan tidak halal, maka hikmah ibadahnya akan berbeda.

"Tanda kemabruran haji itu adalah peningkatan kualitas keberagamaannya dan sikap sosial kemasyarakatannya," ujar anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu.

jumrahonline